Peran Pembangunan Manusia dalam Pembangunan Berorientasi Sosialis di Vietnam: Perspektif Partai


Ilustrasi by AI 

Nha Trang- Pembangunan Vietnam sejak era Renovation (Đổi Mới) tidak pernah dimaknai semata sebagai soal angka pertumbuhan ekonomi. Hal itu ditegaskan oleh Luu Mai Hoa, akademisi dari Nha Trang University, dalam artikel ilmiah yang terbit pada 2025. Kajian ini menunjukkan bahwa Partai Komunis Vietnam secara konsisten menempatkan manusia sebagai pusat, pelaku utama, sekaligus tujuan akhir pembangunan nasional.

Artikel berjudul The Role of Human Development in Vietnam’s Socialist-Oriented Development: A Party Perspective dimuat dalam International Journal of Applied and Scientific Research (IJASR), Volume 4 Nomor 1. Penelitian ini penting karena memberi gambaran utuh tentang bagaimana kebijakan pembangunan Vietnam dirancang dengan pendekatan yang berorientasi pada kualitas manusia, bukan hanya pada ekspansi ekonomi.

Manusia sebagai poros pembangunan nasional

Dalam pandangan kebijakan Vietnam, pembangunan yang berhasil bukan diukur dari besarnya produk domestik bruto semata, melainkan dari sejauh mana kesejahteraan, martabat, dan kapasitas manusia berkembang. Gagasan ini berakar kuat pada pemikiran Marxism–Leninisme dan ajaran Ho Chi Minh, yang menempatkan manusia sebagai faktor penentu perubahan sosial.

Luu Mai Hoa menjelaskan bahwa sejak awal kebijakan pembaruan pada akhir 1980-an, dokumen-dokumen resmi Partai Komunis Vietnam selalu menegaskan satu hal: rakyat adalah sumber daya paling berharga bangsa. Pembangunan ekonomi hanya dianggap bermakna jika berkontribusi langsung pada peningkatan kualitas hidup, pendidikan, moral, dan tanggung jawab sosial masyarakat.

Latar belakang: Reformasi ekonomi dan tantangan global

Kebijakan Renovation diluncurkan Vietnam pada 1986 sebagai respons terhadap stagnasi ekonomi dan perubahan global. Namun berbeda dengan banyak negara yang fokus mengejar industrialisasi cepat, Vietnam memilih jalur yang lebih berhati-hati dengan menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial.

Menurut artikel ini, globalisasi dan integrasi internasional justru memperkuat urgensi pembangunan manusia. Tantangan seperti persaingan tenaga kerja, kemajuan teknologi, dan perubahan struktur ekonomi menuntut sumber daya manusia yang terdidik, adaptif, dan bermoral. Karena itu, pembangunan manusia dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga ketahanan nasional.

Cara penelitian dilakukan

Alih-alih menggunakan survei atau eksperimen, penelitian ini mengkaji secara mendalam dokumen resmi Partai Komunis Vietnam dari Kongres ke-6 hingga Kongres ke-13. Penulis menelusuri perubahan dan kesinambungan gagasan pembangunan manusia selama hampir empat dekade.

Pendekatan ini memungkinkan pembaca memahami bagaimana kebijakan negara dibentuk secara historis, serta bagaimana konsep manusia sebagai subjek pembangunan diterjemahkan ke dalam strategi pendidikan, kebudayaan, dan kebijakan sosial.

Temuan utama: konsistensi lintas dekade

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah konsistensi arah kebijakan Vietnam. Sejak awal 1990-an, pendidikan dan pelatihan selalu ditempatkan sebagai prioritas nasional. Manusia tidak dipandang sekadar tenaga kerja, melainkan individu dengan potensi intelektual, moral, dan spiritual.

Beberapa poin utama yang disoroti dalam artikel ini antara lain:

  • Pembangunan manusia selalu diposisikan sebagai tujuan sekaligus penggerak pembangunan.

  • Pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi dipandang sebagai kunci modernisasi nasional.

  • Keadilan sosial dan pemerataan akses layanan publik menjadi prasyarat pengembangan potensi manusia.

  • Budaya dan nilai moral dianggap fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan.

Pada fase industrialisasi dan modernisasi yang lebih intensif sejak akhir 1990-an, kebijakan Vietnam semakin menekankan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan tinggi, pelatihan keterampilan, dan pembentukan karakter menjadi bagian integral dari strategi pembangunan.

Dari ekonomi ke kualitas hidup

Artikel ini juga menegaskan bahwa Vietnam berupaya menghindari jebakan pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Kebijakan negara diarahkan untuk memastikan bahwa hasil pembangunan dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.

Dalam dokumen-dokumen Partai, pembangunan manusia selalu dikaitkan dengan peningkatan kualitas hidup, perlindungan hak asasi manusia, serta penguatan partisipasi rakyat dalam proses pengambilan keputusan. Dengan kata lain, manusia bukan hanya objek kebijakan, tetapi juga aktor utama dalam pembangunan.

Dampak bagi kebijakan dan masyarakat

Temuan penelitian ini relevan bagi banyak negara berkembang yang tengah mencari model pembangunan alternatif. Pendekatan Vietnam menunjukkan bahwa investasi pada manusia—melalui pendidikan, budaya, dan keadilan sosial—dapat menjadi fondasi kuat bagi stabilitas dan kemajuan jangka panjang.

Bagi pembuat kebijakan, kajian ini menegaskan pentingnya menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan pembangunan manusia. Bagi dunia pendidikan, penelitian ini memperlihatkan peran strategis institusi pendidikan dalam membentuk sumber daya manusia yang siap menghadapi perubahan global.

Pandangan penulis

Luu Mai Hoa menekankan bahwa pembangunan manusia bukan agenda jangka pendek. Menurutnya, keberhasilan Vietnam menjaga stabilitas sosial dan meningkatkan kesejahteraan rakyat tidak lepas dari konsistensi kebijakan yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan.

Ia juga menyoroti bahwa tantangan ke depan—mulai dari ekonomi digital hingga perubahan demografi—menuntut komitmen yang lebih kuat terhadap pengembangan kualitas manusia.

Profil penulis

Luu Mai Hoa
Dosen dan peneliti di Nha Trang University, Vietnam.
Bidang keahlian: teori pembangunan, kebijakan publik, dan pemikiran politik Vietnam.

Sumber penelitian

Posting Komentar

0 Komentar