Penelitian ini penting karena banyak ruang hijau perkotaan dirancang dengan fokus estetika dan elemen fisik, tetapi mengabaikan bagaimana ruang tersebut benar-benar dirasakan oleh berbagai kelompok pengguna. Akibatnya, taman yang “lengkap” secara fasilitas belum tentu nyaman atau aman bagi lansia, perempuan, remaja, atau kelompok rentan lainnya.
Mengapa Pengalaman Pengguna Sering Terabaikan
Dalam praktik perencanaan kota, kualitas ruang hijau kerap diukur secara objektif: luas area, jumlah fasilitas, atau ketersediaan vegetasi. Pendekatan ini dinilai belum mampu menangkap dimensi subjektif seperti rasa aman, kemudahan bergerak, dan keterhubungan sosial. Sejumlah studi global menunjukkan ruang publik yang memenuhi standar teknis bisa saja jarang digunakan karena tidak nyaman atau membingungkan bagi pengunjung.
Di Indonesia, tantangan ini semakin nyata. Keterbatasan lahan, pertumbuhan kota yang cepat, dan keragaman pengguna membuat ruang hijau publik memikul banyak fungsi sekaligus. Di kawasan Semenanjung Minahasa, Sulawesi Utara—lokasi studi Imran—taman kota menjadi ruang temu lintas komunitas. Namun, evaluasi berbasis pengalaman pengguna di wilayah ini masih minim.
Cara Penelitian Dilakukan
Untuk memahami persoalan secara utuh, Imran menggunakan pendekatan campuran (mixed methods). Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 10 pengguna terpilih—mulai dari orang dewasa, lansia, perempuan, remaja, hingga pedagang informal. Beberapa wawancara dilakukan sambil berjalan di area taman agar interaksi pengguna dengan ruang dapat diamati langsung.
Sementara itu, survei kuantitatif melibatkan 100 responden di dua lokasi ruang hijau perkotaan: satu di Kabupaten Minahasa Utara dan satu di kawasan kota Tondano. Survei ini mengukur persepsi pengguna tentang kenyamanan, aksesibilitas, rasa aman, dan inklusivitas ruang. Hasil kualitatif dan kuantitatif kemudian dipadukan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif.
Temuan Utama: Apa yang Membuat Ruang Hijau Terasa Inklusif
Penelitian ini menyoroti beberapa temuan penting yang konsisten di antara berbagai kelompok pengguna:
1. Kenyamanan tidak ditentukan oleh banyaknya fasilitas Pengguna menilai kenyamanan dari kejelasan jalur sirkulasi, keterbacaan tata ruang, dan fleksibilitas penataan. Jalur yang jelas membuat pengunjung merasa tenang dan tidak saling mengganggu. Lansia menekankan pentingnya tata ruang yang mudah dipahami untuk mengurangi kelelahan, sementara remaja mengaitkan kenyamanan dengan kebebasan bergerak dan berkegiatan. Data survei memperkuat temuan ini. Indikator kejelasan sirkulasi dan keterbacaan ruang mendapat skor lebih tinggi dibanding ketersediaan fasilitas fisik. Artinya, kualitas perencanaan ruang lebih berpengaruh daripada kuantitas elemen.
2. Aksesibilitas bersifat kontekstual Aksesibilitas tidak hanya berarti mudah masuk ke taman. Bagi lansia, permukaan jalur yang rata dan tidak terlalu panjang sangat krusial. Bagi perempuan, pencahayaan dan keterbukaan visual memengaruhi kenyamanan datang sendiri. Pedagang informal melihat aksesibilitas sebagai penentu ramai-tidaknya pengunjung. Survei menunjukkan kelompok lansia memiliki skor aksesibilitas terendah, menandakan masih adanya hambatan fisik yang membuat mereka kurang nyaman menggunakan ruang hijau publik.
3. Rasa aman tumbuh dari aktivitas sosial dan fleksibilitas ruang Menariknya, rasa aman tidak semata bergantung pada petugas keamanan atau pagar. Pengguna merasa lebih aman ketika ruang digunakan oleh beragam aktivitas dan ramai oleh kehadiran orang lain. Area multifungsi—yang memungkinkan kegiatan formal dan informal berlangsung bersamaan—dinilai lebih aman dibanding area dengan fungsi tunggal. Data kuantitatif menunjukkan area dengan penggunaan campuran memiliki skor rasa aman jauh lebih tinggi dibanding area satu fungsi. Fleksibilitas ruang mendorong interaksi sosial dan “pengawasan alami” antar pengguna.
Dampak bagi Perencanaan Kota dan Kebijakan Publik
Temuan Imran membawa pesan jelas bagi dunia usaha, pendidikan, dan kebijakan publik. Ruang hijau yang inklusif tidak tercipta otomatis dari desain yang indah atau fasilitas lengkap, melainkan dari desain yang berangkat dari pengalaman pengguna nyata.
Bagi arsitek dan perencana kota, riset ini menegaskan perlunya pendekatan berbasis pengguna (user-based design). Perencanaan tidak cukup mengandalkan standar teknis, tetapi harus mempertimbangkan bagaimana ruang dibaca, digunakan, dan dirasakan oleh kelompok berbeda.
Bagi pemerintah daerah, hasil penelitian ini relevan untuk penyusunan kebijakan ruang terbuka hijau yang lebih adil. Investasi pada perbaikan jalur pejalan kaki, pencahayaan, dan fleksibilitas tata ruang dapat memberikan dampak sosial yang lebih besar dibanding sekadar menambah fasilitas baru.
Dalam konteks pendidikan dan riset, studi ini memperkuat pentingnya pendekatan lintas disiplin—menggabungkan arsitektur, perencanaan kota, dan studi perilaku pengguna—untuk menjawab tantangan perkotaan di negara berkembang.
Perspektif Peneliti
Imran menekankan bahwa tantangan utama desain ruang hijau bukan pada keterbatasan teknologi atau anggaran, melainkan pada cara pandang. Dengan menempatkan pengalaman pengguna sebagai dasar, prinsip desain inklusif dapat dirumuskan secara lebih kontekstual dan aplikatif.
Profil Penulis
Mohammad Imran. adalah dosen dan peneliti di Universitas Negeri Gorontalo, Indonesia. Bidang keahliannya meliputi arsitektur perkotaan, ruang publik, dan desain berbasis pengalaman pengguna. Penelitiannya berfokus pada pengembangan prinsip desain inklusif dan berkelanjutan di kawasan perkotaan.
Sumber Penelitian
Mohammad Imran. An Analysis of User Experiences in Urban Green Public Spaces to Formulate More Inclusive Design Principles. Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5, No. 1, 2026, hlm. 347–360.
DOI: 10.55927/fjst.v5i1.392
URL resmi: https://traformosapublisher.org/index.php/fjst
0 Komentar