Supervisi Akademik Perkuat Identitas Profesional Guru Baru di Sekolah Menengah


Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Tangerang Selatan - Pendampingan akademik yang dilakukan secara reflektif dan kolaboratif terbukti membantu guru pemula membangun kepercayaan diri dan identitas profesional sejak awal karier. Temuan ini disampaikan Bakri, dosen STKIP Darul Qalam Tangerang, dalam riset yang terbit pada 2026 di Asian Journal of Applied Education. Studi ini penting karena menegaskan bahwa kualitas guru tidak hanya dibentuk oleh kemampuan teknis mengajar, tetapi juga oleh proses pembinaan yang membuat mereka merasa diakui sebagai profesional pendidikan.

Penelitian tersebut mengulas peran supervisi akademik dalam memperkuat identitas profesional guru sekolah menengah atas (SMA) yang masih berada pada fase awal karier di Kota Tangerang Selatan. Di masa transisi dari bangku kuliah ke ruang kelas nyata, banyak guru baru mengalami kebingungan pedagogis, rasa tidak percaya diri, hingga tekanan emosional. Riset ini menunjukkan bahwa supervisi yang tepat dapat menjadi penyangga penting agar guru pemula tidak kehilangan arah dan motivasi.

Guru Pemula dan Masa Rentan Awal Karier

Tahun-tahun pertama mengajar kerap menjadi fase paling menentukan dalam perjalanan profesi guru. Di tahap ini, guru pemula dihadapkan pada kesenjangan antara teori pendidikan yang dipelajari di perguruan tinggi dan realitas kelas yang dinamis serta tidak selalu dapat diprediksi.

Tanpa pendampingan yang memadai, kondisi tersebut berisiko menurunkan rasa percaya diri dan bahkan mendorong keinginan untuk meninggalkan profesi. Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa fase awal karier merupakan periode paling rentan terhadap kelelahan kerja dan burnout.

Dalam konteks Indonesia, tantangan itu diperparah oleh tuntutan kurikulum, adaptasi teknologi pembelajaran, serta budaya sekolah yang beragam. Di sinilah supervisi akademik seharusnya hadir bukan sebagai alat penilaian administratif, melainkan sebagai proses pembinaan profesional yang berkelanjutan.

Meneliti Supervisi di Tiga SMA Tangerang Selatan

Bakri melakukan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus di tiga SMA di Kota Tangerang Selatan. Lokasi ini dipilih karena memiliki pertumbuhan sekolah menengah yang pesat dan tingkat kompetisi mutu pendidikan yang tinggi.

Penelitian melibatkan 12 informan, terdiri dari enam guru pemula dengan masa kerja kurang dari tiga tahun, tiga kepala sekolah, dan tiga supervisor akademik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi kelas, serta analisis dokumen supervisi dan perangkat pembelajaran.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali pengalaman nyata para guru dan melihat bagaimana proses supervisi memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri sebagai pendidik.

Empat Mekanisme Supervisi yang Paling Berpengaruh

Hasil penelitian menunjukkan bahwa supervisi akademik berkontribusi langsung pada penguatan identitas profesional guru pemula melalui empat mekanisme utama.

Pertama, umpan balik konstruktif. Guru pemula merasakan bahwa masukan berbasis observasi kelas membantu mereka memahami kekuatan dan kelemahan secara spesifik. Umpan balik yang disampaikan tanpa menghakimi membuat guru lebih berani mencoba strategi baru dan merasa dihargai sebagai pembelajar profesional.

Kedua, pendampingan personal. Hubungan mentoring antara supervisor dan guru menciptakan rasa aman dan kebersamaan. Guru merasa tidak sendirian menghadapi tantangan kelas, sehingga lebih cepat beradaptasi dengan peran barunya sebagai pendidik.

Ketiga, refleksi pascaobservasi. Diskusi reflektif setelah supervisi membantu guru mengevaluasi praktik mengajar secara objektif. Dari waktu ke waktu, refleksi guru berkembang dari sekadar deskripsi kegiatan menjadi analisis kritis tentang kebutuhan siswa dan efektivitas metode belajar.

Keempat, dukungan penyusunan perangkat pembelajaran. Supervisi tidak berhenti pada penilaian dokumen, tetapi juga membimbing guru menyusun rencana pembelajaran, modul, dan alat evaluasi. Proses ini memperkuat identitas guru sebagai perancang pembelajaran dan inovator, bukan sekadar pelaksana kurikulum.

Dari Dinilai Menjadi Didampingi

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah perubahan persepsi guru pemula terhadap supervisi. Awalnya, supervisi sering dipandang sebagai proses penilaian yang menegangkan. Namun, ketika dilakukan secara dialogis dan reflektif, supervisi justru menjadi ruang belajar profesional.

Guru-guru yang terlibat dalam penelitian melaporkan peningkatan kepercayaan diri setelah menerima bimbingan berkelanjutan. Mereka mulai melihat profesi guru bukan hanya sebagai pekerjaan mengajar, tetapi sebagai peran pembentuk karakter, pembelajar sepanjang hayat, dan bagian dari komunitas profesional.

Menurut Bakri, kekuatan utama supervisi terletak pada relasi manusiawi antara supervisor dan guru. Ketika supervisi dilakukan secara satu arah dan administratif, dampaknya terhadap identitas profesional cenderung lemah. Sebaliknya, pendekatan kolaboratif membuka ruang refleksi dan pertumbuhan jangka panjang.

Peran Budaya Sekolah dan Kompetensi Supervisor

Penelitian ini juga menegaskan bahwa efektivitas supervisi sangat dipengaruhi oleh konteks sekolah. Sekolah dengan budaya terbuka terhadap dialog, refleksi, dan pembelajaran profesional memberi ruang lebih luas bagi guru pemula untuk berkembang.

Kompetensi supervisor menjadi faktor kunci lainnya. Supervisor yang memahami pedagogi, mampu berkomunikasi empatik, dan fokus pada pengembangan guru terbukti lebih berhasil membangun identitas profesional guru baru dibandingkan supervisor yang menekankan aspek administratif semata.

Implikasi bagi Pendidikan dan Kebijakan

Temuan ini memiliki implikasi langsung bagi pengelolaan sekolah dan kebijakan pendidikan. Bagi sekolah, hasil riset ini menunjukkan pentingnya merancang supervisi sebagai bagian dari sistem pengembangan guru, bukan sekadar kewajiban formal.

Bagi pembuat kebijakan, penelitian ini menegaskan bahwa investasi pada peningkatan kompetensi supervisor dan penguatan budaya reflektif di sekolah sama pentingnya dengan reformasi kurikulum. Supervisi yang humanis dan kolaboratif berpotensi menekan angka kelelahan kerja guru pemula dan meningkatkan keberlanjutan profesi guru.

Dalam jangka panjang, penguatan identitas profesional guru sejak awal karier berkontribusi langsung pada kualitas pembelajaran dan stabilitas tenaga pendidik di sekolah menengah.

Profil Penulis

Bakri adalah dosen di STKIP Darul Qalam Tangerang, Indonesia. Bidang keahliannya meliputi supervisi akademik, pengembangan profesional guru, dan pendidikan menengah. Penelitiannya banyak berfokus pada pembinaan guru pemula dan penguatan identitas profesional pendidik.

Sumber Penelitian

Bakri. (2026). The Role of Academic Supervision in Strengthening Professional Identity Among Early-Career Teachers. Asian Journal of Applied Education, Vol. 5 No. 1, hlm. 109–120.

Posting Komentar

0 Komentar