Tekanan Kerja Tinggi Picu Niat Resign Karyawan Ritel, Studi Universitas Lampung Ungkap Peran Stres Psikologis

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Bandar Lampung - Tekanan kerja yang tinggi terbukti meningkatkan keinginan karyawan untuk keluar dari pekerjaan, terutama ketika tekanan tersebut memicu stres psikologis. Temuan ini disampaikan dalam penelitian oleh Zetira Marshanda Putri dan Lis Andriani HR dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Lampung, yang dipublikasikan tahun 2026. Studi ini penting karena menunjukkan bahwa masalah turnover karyawan bukan hanya soal gaji atau peluang karier, tetapi juga kesehatan mental di tempat kerja. 

Penelitian tersebut menyoroti kondisi karyawan ritel modern di Indonesia, khususnya pekerja minimarket. Sektor ini dikenal menyerap tenaga kerja besar, namun juga memiliki tingkat pergantian karyawan yang tinggi. Jam kerja panjang, target operasional ketat, dan tuntutan pelayanan pelanggan membuat pekerjaan ritel sering dikaitkan dengan tekanan kerja yang intens. Dalam jangka panjang, tekanan ini dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis pekerja dan memicu keinginan untuk meninggalkan pekerjaan.

Metode Survei pada Karyawan Ritel

Penelitian dilakukan pada karyawan Alfamart di Kota Bandar Lampung dengan melibatkan 130 responden aktif. Data dikumpulkan melalui kuesioner tertutup menggunakan skala penilaian, kemudian dianalisis menggunakan metode statistik bootstrapping melalui PROCESS Macro di SPSS.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti menguji hubungan langsung maupun tidak langsung antara tiga variabel utama:

  • tuntutan pekerjaan (job demands)
  • tekanan psikologis (psychological distress)
  • niat keluar kerja (turnover intention)

Instrumen penelitian telah diuji validitas dan reliabilitasnya, menunjukkan konsistensi yang sangat baik sehingga hasilnya dinilai kuat secara statistik.

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin penting:

1. Tuntutan pekerjaan berpengaruh langsung pada niat resign
Semakin tinggi tuntutan kerja yang dirasakan karyawan, semakin besar kemungkinan mereka ingin meninggalkan perusahaan.
2. Tuntutan kerja juga meningkatkan stres psikologis
Pekerjaan yang menuntut kecepatan, ketelitian, dan kesiapan emosional tinggi memicu rasa cemas, kelelahan mental, dan tekanan emosional.
3. Stres psikologis menjadi penghubung utama
Penelitian menemukan bahwa tekanan psikologis berperan sebagai variabel mediasi. Artinya, tuntutan kerja tidak hanya mendorong niat keluar secara langsung, tetapi juga melalui peningkatan stres mental.
4. Tingkat stres responden tergolong tinggi
Banyak responden melaporkan sering merasa cemas, terbebani, sulit rileks, bahkan merasa tidak berharga dalam 30 hari terakhir.

Menurut Zetira Marshanda Putri dari Universitas Lampung, hasil ini menunjukkan bahwa masalah turnover bukan hanya persoalan organisasi, tetapi juga persoalan kesejahteraan psikologis pekerja. Ia menekankan bahwa tekanan kerja yang tidak dikelola dengan baik dapat menurunkan motivasi, kepuasan kerja, dan loyalitas karyawan.

Mengapa Temuan Ini Penting

Penelitian ini relevan bagi dunia usaha, terutama industri ritel dan jasa yang mengandalkan interaksi pelanggan intensif. Tingginya turnover karyawan dapat berdampak besar pada perusahaan, antara lain:

  • meningkatnya biaya rekrutmen dan pelatihan
  • terganggunya operasional toko
  • menurunnya kualitas layanan pelanggan
  • hilangnya pengalaman kerja yang berharga

Dengan memahami bahwa tekanan psikologis menjadi faktor kunci, perusahaan dapat mengambil langkah pencegahan yang lebih efektif.

Implikasi bagi Perusahaan dan Kebijakan SDM

Penelitian ini memberi beberapa rekomendasi praktis bagi organisasi:

  • menyesuaikan beban kerja agar lebih realistis
  • memperjelas pembagian tugas dan peran karyawan
  • menyediakan dukungan psikologis atau konseling internal
  • memperkuat program kesejahteraan karyawan

Langkah-langkah tersebut diyakini dapat menurunkan stres psikologis sehingga membantu mengurangi niat keluar kerja.

Bagi pembuat kebijakan ketenagakerjaan, temuan ini menunjukkan pentingnya regulasi yang tidak hanya fokus pada upah dan jam kerja, tetapi juga kondisi psikologis pekerja.

Kontribusi Ilmiah

Studi ini juga mengisi celah penelitian sebelumnya. Banyak riset tentang tekanan kerja dan turnover dilakukan di sektor kesehatan atau di luar Indonesia. Penelitian ini memberikan bukti empiris baru dari sektor ritel Indonesia, sehingga lebih relevan dengan kondisi tenaga kerja lokal.

Selain itu, penggunaan variabel stres psikologis sebagai mediator membantu menjelaskan mekanisme psikologis di balik keputusan karyawan untuk resign.

Profil Penulis Penelitian

Zetira Marshanda Putri
Peneliti di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Lampung. Fokus penelitian pada kesejahteraan kerja, perilaku organisasi, dan manajemen tenaga kerja.

Lis Andriani HR
Dosen Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Lampung, dengan keahlian dalam manajemen organisasi dan strategi sumber daya manusia.

Sumber Penelitian

Putri, Zetira Marshanda & Andriani HR, Lis.
“The Effect of Job Demands on Turnover Intention with Psychological Distress as a Mediating Variable.”
Asian Journal of Applied Business and Management, Vol. 5 No. 1, 2026.

Posting Komentar

0 Komentar