FORMOSA NEWS - Malang - Program pendampingan guru yang dikembangkan oleh Fathima Ciptaning P bersama tim dari Universitas Muhammadiyah Malang menunjukkan hasil nyata dalam memperkuat kompetensi guru sekolah dasar dalam mengelola kelas inklusif. Program ini dilaksanakan pada Desember 2025 di SD Negeri Seketi, Kediri, Jawa Timur, dan melibatkan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, serta petugas sekolah. Temuan ini penting karena jumlah peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah reguler Indonesia terus meningkat, sementara kesiapan guru dalam menghadapi keberagaman kebutuhan belajar masih menjadi tantangan utama.
Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Education and Psychological Science (IJEPS) Vol. 4 No. 1 Tahun 2026 ini menegaskan bahwa pendampingan berbasis psikoedukasi dan pemberdayaan mampu meningkatkan pemahaman guru secara signifikan dalam memberikan layanan pendidikan yang adaptif dan adil bagi siswa berkebutuhan khusus.
Tantangan Nyata Pendidikan Inklusif di Sekolah Dasar
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan tren kenaikan jumlah peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah formal sejak 2022 hingga awal 2026. Kondisi ini menempatkan sekolah dasar sebagai garda terdepan dalam mewujudkan pendidikan inklusif.
Namun, banyak guru reguler belum memperoleh pelatihan khusus terkait karakteristik anak berkebutuhan khusus, strategi pembelajaran adaptif, maupun manajemen kelas inklusif. Akibatnya, meskipun sekolah diwajibkan menerima semua peserta didik tanpa diskriminasi, implementasi di kelas sering kali belum optimal.
Di SD Negeri Seketi, tim peneliti menemukan dua siswa dengan kebutuhan khusus: satu siswa dengan diagnosis speech delay yang mengalami kesulitan artikulasi dan kecenderungan tantrum, serta satu siswa slow learner dengan tempo belajar lambat dan membutuhkan pengulangan instruksi. Guru mengakui masih merasa kesulitan dalam menyesuaikan metode pembelajaran dan pengelolaan kelas untuk memenuhi kebutuhan kedua siswa tersebut.
Situasi inilah yang mendorong pelaksanaan program pendampingan guru sebagai upaya penguatan kapasitas secara praktis dan berkelanjutan.
Pendampingan Berbasis Psikoedukasi dan Kolaborasi
Program pendampingan dirancang dalam empat tahap utama:
- Observasi dan asesmen awalTim melakukan observasi kelas, wawancara dengan guru dan kepala sekolah, serta diskusi dengan orang tua siswa untuk memetakan kebutuhan nyata di sekolah.
- Pelatihan dasar manajemen kelas inklusifGuru mengikuti lokakarya interaktif mengenai konsep pendidikan inklusif, karakteristik siswa berkebutuhan khusus, strategi pembelajaran diferensiasi, serta prinsip pengelolaan kelas yang ramah keberagaman.
- Pendampingan dan komunitas belajar guruGuru didampingi dalam menerapkan strategi di kelas, berbagi praktik baik, serta menyusun perangkat pembelajaran adaptif, termasuk rancangan Program Pembelajaran Individual (PPI/IEP).
- Evaluasi dan rencana keberlanjutanPerubahan pemahaman guru diukur melalui pre-test dan post-test, disertai refleksi dan umpan balik terhadap pelaksanaan program.
Pendekatan ini menempatkan guru sebagai subjek aktif, bukan sekadar peserta pelatihan. Proses refleksi, diskusi kasus nyata, dan simulasi menjadi kunci agar materi terasa relevan dengan kondisi kelas sehari-hari.
Peningkatan Pemahaman Guru Terbukti Signifikan
Hasil analisis menunjukkan seluruh peserta mengalami peningkatan skor pemahaman setelah mengikuti program.
Beberapa temuan utama:
- Skor rata-rata pre-test: 36,1
- Skor rata-rata post-test: 59,25
- Rata-rata peningkatan: 23,12 poin
- Uji statistik menunjukkan perbedaan signifikan (t = -11,197; p < 0,001)
Artinya, program pendampingan secara nyata meningkatkan pemahaman guru tentang konsep pendidikan inklusif, karakteristik siswa berkebutuhan khusus, dan strategi pembelajaran adaptif.
Menurut para penulis, peningkatan ini menjadi fondasi penting bagi kesiapan guru dalam merancang layanan pendidikan yang responsif. Tanpa pemahaman konseptual yang kuat, perubahan praktik di kelas akan sulit terwujud.
Dari Pemahaman ke Praktik Kelas
Selain peningkatan skor, guru juga melaporkan perubahan cara pandang terhadap siswa berkebutuhan khusus. Anak dengan speech delay tidak lagi dipandang sekadar sebagai “bermasalah”, tetapi sebagai anak yang memerlukan dukungan komunikasi spesifik. Sementara siswa slow learner dipahami membutuhkan tempo belajar berbeda, bukan tekanan akademik yang sama dengan siswa lain.
Dalam diskusi reflektif, guru mulai mengidentifikasi langkah-langkah sederhana namun berdampak, seperti:
- Memberikan instruksi lebih singkat dan jelas
- Menggunakan variasi media visual
- Memberi waktu tambahan untuk menyelesaikan tugas
- Mengatur tempat duduk yang mendukung konsentrasi
- Menyusun tujuan belajar individual
Fathima Ciptaning P dari Universitas Muhammadiyah Malang menekankan bahwa perubahan besar sering berawal dari pemahaman kecil. Guru yang memahami kebutuhan siswa akan lebih terbuka untuk menyesuaikan metode mengajar dan menciptakan suasana kelas yang aman secara emosional.
Dampak Lebih Luas bagi Sistem Pendidikan
Temuan ini memperkuat gagasan bahwa penguatan kompetensi guru tidak selalu harus melalui pelatihan panjang dan mahal. Program pendampingan berbasis sekolah, dengan durasi relatif singkat namun terstruktur, dapat menjadi model pengembangan profesional berkelanjutan.
Implikasi penting dari penelitian ini antara lain:
- Sekolah reguler dapat mengembangkan komunitas belajar guru sebagai ruang berbagi praktik inklusif.
- Dinas pendidikan dapat mengadopsi model pendampingan serupa untuk skala lebih luas.
- Pendidikan guru prajabatan perlu memperkuat muatan tentang kelas inklusif berbasis kasus nyata.
Jika diterapkan secara konsisten, pendekatan ini berpotensi meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi jutaan anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler.
0 Komentar