Riset tersebut dipublikasikan di Indonesian Journal of Advanced Research Volume 5 Nomor 2 Tahun 2026. Fokus kajiannya adalah Kelompok Wanita Tani (KWT) Sahabat Sampah di Bekasi, sebuah komunitas perempuan yang menggabungkan pengelolaan sampah rumah tangga dengan budidaya sayuran hidroponik.
Menjawab Tantangan Sampah Perkotaan
Kota Bekasi menghadapi tekanan serius akibat pertumbuhan penduduk dan produksi sampah rumah tangga yang tinggi. Sekitar 1.800 ton sampah dihasilkan setiap hari, dan sebagian besar belum tertangani secara optimal. Situasi ini menciptakan beban lingkungan sekaligus risiko kesehatan masyarakat.
Di tengah persoalan tersebut, KWT Sahabat Sampah hadir dengan pendekatan terpadu. Berdiri pada 2019, kelompok ini mengubah lahan bekas pembuangan sampah ilegal menjadi bank sampah sekaligus kebun hidroponik. Anggota memilah sampah anorganik untuk didaur ulang, mengolah sampah organik menjadi kompos, dan menanam sayuran yang dijual ke pasar lokal.
Model ini tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi ibu rumah tangga. Namun, keberhasilan semacam ini tidak berdiri sendiri. Peran penyuluh pertanian menjadi kunci dalam mengarahkan, memfasilitasi, dan menguatkan tata kelola kelompok.
Metode: Libatkan Seluruh Anggota
Penelitian dilakukan pada Februari–Maret 2025 dengan pendekatan kuantitatif deskriptif. Seluruh 35 anggota KWT dilibatkan melalui metode sensus. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur, observasi lapangan, dan wawancara dengan penyuluh yang mendampingi kelompok.
Peneliti mengukur dua aspek utama:
- Peran penyuluh pertanian (edukasi, penyebaran informasi, fasilitasi, konsultasi, supervisi, evaluasi).
- Tingkat perkembangan kelembagaan kelompok (partisipasi pengambilan keputusan, pelaksanaan program, monitoring dan evaluasi, serta pemanfaatan manfaat ekonomi).
Analisis dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi Spearman.
Hasil: Fasilitasi Jadi Kunci
Hasil penelitian menunjukkan seluruh dimensi peran penyuluh berada dalam kategori tinggi. Fungsi fasilitasi memperoleh skor tertinggi (rata-rata 2,74 dari skala 3), disusul edukasi dan supervisi. Secara keseluruhan, kinerja penyuluh dinilai sangat baik (rata-rata 2,56).
Artinya, penyuluh tidak sekadar menyampaikan materi teknis, tetapi aktif:
- Menghubungkan kelompok dengan program pemerintah kota
- Membantu akses pemanfaatan lahan publik
- Memfasilitasi pertemuan rutin dan musyawarah
- Mendampingi pengurusan perizinan
“Pendekatan partisipatif membuat kelompok lebih percaya diri dalam mengambil keputusan,” tulis Unang dari Siliwangi University dalam artikelnya. Penyuluh berperan sebagai penghubung antara komunitas dan sistem birokrasi, bukan sebagai instruktur satu arah.
Kelembagaan Kuat, Ekonomi Masih Terbatas
Indikator kelembagaan juga menunjukkan hasil tinggi. Anggota aktif berdiskusi menentukan jenis tanaman, pembagian hasil, dan evaluasi program. Kepemimpinan yang bergilir memperkuat rasa memiliki dan akuntabilitas internal.
Namun, aspek pemanfaatan manfaat ekonomi mendapat skor sedikit lebih rendah dibanding indikator lain. Penjualan sayuran hidroponik umumnya masih sebatas menutup biaya operasional. Kelompok belum memiliki kapasitas investasi ulang yang signifikan.
Peneliti mencatat bahwa akses ke pembiayaan, skema pengadaan pemerintah, atau kemitraan pasar dapat menjadi solusi untuk memperkuat keberlanjutan finansial.
Hubungan Kuat antara Penyuluhan dan Kelembagaan
Uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara intensitas peran penyuluh dan perkembangan kelembagaan (ρ = 0,678; p < 0,01). Angka ini menunjukkan asosiasi yang kuat.
Walau desain penelitian tidak membuktikan sebab-akibat secara langsung, temuan ini memperlihatkan bahwa semakin aktif dan partisipatif penyuluhan dilakukan, semakin kokoh struktur organisasi kelompok.
Dalam konteks perkotaan, penyuluh bertindak sebagai “aktor batas” yang menjembatani komunitas informal dengan lembaga formal pemerintah. Pendekatan ini memperluas ruang gerak kelompok perempuan dalam tata kelola lingkungan kota.
Dampak bagi Kebijakan dan Masyarakat
Penelitian ini memberi beberapa implikasi penting:
- Penyuluhan perkotaan perlu kompetensi lintas sektor, tidak hanya teknis pertanian.
- Kolaborasi antara dinas pertanian dan dinas lingkungan hidup harus diperkuat.
- Kelompok perempuan dapat menjadi motor pengelolaan sampah berbasis komunitas.
- Dukungan akses pembiayaan menjadi faktor penentu keberlanjutan ekonomi.
Model KWT Sahabat Sampah menunjukkan bahwa keberlanjutan kota tidak hanya bergantung pada infrastruktur besar, tetapi juga pada kapasitas organisasi komunitas di tingkat lingkungan.
Profil Penulis
Unang, S.P., M.Si. adalah dosen Agribisnis di Siliwangi University dengan keahlian di bidang penyuluhan pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan kelembagaan agribisnis.
Tedi Hartoyo, S.P., M.Si. merupakan akademisi di universitas yang sama, dengan fokus pada metodologi statistik dan analisis data dalam riset sosial pertanian.
Keduanya aktif meneliti transformasi penyuluhan dalam konteks perubahan sosial dan urbanisasi.
Sumber Penelitian
Unang & Hartoyo. 2026. “Reframing Agricultural Extension in Urban Sustainability: The Role of Extension Agents in Strengthening Women-Led Urban Farming Institutions.” Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5, No. 2, hlm. 233–240.
0 Komentar