Di
Pulau Sumba, program ini dilaksanakan secara luas pada periode 2011–2013,
mencakup ratusan desa dan ribuan kelompok usaha. Jenis usaha yang dikembangkan
sangat beragam, mulai dari peternakan, pertanian, perikanan, koperasi, industri
kecil, hingga perdagangan.
Namun,
penelitian ini menemukan bahwa banyak kelompok usaha dibentuk tanpa analisis
mendalam terhadap potensi sumber daya lokal maupun kebutuhan pasar. Akibatnya,
sebagian usaha berjalan stagnan dan tidak mampu menciptakan nilai tambah yang
berkelanjutan.
Cara Penelitian Mengukur Daya Saing Usaha Desa
Untuk mengidentifikasi usaha yang benar-benar kompetitif, para peneliti melakukan pemetaan kelompok usaha di empat kabupaten di Pulau Sumba, yakni Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya.
Daya saing dianalisis dengan membandingkan:
- Jumlah dan konsentrasi kelompok usaha per sektor.
- Keunggulan komparatif masing-masing wilayah.
- Pola pertumbuhan usaha antarwilayah.
- Kemampuan usaha bertahan dan berkembang di pasar.
Pendekatan
ini memungkinkan peneliti melihat secara objektif sektor mana yang memiliki
peluang terbesar untuk dikembangkan sebagai penggerak ekonomi desa.
Peternakan Jadi Sektor Paling Kompetitif
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sektor peternakan menjadi tulang punggung daya
saing ekonomi desa di Pulau Sumba. Jumlah kelompok usaha peternakan jauh
lebih dominan dibandingkan sektor lainnya.
Data menunjukkan:
- Sumba Timur memiliki kelompok peternakan terbanyak, mencapai 203 kelompok pada 2012
- Sumba Barat Daya menyusul dengan 94 kelompok
- Sumba Barat dan Sumba Tengah masing-masing hanya memiliki 44 dan 22 kelompok
Dari
sisi komoditas, ternak sapi menjadi unggulan utama di Sumba Timur karena
nilai ekonominya tinggi dan didukung oleh ketersediaan lahan. Sementara itu, ternak
babi menjadi komoditas paling kompetitif di Sumba Barat Daya karena siklus
produksinya lebih singkat dan mampu menghasilkan pendapatan lebih cepat bagi
rumah tangga desa.
Implikasi bagi Kebijakan Pembangunan Desa
Penelitian ini memberikan pesan kuat bagi pembuat kebijakan bahwa program pemberdayaan ekonomi desa akan lebih efektif jika:
- Berbasis pada potensi lokal nyata.
- Mendorong kolaborasi antarkelompok usaha.
- Berorientasi pada penciptaan nilai tambah.
- Didukung akses pasar dan penguatan kelembagaan.
Tanpa
arah yang jelas, usaha desa berisiko tetap kecil, terfragmentasi, dan rentan
terhadap perubahan ekonomi.
Profil Penulis
Christiana Wahyuningrum, S.E.
Dosen Program Studi Akuntansi, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Oemathonis Kupang.
Bidang Keahlian: Pengembangan usaha desa dan ekonomi berbasis komunitas.
Thomas Ola Langoday, S.E., M.M.
Dosen Program Studi Manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Oemathonis Kupang.
Bidang Keahlian: daya saing usaha, pembangunan wilayah, dan kebijakan publik.
Marius Masri, S.E., M.E.
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas
Katolik Widya Mandira.
Bidang Keahlian: Aktif meneliti isu kemiskinan dan pembangunan
daerah.
M. E. Perseveranda, S.E., M.E.
Akademisi Ekonomi Pembangunan, Universitas Katolik Widya Mandira.
Bidang Keahlian: pertumbuhan wilayah dan klaster industri.
Agustina Sadri Yathy Lay, S.E., M.M.
Dosen Program Studi Manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Oemathonis Kupang,
Bidang keahlian: pengembangan UMKM dan pemberdayaan masyarakat.
Sumber Penelitian
Christiana Wahyuningrum, Thomas Ola Langoday, Marius Masri, Perseveranda, Agustina Sadri Yathy Lay. A Study on the Competitiveness of Group-Based Enterprises in “Desa Mandiri Anggur Merah” on Sumba Island, East Nusa Tenggara Province. Asian Journal of Management Analytics, Vol. 5 No. 1, hlm. 197–216. 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/ajma.v5i1.16174
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajma

0 Komentar