Penelitian dilakukan di sebuah sekolah menengah di Kota Jayapura, dengan melibatkan guru Bahasa Inggris, siswa, serta staf kurikulum. Hasilnya menunjukkan bahwa asesmen autentik—seperti rubrik kinerja, portofolio proyek, dan presentasi—memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna dibandingkan tes tertulis konvensional. Namun, studi ini juga menyoroti tantangan serius dalam penerapannya, terutama terkait kejelasan indikator penilaian, keterbatasan waktu, dan kesiapan siswa.
Asesmen Tidak Lagi Sekadar Tes Tertulis
Dalam pembelajaran Bahasa Inggris modern, kemampuan siswa tidak cukup diukur melalui pilihan ganda atau isian singkat. Siswa dituntut mampu berkomunikasi, bekerja sama, dan menghasilkan karya yang mencerminkan penggunaan bahasa dalam konteks nyata. Di sinilah project-based learning dan asesmen autentik menjadi relevan.
Menurut Monika Gultom, asesmen autentik memungkinkan guru menilai proses dan hasil belajar secara bersamaan. Siswa tidak hanya dinilai dari jawaban akhir, tetapi juga dari cara mereka merancang proyek, berkolaborasi, dan mempresentasikan hasil kerja dalam Bahasa Inggris.
Penelitian Kualitatif di Konteks Indonesia Timur
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan fokus pada praktik nyata di kelas. Data dikumpulkan melalui observasi pembelajaran, wawancara mendalam, dan analisis dokumen penilaian.
Partisipan penelitian terdiri dari dua guru Bahasa Inggris, delapan siswa, dan dua staf kurikulum. Pendekatan multi-informan ini memberikan gambaran menyeluruh tentang bagaimana asesmen autentik dirancang, diterapkan, dan dirasakan oleh berbagai pihak di sekolah.
Konteks Jayapura dipilih karena wilayah Indonesia Timur masih jarang menjadi lokasi penelitian pendidikan, padahal memiliki karakteristik sosial, budaya, dan sumber daya yang berbeda dibandingkan sekolah di wilayah perkotaan besar.
Guru Gunakan Rubrik, Portofolio, dan Presentasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah menerapkan berbagai bentuk asesmen autentik. Rubrik kinerja digunakan untuk menilai presentasi proyek, portofolio dimanfaatkan untuk melihat perkembangan siswa, dan presentasi akhir menjadi sarana siswa menunjukkan kemampuan berbahasa Inggris secara langsung.
Seorang guru menyatakan bahwa rubrik membantu menjaga objektivitas penilaian, sementara guru lain menilai portofolio efektif untuk memantau proses belajar siswa. Dari sisi siswa, presentasi proyek dipandang sebagai kesempatan mengekspresikan ide, meskipun masih menimbulkan rasa gugup karena harus berbicara dalam Bahasa Inggris.
Indikator Penilaian Masih Kurang Jelas
Meski bentuk asesmen sudah sesuai, penelitian ini menemukan masalah utama pada kejelasan indikator penilaian. Banyak rubrik yang digunakan masih bersifat umum dan belum sepenuhnya dipahami siswa.
Beberapa siswa mengaku tidak mengetahui secara pasti aspek apa yang dinilai tinggi atau rendah. Guru juga mengakui kesulitan menerjemahkan kompetensi dasar menjadi indikator yang spesifik dan terukur, apalagi dengan keterbatasan waktu pembelajaran.
Staf kurikulum menilai kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan literasi asesmen guru, terutama dalam menyusun rubrik analitis yang transparan dan mudah dipahami.
Waktu Terbatas dan Kesiapan Siswa Jadi Tantangan
Selain indikator penilaian, keterbatasan waktu menjadi kendala signifikan. Pembelajaran berbasis proyek membutuhkan waktu panjang, sementara jadwal mata pelajaran terbatas. Akibatnya, guru kesulitan memberikan umpan balik mendalam yang sebenarnya menjadi kunci asesmen autentik.
Dari sisi siswa, kesiapan belajar juga bervariasi. Tidak semua siswa terbiasa belajar mandiri, mencari informasi, dan bekerja kolaboratif dalam Bahasa Inggris. Beberapa siswa mengaku bingung memulai proyek tanpa arahan yang sangat terstruktur.
Peran Sekolah Sangat Menentukan
Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan asesmen autentik tidak hanya bergantung pada guru dan siswa, tetapi juga pada dukungan kebijakan sekolah. Meski sekolah telah mendorong penggunaan asesmen kinerja, dukungan dalam bentuk pelatihan teknis dan pendampingan guru masih terbatas.
Monika Gultom menekankan bahwa asesmen autentik membutuhkan sinergi antara guru, siswa, dan manajemen sekolah agar dapat berjalan konsisten dan efektif.
Dampak bagi Dunia Pendidikan
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia. Asesmen autentik terbukti mendukung pengembangan keterampilan abad ke-21, tetapi memerlukan desain yang lebih jelas, waktu yang realistis, dan dukungan institusional yang kuat.
Bagi pembuat kebijakan dan pengelola sekolah, penelitian ini menjadi pengingat bahwa reformasi asesmen tidak cukup di tingkat kurikulum, tetapi harus diikuti dengan peningkatan kapasitas guru dan kesiapan siswa, terutama di daerah dengan keterbatasan sumber daya.
Profil Penulis
Monika Gultom
Dosen Universitas Cenderawasih, Indonesia
Bidang keahlian: Pendidikan Bahasa Inggris, Asesmen Pembelajaran, dan Project-Based Learning
Sumber Penelitian
Gultom, M. (2026). Analysis of Authentic Assessment Practices in Project-Based English Learning at the Secondary School Level.
Asian Journal of Applied Education, Vol. 5 No. 1, hlm. 149–162.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajae.v5i1.15932
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajae
0 Komentar