Penelitian
tersebut mengulas peran supervisi akademik dalam memperkuat identitas
profesional guru sekolah menengah atas (SMA) yang masih berada pada fase awal
karier di Kota Tangerang Selatan. Di masa transisi dari bangku kuliah ke ruang
kelas nyata, banyak guru baru mengalami kebingungan pedagogis, rasa tidak
percaya diri, hingga tekanan emosional. Riset ini menunjukkan bahwa supervisi
yang tepat dapat menjadi penyangga penting agar guru pemula tidak kehilangan
arah dan motivasi.
Guru
Pemula dan Masa Rentan Awal Karier
Tahun-tahun
pertama mengajar kerap menjadi fase paling menentukan dalam perjalanan profesi
guru. Di tahap ini, guru pemula dihadapkan pada kesenjangan antara teori
pendidikan yang dipelajari di perguruan tinggi dan realitas kelas yang dinamis
serta tidak selalu dapat diprediksi.
Tanpa
pendampingan yang memadai, kondisi tersebut berisiko menurunkan rasa percaya
diri dan bahkan mendorong keinginan untuk meninggalkan profesi. Berbagai studi
internasional menunjukkan bahwa fase awal karier merupakan periode paling
rentan terhadap kelelahan kerja dan burnout.
Dalam
konteks Indonesia, tantangan itu diperparah oleh tuntutan kurikulum, adaptasi
teknologi pembelajaran, serta budaya sekolah yang beragam. Di sinilah supervisi
akademik seharusnya hadir bukan sebagai alat penilaian administratif, melainkan
sebagai proses pembinaan profesional yang berkelanjutan.
Meneliti
Supervisi di Tiga SMA Tangerang Selatan
Bakri
melakukan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus di tiga SMA di Kota
Tangerang Selatan. Lokasi ini dipilih karena memiliki pertumbuhan sekolah
menengah yang pesat dan tingkat kompetisi mutu pendidikan yang tinggi.
Penelitian
melibatkan 12 informan, terdiri dari enam guru pemula dengan masa kerja kurang
dari tiga tahun, tiga kepala sekolah, dan tiga supervisor akademik. Data
dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi kelas, serta analisis dokumen
supervisi dan perangkat pembelajaran.
Pendekatan
ini memungkinkan peneliti menggali pengalaman nyata para guru dan melihat
bagaimana proses supervisi memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri
sebagai pendidik.
Empat
Mekanisme Supervisi yang Paling Berpengaruh
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa supervisi akademik berkontribusi langsung pada
penguatan identitas profesional guru pemula melalui empat mekanisme utama.
Pertama, umpan
balik konstruktif. Guru pemula merasakan bahwa masukan berbasis observasi
kelas membantu mereka memahami kekuatan dan kelemahan secara spesifik. Umpan
balik yang disampaikan tanpa menghakimi membuat guru lebih berani mencoba
strategi baru dan merasa dihargai sebagai pembelajar profesional.
Kedua, pendampingan
personal. Hubungan mentoring antara supervisor dan guru menciptakan rasa
aman dan kebersamaan. Guru merasa tidak sendirian menghadapi tantangan kelas,
sehingga lebih cepat beradaptasi dengan peran barunya sebagai pendidik.
Ketiga, refleksi
pascaobservasi. Diskusi reflektif setelah supervisi membantu guru
mengevaluasi praktik mengajar secara objektif. Dari waktu ke waktu, refleksi
guru berkembang dari sekadar deskripsi kegiatan menjadi analisis kritis tentang
kebutuhan siswa dan efektivitas metode belajar.
Keempat, dukungan
penyusunan perangkat pembelajaran. Supervisi tidak berhenti pada penilaian
dokumen, tetapi juga membimbing guru menyusun rencana pembelajaran, modul, dan
alat evaluasi. Proses ini memperkuat identitas guru sebagai perancang
pembelajaran dan inovator, bukan sekadar pelaksana kurikulum.
Dari
Dinilai Menjadi Didampingi
Salah
satu temuan penting penelitian ini adalah perubahan persepsi guru pemula
terhadap supervisi. Awalnya, supervisi sering dipandang sebagai proses
penilaian yang menegangkan. Namun, ketika dilakukan secara dialogis dan
reflektif, supervisi justru menjadi ruang belajar profesional.
Guru-guru
yang terlibat dalam penelitian melaporkan peningkatan kepercayaan diri setelah
menerima bimbingan berkelanjutan. Mereka mulai melihat profesi guru bukan hanya
sebagai pekerjaan mengajar, tetapi sebagai peran pembentuk karakter, pembelajar
sepanjang hayat, dan bagian dari komunitas profesional.
Menurut
Bakri, kekuatan utama supervisi terletak pada relasi manusiawi antara
supervisor dan guru. Ketika supervisi dilakukan secara satu arah dan
administratif, dampaknya terhadap identitas profesional cenderung lemah.
Sebaliknya, pendekatan kolaboratif membuka ruang refleksi dan pertumbuhan
jangka panjang.
Peran
Budaya Sekolah dan Kompetensi Supervisor
Penelitian
ini juga menegaskan bahwa efektivitas supervisi sangat dipengaruhi oleh konteks
sekolah. Sekolah dengan budaya terbuka terhadap dialog, refleksi, dan
pembelajaran profesional memberi ruang lebih luas bagi guru pemula untuk
berkembang.
Kompetensi
supervisor menjadi faktor kunci lainnya. Supervisor yang memahami pedagogi,
mampu berkomunikasi empatik, dan fokus pada pengembangan guru terbukti lebih
berhasil membangun identitas profesional guru baru dibandingkan supervisor yang
menekankan aspek administratif semata.
Implikasi
bagi Pendidikan dan Kebijakan
Temuan
ini memiliki implikasi langsung bagi pengelolaan sekolah dan kebijakan
pendidikan. Bagi sekolah, hasil riset ini menunjukkan pentingnya merancang
supervisi sebagai bagian dari sistem pengembangan guru, bukan sekadar kewajiban
formal.
Bagi
pembuat kebijakan, penelitian ini menegaskan bahwa investasi pada peningkatan
kompetensi supervisor dan penguatan budaya reflektif di sekolah sama pentingnya
dengan reformasi kurikulum. Supervisi yang humanis dan kolaboratif berpotensi
menekan angka kelelahan kerja guru pemula dan meningkatkan keberlanjutan
profesi guru.
Dalam
jangka panjang, penguatan identitas profesional guru sejak awal karier
berkontribusi langsung pada kualitas pembelajaran dan stabilitas tenaga
pendidik di sekolah menengah.
Profil
Penulis
Bakri adalah
dosen di STKIP Darul Qalam Tangerang, Indonesia. Bidang keahliannya meliputi
supervisi akademik, pengembangan profesional guru, dan pendidikan menengah.
Penelitiannya banyak berfokus pada pembinaan guru pemula dan penguatan
identitas profesional pendidik.
Sumber
Penelitian

0 Komentar