Tantangan Menghitung Biaya Produksi Kopi
Menurut tim peneliti Universitas Sam Ratulangi, banyak perusahaan masih mencampuradukkan biaya produksi sebelum dan sesudah tahap pemisahan produk (split-off point). Akibatnya, harga pokok produksi tidak mencerminkan biaya riil yang dikorbankan perusahaan.
Pendekatan Absorption Costing
Penelitian ini menggunakan pendekatan
absorption costing. Metode ini membebankan seluruh biaya produksi, baik yang
bersifat variabel maupun tetap, ke dalam harga pokok produk. Dengan kata lain, tidak ada biaya produksi yang “disisihkan” sebagai
biaya periode.
Studi ini bersifat kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi langsung di perusahaan, wawancara dengan pihak terkait, serta dokumentasi laporan biaya produksi. Lokasi penelitian berada di PT Fortuna Inti Alam, Desa Maumbi, Kabupaten Minahasa Utara, dan dilaksanakan sejak Juli 2025 hingga analisis selesai.
Angka Penting dari Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama
tiga bulan produksi (Oktober–Desember 2024), PT Fortuna Inti Alam mengeluarkan total
biaya bersama sebesar Rp347.132.000. Biaya ini mencakup:
- Biaya bahan baku kopi: Rp237.150.000
- Biaya tenaga kerja langsung: Rp75.000.000
- Biaya overhead pabrik terkait proses awal (listrik, perbaikan mesin, penyusutan): Rp34.982.000
Dari biaya tersebut, perusahaan
menghasilkan 9.300 kilogram kopi bubuk. Dengan pembagian sederhana namun
konsisten, harga pokok produksi yang diperoleh adalah: Rp37.326 per kilogram
kopi bubuk.
Produksi kemudian dibagi ke dua produk:
- Formula-1: 7.440 kg (80% produksi)
- Fortorang: 1.860 kg (20% produksi)
Karena menggunakan pendekatan absorption costing, kedua produk memperoleh harga pokok per kilogram yang sama, yakni Rp37.326. Ketika dikonversi ke kemasan 600 gram, harga pokok produksi per kemasan menjadi Rp22.396, baik untuk Formula-1 maupun Fortorang.
Dampak bagi Dunia Usaha dan Pendidikan
Studi kasus PT Fortuna Inti Alam memberikan
contoh konkret bagi UMKM dan industri pengolahan kopi yang menghadapi
persoalan serupa. Hal ini membuka peluang bagi pelaku usaha di daerah untuk
meningkatkan akurasi perhitungan biaya.
Di sisi akademik, penelitian ini memperkaya kajian akuntansi biaya, khususnya terkait joint cost dengan pendekatan absorption costing di industri kopi, yang selama ini masih jarang diteliti di Sulawesi Utara.
- Rilly Keysia Salaki, S.E. Dosen dan peneliti di Universitas Sam Ratulangi.
Keahlian di bidang: akuntansi biaya dan akuntansi manajemen. - Victorina Tirayoh, S.E., M.Si. Akademisi Universitas Sam Ratulangi
Bidang Keahlian: akuntansi keuangan dan manajerial. - Diana Lintong, S.E., M.Si. Dosen Universitas Sam Ratulangi
Bidang Keahlian: meneliti pengendalian biaya dan pelaporan keuangan.
Sumber Penelitian
Salaki, R. K., Tirayoh, V., & Lintong,
D. (2026). Joint Cost Analysis for Calculating Production Cost Using the
Absorption Cost Approach at PT Fortuna Inti Alam. Formosa Journal of Applied
Sciences (FJAS), Vol. 5 No. 1, 213–232.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i1.552 URL: https://srhformosapublisher.org/index.php/fjas

0 Komentar