Peran Kontrol Diri dalam Memediasi Hubungan antara Kematangan Emosi dan Stimulus Agresi terhadap Perilaku Agresif pada Personel Brimob yang Bertugas di Wilayah X

Ilustrasi by AI
FORMOSA NEWS

Surabaya Kematangan Emosi dan Kontrol Diri Terbukti Menekan Perilaku Agresif Personel Brimob, Studi dari Surabaya. Penelitian yang dilakukan oleh A. Muhammad Fauzan Nofriansyah Putra, Dyan Evita Santi, dan Suryanto dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang dipublikasikan pada Januari 2026 di International Journal of Integrated Science and Technology (IJIST).

Penelitian yang dilakukan oleh A. Muhammad Fauzan Nofriansyah Putra, Dyan Evita Santi, dan Suryanto menemukan bahwa salah satu kunci penting untuk menekan agresivitas personel Brimob bukan hanya soal disiplin, tetapi kontrol diri yang kuat, yang dibangun dari kematangan emosi.

Penelitian menelaah hubungan antara kematangan emosi dan stimulus agresi terhadap perilaku agresif personel Brimob (Korps Brigade Mobil) yang bertugas di Wilayah X. Temuan ini penting karena memberi arah baru bagi institusi penegak hukum: pencegahan agresi bisa dilakukan lebih efektif lewat penguatan psikologis internal, bukan hanya lewat hukuman dan sanksi.

Temuan Utama: Kematangan Emosi dan Kontrol Diri Jadi Faktor Penentu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku agresif pada personel Brimob lebih banyak ditentukan oleh faktor internal dibanding faktor situasional.

1) Kematangan emosi menurunkan perilaku agresif

Penelitian menemukan hubungan negatif dan signifikan antara kematangan emosi dan perilaku agresif:

  • β = −0,203
  • p < 0,001

Artinya: semakin matang emosi seorang personel Brimob, semakin kecil kecenderungannya bertindak agresif.

2) Stimulus agresi tidak berpengaruh langsung pada perilaku agresif

Temuan menarik muncul dari variabel stimulus agresi. Penelitian menunjukkan stimulus agresi tidak signifikan terhadap perilaku agresif:

  • β = 0,015
  • p = 0,691

Dengan kata lain, provokasi atau tekanan situasional saja tidak otomatis membuat personel Brimob menjadi agresif. Peneliti menilai hal ini bisa terjadi karena Brimob memiliki pelatihan dan kesiapan mental untuk menghadapi situasi konflik sebagai bagian dari pekerjaan.

3) Kematangan emosi sangat kuat meningkatkan kontrol diri

Hasil paling kuat dalam penelitian ini adalah hubungan antara kematangan emosi dan kontrol diri:

  • β = 0,814
  • p < 0,001

Ini berarti kematangan emosi membentuk kemampuan kontrol diri yang sangat tinggi. Personel yang mampu mengelola emosinya dengan baik cenderung lebih mampu menahan impuls dan tidak mudah terpancing.

4) Stimulus agresi tidak menurunkan kontrol diri secara signifikan

Stimulus agresi juga tidak signifikan memengaruhi kontrol diri:

  • β = −0,073
  • p = 0,073

Ini memperkuat kesimpulan bahwa kontrol diri Brimob lebih ditentukan oleh kesiapan internal, bukan semata kondisi situasional.

5) Kontrol diri secara kuat menurunkan perilaku agresif

Kontrol diri terbukti menjadi pelindung utama dari perilaku agresif:

  • β = −0,649
  • p < 0,001

Artinya: semakin tinggi kontrol diri, semakin kecil peluang personel Brimob bertindak agresif, bahkan dalam situasi sulit.

Kontrol Diri Jadi “Jembatan” Utama yang Menekan Agresi

Bagian paling penting dari penelitian ini adalah analisis mediasi.

Peneliti menemukan bahwa kontrol diri berperan sebagai mediator dalam hubungan kematangan emosi dan perilaku agresif.

Kematangan emosi → kontrol diri → perilaku agresif

Jalur tidak langsung ini signifikan:

  • β = −0,528
  • p < 0,001

Maknanya: sebagian besar pengaruh kematangan emosi terhadap penurunan agresi terjadi karena kematangan emosi membentuk kontrol diri. Ini disebut sebagai mediasi parsial, karena kematangan emosi juga tetap memiliki pengaruh langsung terhadap agresi, tetapi efek lewat kontrol diri lebih besar.

Stimulus agresi → kontrol diri → perilaku agresif

Jalur ini tidak signifikan:

  • β = 0,047
  • p = 0,076

Artinya, stimulus agresi tidak cukup kuat untuk menurunkan kontrol diri dan kemudian memicu agresi.

Dampak Praktis: Arah Baru Pelatihan Brimob dan Polri

Temuan penelitian ini memberi rekomendasi praktis yang sangat jelas:

Penguatan kematangan emosi dan kontrol diri perlu menjadi bagian inti pelatihan Brimob.

Peneliti menyarankan agar institusi kepolisian mengembangkan program yang tidak hanya berorientasi pada disiplin, tetapi juga pada pembinaan psikologis, seperti:

  • pelatihan manajemen emosi
  • program regulasi stres
  • latihan penguatan kontrol diri
  • mentoring mental secara berkala
  • sistem dukungan sosial internal
  • iklim kepemimpinan yang suportif

Mereka juga menyebut pentingnya evaluasi psikologis yang bersifat membina, bukan hanya represif.

PROFIL SINGKAT PENULIS

  • ·    Muhammad Fauzan Nofriansyah Putra : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
  • ·   Dyan Evita Santi : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
  • · Suryanto : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

SUMBER PENELITIAN

Muhammad Fauzan Nofriansyah Putra, Dyan Evita Santi, Suryanto
The Role of Self-Control in Mediating the Relationship Between Emotional Maturity and Aggression Stimulus on Aggressive Behavior in Brimob Personnel Serving in Region X
International Journal of Integrated Science and Technology (IJIST) Vol. 4 No. 1 (Januari 2026), hlm. 50–67
DOI:
https://doi.org/10.59890/ijist.v4i1.264                                                    

URL: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijist


Posting Komentar

0 Komentar