Guru Berperan Penting Membentuk Akhlak Anak Lewat Etika Komunikasi Islam di Madrasah Diniyah
Sebuah penelitian yang ditulis oleh Rosmayani Rambe, M.Pd. dan Icol Dianto, M.Kom.I. dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan mengungkap bahwa cara guru berkomunikasi memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak. Studi yang diterbitkan pada 2026 di International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR) ini menyoroti praktik komunikasi guru dalam menyampaikan dakwah kepada anak-anak di MDTA Al-Hidayah Padang Matinggi serta dampaknya terhadap pembentukan akhlak mulia.
Penelitian ini menjadi penting di tengah arus globalisasi dan budaya komunikasi digital yang kerap memicu penggunaan bahasa kurang santun, bahkan dalam lingkungan pendidikan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat pembentukan karakter sejak usia dini, khususnya di lembaga pendidikan Islam nonformal. Rambe dan Dianto menunjukkan bahwa komunikasi yang lembut, dialogis, dan menghargai anak dapat menjadi fondasi pendidikan moral yang lebih efektif.
Latar Belakang: Krisis Kesantunan dalam Komunikasi Pendidikan
Dalam tradisi Islam, komunikasi tidak hanya dipahami sebagai proses menyampaikan pesan, tetapi juga sebagai praktik moral yang menuntut tanggung jawab etis. Namun, berbagai studi sebelumnya lebih banyak membahas etika komunikasi dakwah secara teoritis atau berfokus pada audiens dewasa dan media digital.
Kekosongan riset empiris tentang bagaimana guru berperan sebagai komunikator dakwah bagi anak mendorong lahirnya penelitian ini. Menurut Rambe, guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi figur teladan yang secara langsung membentuk perilaku melalui pilihan kata, intonasi, dan sikap sehari-hari.
Metodologi: Mengamati Praktik Nyata di Lingkungan Madrasah
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Tim peneliti melakukan observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur dengan guru dan siswa, serta analisis dokumentasi kegiatan pembelajaran.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat secara langsung dinamika komunikasi di kelas—mulai dari cara guru merespons pertanyaan anak hingga strategi menjaga tutur kata agar tetap edukatif dan menghormati perkembangan psikologis siswa.
Temuan Utama Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan etika komunikasi Islam berkontribusi nyata terhadap internalisasi nilai moral pada anak. Beberapa temuan kunci meliputi:
- Penggunaan prinsip Qur’ani dalam komunikasi, seperti qaulan layyina (ucapan lembut), qaulan ma’rufa (ucapan baik), dan qaulan karima (ucapan mulia), menciptakan suasana belajar yang ramah anak.
- Bahasa yang disesuaikan dengan perkembangan kognitif anak membuat pesan dakwah lebih mudah dipahami dan diingat.
- Pendekatan dialogis, seperti diskusi dan tanya jawab, mendorong anak berpikir aktif serta memahami konsekuensi moral dari tindakan mereka.
- Guru sebagai role model terbukti lebih efektif menanamkan nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan saling menghormati.
- Kesalahan anak dijadikan momen pembelajaran, bukan sekadar alasan untuk memberi hukuman.
“Menjaga tutur kata bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga strategi pedagogis yang berdampak langsung pada perilaku anak,” tulis Rambe dan Dianto dalam analisisnya.
Tantangan di Era Digital
Meski praktik komunikasi etis terbukti efektif, guru menghadapi sejumlah hambatan. Paparan media sosial yang sarat ujaran agresif menjadi tantangan utama karena anak dapat meniru pola komunikasi tersebut.
Selain itu, penggunaan bahasa yang terlalu teknis atau ambigu juga berisiko menimbulkan kesalahpahaman. Penelitian ini menyoroti pentingnya literasi digital dan pelatihan komunikasi bagi guru agar mampu menyaring informasi sekaligus menyampaikan pesan secara tepat.
Tekanan waktu, kebutuhan merespons cepat, serta perbedaan karakter siswa turut menguji konsistensi guru dalam menjaga etika komunikasi. Namun, para guru di MDTA Al-Hidayah menunjukkan bahwa pendekatan sabar dan kontekstual dapat membantu mempertahankan kualitas interaksi.
Dampak bagi Pendidikan dan Masyarakat
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa komunikasi guru adalah instrumen transformasi dalam pendidikan karakter. Integrasi antara nilai spiritual, empati, dan bahasa ramah anak terbukti menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif.
Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi:
- Lembaga pendidikan Islam, dalam merancang pola komunikasi berbasis nilai moral.
- Guru dan dai, untuk mengembangkan metode dakwah yang lebih humanis.
- Pembuat kebijakan pendidikan, sebagai dasar penguatan pelatihan komunikasi etis bagi tenaga pendidik.
Dalam konteks Indonesia, penelitian ini juga menunjukkan keunikan integrasi antara etika komunikasi Islam dan budaya lokal yang menjunjung tinggi kesopanan. Pendekatan tersebut menawarkan alternatif bagi model pendidikan modern yang sering menitikberatkan aspek psikologis tanpa fondasi spiritual yang kuat.
Kontribusi Akademik
Secara teoretis, studi ini memperkaya kajian komunikasi Islam dengan bukti empiris bahwa praktik komunikasi guru dapat berfungsi sebagai alat dakwah yang transformatif. Keberhasilan pembentukan karakter tidak hanya bergantung pada materi ajar, tetapi juga pada cara pesan disampaikan.
Penelitian ini menegaskan bahwa dakwah anak membutuhkan sensitivitas etis yang tinggi karena anak berada pada fase imitasi—mudah meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya.
Profil Penulis
Rosmayani Rambe, M.Pd. adalah akademisi dari Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan yang berfokus pada studi komunikasi Islam dan pendidikan karakter.
Icol Dianto, M.Kom.I. merupakan dosen di universitas yang sama dengan keahlian di bidang komunikasi dakwah dan kajian media Islam.
Sumber Penelitian
Rambe, Rosmayani., & Dianto, Icol. “Islamic Communication Manners and Ethics in Delivering Children's Da'wah: A Case Study of Teachers' Communication Practices in Guarding Speech and Shaping Noble Character at MDTA Al-Hidayah Padang Matinggi.” International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR), Vol. 4 No. 1, 2026.
0 Komentar