Pola Tabungan dan Investasi Individu Bergaji dalam Kaitannya dengan Faktor Sosio-Ekonomi


Ilustrasi by AI 

Pollachi- Pekerja bergaji tetap di India cenderung menabung secara moderat dan memilih instrumen investasi berisiko rendah, menurut riset terbaru karya S. Subaithani dan P. Sudha dari Nallamuthu Gounder Mahalingam College, Pollachi, Coimbatore. Studi yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Applied and Scientific Research ini menyoroti bagaimana usia, pendidikan, pendapatan, jenis pekerjaan, struktur keluarga, dan pengalaman kerja membentuk perilaku keuangan pekerja bergaji. Temuan ini penting karena kelompok pekerja bergaji menjadi tulang punggung stabilitas keuangan rumah tangga dan ekonomi perkotaan.

Riset tersebut membaca denyut keuangan sehari-hari pekerja bergaji—berapa yang mereka hasilkan, belanjakan, tabungkan, dan investasikan—serta faktor sosial-ekonomi apa yang paling menentukan pilihan itu. Hasilnya memberi gambaran realistis tentang kehati-hatian finansial di tengah biaya hidup yang meningkat dan kebutuhan keluarga yang beragam.

Mengapa pola ini penting?

Di banyak kota India, pendapatan tetap tidak selalu berarti rasa aman finansial. Biaya pendidikan, kesehatan, dan perumahan terus naik, sementara literasi keuangan belum merata. Di sinilah pola menabung dan berinvestasi menjadi krusial: keputusan hari ini menentukan ketahanan ekonomi keluarga di masa depan.

Cara riset dilakukan (versi ringkas)

Peneliti mengumpulkan data primer dari 85 pekerja bergaji melalui kuesioner terstruktur. Responden berasal dari beragam usia, tingkat pendidikan, pendapatan, jenis pekerjaan, dan struktur keluarga. Data sekunder dari buku dan jurnal melengkapi analisis. Pola dasar dibaca lewat statistik deskriptif, lalu pengaruh faktor sosial-ekonomi diuji dengan analisis regresi.

Siapa respondennya?

Mayoritas responden berada pada usia produktif 31–40 tahun (37,6%), didominasi pekerja sektor swasta (63,5%), tinggal di kawasan perkotaan (49,4%), dan hidup dalam keluarga inti (64,7%). Dari sisi pendapatan, kelompok terbesar berada pada kisaran ₹25.001–₹50.000 per bulan (42,4%), mencerminkan kelas menengah yang menjadi sasaran utama kebijakan keuangan inklusif.

Temuan utama: konservatif tapi konsisten

Gambaran besarnya jelas: pendekatan aman mendominasi.

  • Instrumen favorit: simpanan bank (36,5%) dan asuransi (24,7%).

  • Instrumen pasar seperti reksa dana (21,2%) dan saham (10,6%) masih dipilih sebagian kecil responden.

  • Pendapatan bulanan rata-rata sekitar ₹28.969, dengan pengeluaran rata-rata ₹16.523.

  • Tabungan bulanan rata-rata ₹7.577; investasi tahunan rata-rata ₹30.901.

Distribusi tabungan dan investasi timpang: sebagian kecil responden menyimpan dan berinvestasi jauh lebih besar daripada mayoritas. Ini menunjukkan kehati-hatian umum, dengan komitmen investasi jangka panjang yang masih terbatas.

Faktor penentu yang paling berpengaruh

Analisis lanjutan mengungkap faktor-faktor yang benar-benar “menggerakkan jarum”:

  1. Pendapatan bulanan adalah pengaruh terkuat—semakin tinggi gaji, semakin besar kapasitas menabung dan berinvestasi.

  2. Pendidikan berperan penting—tingkat pendidikan yang lebih tinggi berkorelasi dengan keputusan finansial yang lebih matang.

  3. Usia dan pengalaman kerja mendorong perencanaan jangka panjang—pekerja yang lebih senior cenderung lebih disiplin.

  4. Jenis pekerjaan dan struktur keluarga bisa menekan kemampuan menabung—tanggung jawab keluarga (terutama keluarga besar) dan karakter pekerjaan tertentu mengurangi ruang investasi.

Dengan kata lain, literasi dan stabilitas finansial tumbuh seiring waktu dan pengalaman, tetapi bisa tergerus oleh beban keluarga dan ketidakpastian kerja.

Dampak bagi masyarakat dan kebijakan

Temuan ini relevan bagi banyak pihak. Pembuat kebijakan dapat merancang program literasi keuangan yang lebih tajam bagi kelas menengah pekerja bergaji. Lembaga keuangan bisa mengembangkan produk berisiko rendah namun bertahap menuju diversifikasi, sesuai profil konservatif nasabah. Perusahaan juga dapat memperkuat edukasi keuangan karyawan sebagai bagian dari kesejahteraan kerja.

Bagi individu, pesan utamanya sederhana: pendapatan penting, tetapi pengetahuan dan kebiasaan menentukan hasil. Dengan literasi yang lebih baik, pekerja bergaji dapat beralih dari sekadar menabung ke investasi yang lebih seimbang tanpa mengorbankan rasa aman.

Kata peneliti

Subaithani dan Sudha menekankan bahwa peningkatan kesadaran dan perencanaan finansial akan membantu pekerja bergaji mengoptimalkan tabungan dan investasi mereka. Pendidikan finansial, menurut keduanya, adalah kunci untuk menjembatani kehati-hatian dengan peluang pertumbuhan aset.

Profil singkat penulis

  • S. Subaithani — Dosen dan peneliti di Nallamuthu Gounder Mahalingam College, bidang ekonomi rumah tangga dan perilaku keuangan.

  • P. Sudha — Akademisi di Nallamuthu Gounder Mahalingam College, fokus pada keuangan terapan dan faktor sosial-ekonomi.

Sumber penelitian

Subaithani, S., & Sudha, P. (2026). Savings and Investment Patterns of Salaried Individuals in Relation to Socio-Economic Factors. International Journal of Applied and Scientific Research, Vol. 4 No. 1, hlm. 41–52.
DOI: 10.59890/ijasr.v4i1.174

Posting Komentar

0 Komentar