Perbandingan Kinerja Keuangan Perbankan di ASEAN: Studi tentang Perbankan di Indonesia, Malaysia, dan Singapura

Ilustrasi by AI 

Kinerja Bank ASEAN Berbeda Tajam: Bank Indonesia Unggul Laba, Singapura Paling Stabil

Bank-bank besar di Indonesia, Malaysia, dan Singapura menunjukkan perbedaan kinerja keuangan yang signifikan meskipun berada dalam kerangka integrasi ekonomi ASEAN. Temuan ini disampaikan oleh Dea Agustin, Wiralestari, dan Dica Lady Silvera dari Universitas Jambi dalam artikel ilmiah yang terbit pada 2026 di International Journal of Integrative Sciences. Studi ini menganalisis kinerja keuangan perbankan selama periode 2020–2024, masa yang mencakup pandemi COVID-19 dan fase pemulihan ekonomi. Hasilnya penting karena sektor perbankan merupakan tulang punggung stabilitas keuangan nasional dan regional di Asia Tenggara.

Perbankan ASEAN dalam era integrasi dan krisis global

Integrasi keuangan ASEAN melalui ASEAN Banking Integration Framework (ABIF) mendorong bank-bank di kawasan ini untuk beroperasi lintas negara, meningkatkan efisiensi, dan memperluas akses pembiayaan. Namun, integrasi juga memperbesar risiko penularan krisis. Guncangan ekonomi global, perubahan suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik dapat dengan cepat memengaruhi sistem perbankan regional.

Indonesia, Malaysia, dan Singapura memiliki karakter sistem perbankan yang berbeda. Indonesia mewakili pasar berkembang dengan basis nasabah ritel dan UMKM yang besar. Malaysia dikenal dengan sistem perbankan ganda, konvensional dan syariah. Singapura berperan sebagai pusat keuangan internasional dengan regulasi ketat dan tingkat digitalisasi tinggi. Perbedaan struktur ini memengaruhi cara bank menghasilkan laba, mengelola risiko, dan menjaga stabilitas.

Cara peneliti membandingkan kinerja bank

Para peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dan komparatif. Data diambil dari laporan keuangan tahunan yang telah diaudit dari tiga bank konvensional terbesar di masing-masing negara.

1. Indonesia: Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Central Asia (BCA)

2. Malaysia: Maybank, CIMB, dan Public Bank

3. Singapura: DBS, OCBC, dan United Overseas Bank (UOB)

Periode pengamatan mencakup lima tahun, dari 2020 hingga 2024, dengan total 45 observasi. Kinerja bank diukur menggunakan lima indikator utama yang umum digunakan oleh regulator dan investor, yaitu tingkat keuntungan, likuiditas, kecukupan modal, efisiensi operasional, dan risiko kredit. Analisis statistik digunakan untuk melihat apakah perbedaan kinerja antarnegara bersifat signifikan.

Temuan utama penelitian

Hasil analisis menunjukkan bahwa kinerja perbankan di tiga negara ASEAN tersebut berbeda secara nyata pada seluruh indikator yang diuji.

Bank Indonesia: laba tinggi, risiko lebih besar

1. Bank-bank Indonesia mencatat tingkat profitabilitas tertinggi, tercermin dari Return on Assets (ROA) rata-rata sekitar 2,8 persen.

2. Rasio kecukupan modal (CAR) juga paling tinggi, mendekati 23,8 persen, menunjukkan bantalan modal yang kuat.

3. Namun, bank Indonesia memiliki biaya operasional dan risiko kredit lebih tinggi, terlihat dari rasio BOPO dan kredit bermasalah yang relatif besar.

4. Kinerjanya cenderung lebih fluktuatif, terutama pada masa pandemi.

Bank Malaysia: efisien dan konsisten

1. Profitabilitas berada pada tingkat menengah namun stabil.

2. Efisiensi operasional lebih baik, dengan rasio BOPO yang lebih rendah dibanding Indonesia.

3. Tingkat kredit bermasalah relatif rendah, menandakan kualitas aset yang baik.

4. Performa cenderung konsisten dari tahun ke tahun.

Bank Singapura: paling stabil dan tangguh

1. Menunjukkan stabilitas tinggi di hampir semua indikator.

2. Likuiditas dan kecukupan modal berada pada level sehat.

3. Risiko kredit rendah dan efisiensi operasional terjaga.

4. Ketahanan ini terlihat bahkan saat tekanan ekonomi global meningkat.

Secara keseluruhan, Singapura tampil sebagai sistem perbankan paling stabil, Malaysia sebagai yang paling efisien, dan Indonesia sebagai yang paling agresif dalam menghasilkan laba namun dengan risiko lebih tinggi.

Dampak bagi investor, regulator, dan masyarakat

Bagi investor, temuan ini memberi gambaran jelas tentang profil risiko dan imbal hasil di masing-masing negara. Bank Indonesia menarik bagi pencari pertumbuhan, sementara bank Singapura lebih cocok untuk investasi jangka panjang yang mengutamakan stabilitas. Bank Malaysia menawarkan keseimbangan antara efisiensi dan risiko moderat.

Bagi manajemen bank, hasil penelitian menegaskan pentingnya menyeimbangkan laba dengan efisiensi dan pengendalian risiko. Digitalisasi, penguatan manajemen kredit, dan pengendalian biaya menjadi kunci daya saing, terutama bagi bank di pasar berkembang.

Untuk pembuat kebijakan dan regulator, studi ini menunjukkan bahwa integrasi regional tidak menghapus perbedaan nasional. Kebijakan pengawasan tetap perlu disesuaikan dengan karakter masing-masing sistem perbankan agar stabilitas keuangan regional tetap terjaga.

Pandangan penulis

Dea Agustin dan rekan-rekannya dari Universitas Jambi menekankan bahwa kinerja keuangan bank bukan sekadar soal laba. Rasio keuangan berfungsi sebagai sinyal bagi investor dan regulator tentang kesehatan bank. Profitabilitas yang tinggi perlu diimbangi dengan efisiensi dan manajemen risiko agar keberlanjutan jangka panjang dapat terjamin.

Profil penulis

Dea Agustin, S.E.  Universitas Jambi.

Wiralestari, S.E., M.Si.  Universitas Jambi.

Dica Lady Silvera, S.E.  Universitas Jambi.

Sumber

Judul artikel: Comparative of Banking Financial Performance in ASEAN: A Study of Banking in Indonesia, Malaysia, and Singapore
Jurnal: International Journal of Integrative Sciences
Tahun publikasi: 2026


Posting Komentar

0 Komentar