Fenomena meningkatnya keinginan pindah kerja menjadi isu serius di Indonesia, terutama setelah tren global Great Resignation. Data regional menunjukkan tingkat niat resign pekerja Indonesia lebih tinggi dibanding rata-rata Asia Pasifik. Penelitian ini menyoroti satu faktor kunci di balik kondisi tersebut: abusive supervision, yaitu perilaku atasan yang merendahkan, menghina, atau mempermalukan bawahan secara berulang.
Menurut peneliti, ketika atasan dipandang sebagai representasi organisasi, perilaku negatif mereka dapat menurunkan loyalitas karyawan dan memperkuat keinginan untuk meninggalkan pekerjaan. Hal ini sangat relevan bagi Generasi Z yang dikenal memiliki ekspektasi tinggi terhadap lingkungan kerja yang sehat dan adil.
Metodologi Singkat dan Mudah Dipahami
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal. Data dikumpulkan melalui kuesioner terhadap 140 karyawan Generasi Z di Provinsi Lampung yang telah bekerja minimal enam bulan.
Analisis dilakukan untuk melihat dua hal utama:
- Apakah perilaku atasan yang kasar meningkatkan niat resign.
- Apakah tekanan psikologis menjadi penghubung antara keduanya.
Metode statistik digunakan untuk menilai pengaruh langsung dan tidak langsung antar variabel, sehingga peneliti dapat melihat apakah faktor mental benar-benar memainkan peran penting dalam keputusan keluar kerja.
Temuan Utama Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin penting:
Temuan ini memperlihatkan bahwa keputusan resign bukan semata soal gaji atau peluang karier, tetapi juga soal pengalaman emosional di tempat kerja.
Mengapa Temuan Ini Penting
Penelitian ini memberikan implikasi luas bagi dunia kerja modern, khususnya dalam pengelolaan sumber daya manusia.
Bagi perusahaan, hasil studi menegaskan bahwa:
- Kepemimpinan yang tidak sehat dapat meningkatkan turnover karyawan.
- Masalah mental di tempat kerja memiliki dampak nyata terhadap produktivitas dan retensi karyawan.
- Investasi pada pelatihan kepemimpinan dan kesehatan mental bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan strategis.
Bagi pembuat kebijakan dan praktisi HR, penelitian ini menguatkan pentingnya:
- Budaya organisasi yang menghargai komunikasi dua arah.
- Sistem dukungan psikologis bagi karyawan.
- Evaluasi kepemimpinan berbasis perilaku, bukan hanya hasil kerja.
Widya Salsabila Inuni dari Universitas Lampung menjelaskan bahwa tekanan psikologis berperan sebagai “mekanisme psikologis” yang menjembatani pengalaman kerja negatif dengan keputusan resign. Artinya, banyak karyawan tidak langsung ingin keluar karena atasan, tetapi karena dampak emosional yang mereka rasakan.
Dampak bagi Generasi Z di Dunia Kerja
Generasi Z menjadi fokus penelitian karena kelompok ini cenderung lebih sensitif terhadap perlakuan interpersonal di tempat kerja. Dengan pengalaman kerja yang relatif singkat dan posisi yang seringkali lebih lemah dalam struktur organisasi, mereka lebih rentan mengalami stres akibat hubungan kerja yang tidak sehat.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa Gen Z sering dianggap lebih cepat resign dibanding generasi sebelumnya. Bukan semata soal komitmen kerja, tetapi karena mereka lebih menuntut lingkungan yang menghargai kesejahteraan mental.

0 Komentar