Medan — Tim peneliti dari Politeknik Negeri Medan (Polmed) menemukan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sangat layak secara ekonomi untuk memenuhi kebutuhan listrik gedung kampus. Studi yang dipublikasikan pada 2026 ini menunjukkan, investasi PLTS di lingkungan Polmed dapat kembali modal hanya dalam waktu sekitar 2,5 tahun sekaligus menurunkan biaya listrik secara signifikan dibandingkan tarif PLN.
Riset ini ditulis oleh Cholish, Muhammad Rusdi, Faisal Fahmi Hasan, M. Anhar Pulungan (Politeknik Negeri Medan), Abdul Azis (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara), serta Zarina Binti Ismail dari Tuanku Sultanah Bahiyah Polytechnic, Malaysia. Hasil penelitian mereka dimuat dalam International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS) Vol. 4 No. 1 Tahun 2026.
Penelitian ini penting karena biaya pemasangan PLTS kerap dianggap mahal oleh banyak institusi pendidikan. Kampus, sebagai pusat aktivitas harian dengan konsumsi listrik tinggi, membutuhkan solusi energi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga masuk akal secara finansial. Temuan dari Polmed menunjukkan bahwa anggapan “PLTS selalu mahal” tidak sepenuhnya benar, asalkan direncanakan dengan matang.
Mengapa Kampus Butuh PLTS?
Gedung-gedung di Politeknik Negeri Medan memiliki kebutuhan listrik besar untuk pencahayaan, peralatan elektronik, dan aktivitas belajar-mengajar. Berdasarkan survei tim peneliti, total daya terpasang di seluruh gedung mencapai sekitar 1.352 kW. Dengan asumsi pemakaian rata-rata empat jam per hari, konsumsi energi kampus mencapai 5.410 kWh per hari.
Selama ini, seluruh kebutuhan tersebut dipasok dari jaringan listrik PLN. Kondisi ini membuat biaya operasional kampus cukup tinggi dan bergantung pada tarif listrik yang dapat berubah sewaktu-waktu. Di sisi lain, ketersediaan atap gedung dan lahan terbuka di kawasan kampus membuka peluang pemanfaatan energi surya secara optimal.
Perencanaan Matang Jadi Kunci
Peneliti menekankan bahwa keberhasilan PLTS sangat bergantung pada perencanaan awal. Mereka menghitung kebutuhan beban listrik, luas lahan yang tersedia, serta posisi pemasangan panel agar mendapatkan paparan sinar matahari maksimal.
Untuk memastikan hasil yang akurat, tim menggunakan perangkat lunak simulasi HOMER, sebuah aplikasi yang umum dipakai untuk merancang dan mengevaluasi sistem energi terbarukan. Data intensitas matahari, konsumsi listrik harian, serta spesifikasi teknis komponen dimasukkan ke dalam simulasi guna mendapatkan kapasitas PLTS paling efisien.
“Hasil simulasi membantu kami melihat kombinasi kapasitas panel surya dan inverter yang paling optimal, bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara ekonomi,” tulis tim peneliti dalam artikelnya.
Biaya Investasi dan Operasional
Berdasarkan perhitungan, pembangunan PLTS di lingkungan Polmed membutuhkan investasi awal sekitar Rp 8,56 miliar. Biaya ini mencakup pemasangan lebih dari 2.700 panel surya dengan kapasitas total sekitar 1,5 MWp, inverter, serta kebutuhan operasional pembangunan.
Biaya perawatan dan operasional tahunan relatif kecil, hanya sekitar 1 persen dari nilai investasi, atau sekitar Rp 85,5 juta per tahun. Dengan umur proyek diasumsikan 25 tahun, total biaya siklus hidup sistem (life cycle cost) tercatat sekitar Rp 9,86 miliar.
Dari sisi biaya energi, listrik yang dihasilkan PLTS Polmed diperkirakan hanya Rp 337 per kWh. Angka ini jauh lebih murah dibandingkan tarif listrik PLN yang berada di kisaran Rp 1.699 per kWh.
Balik Modal 2,5 Tahun
Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah waktu pengembalian investasi. Dengan penghematan biaya listrik tahunan mencapai sekitar Rp 3,35 miliar, modal pembangunan PLTS dapat kembali dalam waktu 2,55 tahun tanpa memperhitungkan bunga pinjaman.
Artinya, setelah periode tersebut, listrik yang dihasilkan PLTS pada dasarnya menjadi “listrik murah” bagi kampus selama puluhan tahun ke depan. Bagi institusi pendidikan, kondisi ini membuka ruang penghematan anggaran yang dapat dialihkan ke peningkatan kualitas akademik dan fasilitas mahasiswa.
Dampak Lebih Luas: Kampus Hijau dan Edukasi
Selain keuntungan finansial, PLTS juga membawa dampak strategis bagi dunia pendidikan. Penggunaan energi surya mendukung komitmen kampus terhadap pengurangan emisi karbon dan pengembangan konsep green campus.
Menurut para peneliti, keberadaan PLTS di kampus juga memiliki nilai edukatif. Mahasiswa dapat mempelajari langsung sistem energi terbarukan yang beroperasi nyata, mulai dari panel surya, inverter, hingga manajemen energi berbasis data.
“PLTS bukan hanya soal listrik murah, tetapi juga laboratorium hidup bagi mahasiswa teknik dan vokasi,” tulis para penulis dalam kesimpulan mereka.
Langkah Lanjutan
Tim peneliti merekomendasikan agar studi ini dilanjutkan ke tahap implementasi nyata. Fokus riset berikutnya mencakup desain sistem terintegrasi, pemilihan baterai dan inverter yang lebih efisien, serta pengembangan sistem pintar untuk memantau kinerja PLTS secara digital.
Langkah ini diharapkan dapat menjadikan Polmed sebagai contoh penerapan energi terbarukan di lingkungan pendidikan vokasi, sekaligus model yang bisa direplikasi oleh kampus lain di Indonesia.
Profil Singkat Penulis
- Cholish, Akademisi Politeknik Negeri Medan
- Muhammad Rusdi, Akademisi Politeknik Negeri Medan
- Faisal Fahmi Hasan Akademisi Politeknik Negeri Medan
- M. Anhar Pulungan, Akademisi Politeknik Negeri Medan
- Abdul Azis Akademisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
- Zarina Binti Ismail, Akademisi Tuanku Sultanah Bahiyah Polytechnic, Malaysia,

0 Komentar