Peran Guru dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Anak Usia Dini Melalui Permainan Kreatif di Taman Kanak-kanak Indriya Luwuk



Guru TK Indriya Luwuk Membuktikan Permainan Kreatif Bisa Mengasah Berpikir Kritis Anak Usia Dini

Luwuk, Formosa News — Cara anak-anak taman kanak-kanak berpikir, bertanya, dan memecahkan masalah ternyata sangat bergantung pada bagaimana gurunya merancang kegiatan bermain di kelas. Penelitian terbaru dari tim Universitas Muhammadiyah Luwuk menunjukkan bahwa peran aktif guru dalam merancang dan mendampingi permainan kreatif mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis anak usia dini di TK Indriya Luwuk, Kabupaten Banggai. Studi ini dilakukan sepanjang tahun ajaran 2025 oleh Suma K. Saleh, Anik Mufarrihah, Karmila P. Lamadang, dan Yuyun Febriani, dan dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Integrative Research (IJIR). Temuannya penting karena memberi bukti konkret bahwa metode bermain terstruktur bisa menjadi strategi ampuh membangun pola pikir kritis sejak usia dini.

Selama ini, pendidikan anak usia dini sering berfokus pada pengenalan huruf, angka, dan keterampilan motorik. Namun, penelitian ini menyoroti aspek yang lebih mendasar: bagaimana anak belajar berpikir. Di banyak kelas TK, anak masih sering diarahkan untuk mengikuti instruksi guru secara pasif. Di TK Indriya Luwuk, para peneliti menemukan pendekatan berbeda. Guru tidak hanya mengajar, tetapi bertindak sebagai fasilitator, perancang aktivitas, pendamping, dan pengamat yang peka terhadap perkembangan setiap anak. Alih-alih memberi jawaban langsung, guru justru mendorong anak bertanya, mencoba, gagal, dan mencoba lagi.

Latar belakang penelitian ini berangkat dari realitas di kelas. Guru-guru TK Indriya Luwuk menghadapi karakter siswa yang beragam: ada yang aktif dan kritis, ada pula yang pendiam dan cenderung pasif. Perbedaan kecepatan belajar juga terlihat jelas. Sebagian anak cepat memahami materi, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama. Kondisi ini memicu para peneliti untuk melihat apakah pendekatan berbasis permainan kreatif dapat membantu meratakan kesempatan anak untuk berkembang, terutama dalam hal berpikir kritis.

Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif deskriptif. Tim peneliti melakukan observasi langsung di kelas, mewawancarai guru dan kepala sekolah, serta mendokumentasikan aktivitas pembelajaran. Subjek penelitian adalah 17 anak kelompok A TK Indriya Luwuk beserta guru mereka. Alih-alih mengukur hasil dengan tes tertulis, peneliti mengamati perubahan perilaku berpikir anak selama mereka terlibat dalam berbagai permainan kreatif.

Hasilnya cukup meyakinkan. Guru-guru TK Indriya Luwuk secara konsisten merancang permainan yang menantang sekaligus menyenangkan. Beberapa aktivitas yang paling sering digunakan antara lain menyusun balok, meronce, bermain peran, membuat kolase, bermain plastisin, serta melakukan eksperimen sederhana. Setiap permainan dikaitkan dengan tema pembelajaran mingguan dan disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.

Dalam praktiknya, guru berperan sebagai fasilitator dengan menyiapkan bahan dan alat, lalu memberi instruksi sederhana yang tetap terbuka. Seorang guru kelompok A menjelaskan, “Kami menyiapkan alatnya, memberi contoh sedikit, lalu membiarkan anak-anak berkreasi sendiri.” Pendekatan ini membuat anak merasa aman untuk bereksperimen tanpa takut salah.

Sebagai pendamping, guru tidak hanya mengawasi, tetapi aktif memancing cara berpikir anak dengan pertanyaan terbuka seperti, “Menurutmu apa yang akan terjadi kalau ini digeser?” atau “Bagaimana caranya supaya bangunan ini tidak roboh?” Pertanyaan semacam ini terbukti efektif membuat anak berpikir lebih dalam, mencoba berbagai strategi, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri.

Peran guru sebagai pengamat juga sangat penting. Selama anak bermain, guru mencatat bagaimana mereka berinteraksi, bagaimana mereka memecahkan masalah, dan bagaimana mereka mengekspresikan ide. Catatan ini kemudian digunakan untuk merancang aktivitas berikutnya agar lebih sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

Dampak dari pendekatan ini terlihat nyata di kelas. Anak-anak menjadi lebih berani bertanya, lebih percaya diri menyampaikan pendapat, dan lebih tekun mencari solusi saat menghadapi tantangan. Mereka juga mulai menunjukkan kemampuan mengevaluasi hasil kerja sendiri, misalnya dengan berkata, “Ini belum kuat, aku mau coba cara lain.”

Kepala TK Indriya Luwuk menegaskan bahwa guru sengaja menghindari memberi jawaban instan. “Kami membimbing anak untuk menemukan jawabannya sendiri. Itu jauh lebih berharga daripada sekadar memberi solusi,” katanya.

Penelitian ini memiliki implikasi luas bagi dunia pendidikan anak usia dini. Bagi sekolah, temuan ini menunjukkan bahwa investasi pada pelatihan guru dan penyediaan media bermain yang variatif sangat penting. Bagi orang tua, studi ini menjadi pengingat bahwa stimulasi berpikir kritis tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga bisa dilanjutkan di rumah melalui permainan sederhana, bercerita, atau eksperimen kecil yang menyenangkan.

Bagi pembuat kebijakan pendidikan, hasil penelitian ini mendukung pendekatan kurikulum yang lebih berbasis bermain dan eksplorasi, bukan sekadar hafalan. Pendidikan anak usia dini tidak hanya soal kesiapan akademik, tetapi juga pembentukan cara berpikir yang akan dibawa anak sepanjang hidupnya.

Dalam parafrase akademik yang merangkum temuan mereka, Karmila P. Lamadang dari Universitas Muhammadiyah Luwuk menekankan bahwa “peran guru yang optimal dalam mengelola permainan kreatif menciptakan lingkungan belajar yang aman, interaktif, dan menantang, yang pada akhirnya mempercepat perkembangan berpikir kritis anak.”

Profil Singkat Penulis

Suma K. Saleh, S.Pd., M.Pd. — Dosen Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Muhammadiyah Luwuk; fokus riset pada metode pembelajaran kreatif dan perkembangan kognitif anak.

Anik Mufarrihah, S.Pd., M.Pd. — Dosen dan peneliti PAUD, Universitas Muhammadiyah Luwuk; meneliti strategi pembelajaran berbasis bermain.

Karmila P. Lamadang, S.Pd., M.Pd. — Dosen PAUD, Universitas Muhammadiyah Luwuk; pakar perkembangan anak usia dini dan pembelajaran berbasis aktivitas.

Yuyun Febriani, S.Pd., M.Pd. — Akademisi Universitas Muhammadiyah Luwuk dengan minat riset pada pendidikan karakter dan kreativitas anak.

Sumber Penelitian

Judul artikel: The Role of Teachers in Improving Early Childhood's Critical Thinking Abilities Through Creative Games at Indriya Luwuk Kindergarten
Jurnal: International Journal of Integrative Research (IJIR)
Tahun: 2026
DOI: https://doi.org/10.59890/ijir.v4i1.125
URL jurnal: https://mrymultitechpublisher.my.id/index.php/ijir

Posting Komentar

0 Komentar