Perilaku Atasan Kasar Picu Niat Resign Gen Z, Studi Universitas Lampung Ungkap Peran Tekanan Psikologis

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Bandar Lampung - Niat resign karyawan Generasi Z di Indonesia berkaitan erat dengan perilaku atasan yang kasar. Temuan ini berasal dari penelitian Widya Salsabila Inuni dan Zainnur M. Rusdi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung yang dipublikasikan pada 2026 di Asian Journal of Applied Business and Management. Studi ini penting karena menunjukkan bahwa kepemimpinan yang buruk tidak hanya berdampak langsung pada keinginan karyawan untuk keluar, tetapi juga memperburuk kondisi mental mereka yang kemudian mempercepat keputusan resign. 

Fenomena meningkatnya keinginan pindah kerja menjadi isu serius di Indonesia, terutama setelah tren global Great Resignation. Data regional menunjukkan tingkat niat resign pekerja Indonesia lebih tinggi dibanding rata-rata Asia Pasifik. Penelitian ini menyoroti satu faktor kunci di balik kondisi tersebut: abusive supervision, yaitu perilaku atasan yang merendahkan, menghina, atau mempermalukan bawahan secara berulang.

Menurut peneliti, ketika atasan dipandang sebagai representasi organisasi, perilaku negatif mereka dapat menurunkan loyalitas karyawan dan memperkuat keinginan untuk meninggalkan pekerjaan. Hal ini sangat relevan bagi Generasi Z yang dikenal memiliki ekspektasi tinggi terhadap lingkungan kerja yang sehat dan adil.

Metodologi Singkat dan Mudah Dipahami

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal. Data dikumpulkan melalui kuesioner terhadap 140 karyawan Generasi Z di Provinsi Lampung yang telah bekerja minimal enam bulan.

Analisis dilakukan untuk melihat dua hal utama:

  1. Apakah perilaku atasan yang kasar meningkatkan niat resign.
  2. Apakah tekanan psikologis menjadi penghubung antara keduanya.

Metode statistik digunakan untuk menilai pengaruh langsung dan tidak langsung antar variabel, sehingga peneliti dapat melihat apakah faktor mental benar-benar memainkan peran penting dalam keputusan keluar kerja.

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin penting:

1. Perilaku atasan kasar meningkatkan niat resign
Semakin tinggi tingkat perilaku merendahkan atau menghina dari atasan, semakin besar keinginan karyawan untuk keluar dari perusahaan.
2. Tekanan psikologis menjadi faktor penghubung penting
Perilaku kasar tidak hanya berdampak langsung, tetapi juga meningkatkan stres, kecemasan, dan kelelahan emosional karyawan. Kondisi mental inilah yang kemudian mendorong niat resign.
3. Pengaruh tidak langsung bahkan lebih kuat
Analisis menunjukkan efek tidak langsung melalui tekanan psikologis lebih besar daripada pengaruh langsung perilaku atasan terhadap niat resign. Ini menandakan bahwa kesehatan mental adalah kunci dalam memahami keputusan karyawan untuk bertahan atau pergi.

Temuan ini memperlihatkan bahwa keputusan resign bukan semata soal gaji atau peluang karier, tetapi juga soal pengalaman emosional di tempat kerja.

Mengapa Temuan Ini Penting

Penelitian ini memberikan implikasi luas bagi dunia kerja modern, khususnya dalam pengelolaan sumber daya manusia.

Bagi perusahaan, hasil studi menegaskan bahwa:

  • Kepemimpinan yang tidak sehat dapat meningkatkan turnover karyawan.
  • Masalah mental di tempat kerja memiliki dampak nyata terhadap produktivitas dan retensi karyawan.
  • Investasi pada pelatihan kepemimpinan dan kesehatan mental bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan strategis.

Bagi pembuat kebijakan dan praktisi HR, penelitian ini menguatkan pentingnya:

  • Budaya organisasi yang menghargai komunikasi dua arah.
  • Sistem dukungan psikologis bagi karyawan.
  • Evaluasi kepemimpinan berbasis perilaku, bukan hanya hasil kerja.

Widya Salsabila Inuni dari Universitas Lampung menjelaskan bahwa tekanan psikologis berperan sebagai “mekanisme psikologis” yang menjembatani pengalaman kerja negatif dengan keputusan resign. Artinya, banyak karyawan tidak langsung ingin keluar karena atasan, tetapi karena dampak emosional yang mereka rasakan.

Dampak bagi Generasi Z di Dunia Kerja

Generasi Z menjadi fokus penelitian karena kelompok ini cenderung lebih sensitif terhadap perlakuan interpersonal di tempat kerja. Dengan pengalaman kerja yang relatif singkat dan posisi yang seringkali lebih lemah dalam struktur organisasi, mereka lebih rentan mengalami stres akibat hubungan kerja yang tidak sehat.

Temuan ini membantu menjelaskan mengapa Gen Z sering dianggap lebih cepat resign dibanding generasi sebelumnya. Bukan semata soal komitmen kerja, tetapi karena mereka lebih menuntut lingkungan yang menghargai kesejahteraan mental.

Profil Singkat Penulis Penelitian

Widya Salsabila Inuni
Peneliti di bidang manajemen sumber daya manusia, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Lampung. Fokus kajian pada perilaku organisasi, kepemimpinan, dan kesejahteraan psikologis karyawan.

Zainnur M. Rusdi
Dosen dan peneliti manajemen di Universitas Lampung dengan keahlian pada perilaku organisasi dan strategi manajemen SDM.

Sumber Penelitian

Inuni, W. S., & Rusdi, Z. M. (2026). The Effect of Abusive Supervision on Turnover Intention with Psychological Distress as a Mediating Variable. Asian Journal of Applied Business and Management, Vol. 5 No. 1, 17–32.

Posting Komentar

0 Komentar