Yogyakarta— Modul pembelajaran bioteknologi berbasis proyek yang mengangkat praktik fermentasi tapai terbukti mampu meningkatkan motivasi dan kreativitas siswa SMA. Temuan ini diungkap dalam riset Mitiar Hamid Kampai dan Paidi dari Universitas Negeri Yogyakarta yang dipublikasikan tahun 2026 di International Journal of Education and Life Sciences.
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) terus menghasilkan riset pendidikan yang menghubungkan sains dengan konteks budaya lokal. Penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran biologi mampu membuat materi bioteknologi yang selama ini dianggap abstrak menjadi lebih kontekstual, menarik, dan relevan bagi siswa.
Bioteknologi sering dianggap abstrak oleh siswa
Materi bioteknologi di SMA menuntut siswa tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga memahami proses ilmiah, mengambil keputusan berbasis bukti, dan menghasilkan ide kreatif. Namun, kenyataannya banyak siswa mengalami penurunan motivasi karena materi dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari.
Peneliti menilai pembelajaran akan lebih bermakna ketika konsep sains dihubungkan dengan pengalaman budaya yang dekat dengan siswa. Salah satu contoh nyata adalah tapai—produk fermentasi tradisional yang sarat konsep mikrobiologi dan proses kimia.
Fermentasi tapai melibatkan pemilihan bahan, penggunaan ragi, serta perubahan kimia selama proses berlangsung, sehingga sangat relevan sebagai konteks pembelajaran bioteknologi berbasis proyek.
Mengembangkan modul digital berbasis proyek dan
kearifan lokal
Penelitian ini mengembangkan
e-module bioteknologi menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development,
Implementation, Evaluation).
Modul yang dikembangkan
menggabungkan:
- Project Based Learning (PjBL)
- Pendekatan etnopedagogi melalui pembuatan
tapai
- Materi digital interaktif sebagai panduan
proyek
Proyek tapai dirancang
melalui tahapan:
- Perencanaan
- Eksperimen
- Dokumentasi
- Presentasi
- Refleksi
Penelitian dilaksanakan di
SMA Negeri 1 Kampar Timur dengan:
- Uji keterbacaan pada 6 siswa
- Uji lapangan pada dua kelas X
(masing-masing 30 siswa)
- Kelas eksperimen
menggunakan e-module
- Kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional
Validasi ahli menunjukkan modul layak digunakan
Sebelum diterapkan di kelas,
modul divalidasi oleh ahli dan praktisi.
Hasil validasi menunjukkan:
- Ahli materi: kategori tinggi (skor 3,45)
- Ahli media: kategori sedang (2,60)
- Praktisi pendidikan: kategori tinggi
(3,61 dan 3,95)
- Keterbacaan siswa: kategori sangat tinggi
(skor 92–99)
Hasil ini menegaskan bahwa modul layak digunakan dalam pembelajaran biologi di sekolah.
Motivasi belajar meningkat signifikan
Perbandingan hasil pretest
dan posttest menunjukkan peningkatan motivasi belajar yang lebih tinggi pada
kelas eksperimen.
Peningkatan motivasi (N-gain):
- Kelas kontrol: 0,15 (rendah)
- Kelas eksperimen: 0,35 (sedang)
Siswa yang menggunakan modul berbasis proyek menunjukkan peningkatan motivasi yang jauh lebih besar dibanding pembelajaran biasa.
Kreativitas siswa juga meningkat
Hasil serupa terlihat pada
peningkatan kreativitas.
Peningkatan kreativitas (N-gain):
- Kelas kontrol: 0,12 (rendah)
- Kelas eksperimen: 0,31 (sedang)
Siswa lebih mampu:
- Menghasilkan ide eksperimen
- Memodifikasi prosedur fermentasi
- Mengembangkan produk
- Menyampaikan hasil secara kreatif
Uji statistik MANOVA menunjukkan perbedaan peningkatan motivasi dan kreativitas antara kedua kelas signifikan secara statistik.
Mengapa proyek tapai efektif
Proyek fermentasi tapai
memberikan konteks nyata bagi siswa untuk memahami bioteknologi.
Siswa terlibat langsung
dalam:
- Mendesain prosedur eksperimen
- Mengamati proses fermentasi
- Mendokumentasikan hasil
- Menyajikan temuan ilmiah
Menurut peneliti dari
Universitas Negeri Yogyakarta, integrasi budaya lokal membantu siswa memahami
bahwa sains berkembang dari praktik masyarakat sehari-hari.
Pendekatan ini membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan.
Modul digital mendukung belajar mandiri dan
kolaboratif
E-module berfungsi sebagai
peta jalan pembelajaran yang berisi:
- Peta konsep dan panduan penggunaan
- Konten interaktif dan video
- Rubrik penilaian dan evaluasi
Siswa dapat belajar mandiri
sekaligus bekerja sama dalam proyek.
Namun, peneliti menekankan bahwa keberhasilan implementasi memerlukan dukungan infrastruktur teknologi, literasi digital, dan kesiapan guru.
Implikasi bagi dunia pendidikan
Temuan penelitian ini
membawa beberapa implikasi penting:
Bagi guru
Pembelajaran berbasis proyek dan kearifan lokal dapat meningkatkan keterlibatan
siswa dalam sains.
Bagi sekolah
Modul digital dapat mendukung pembelajaran mandiri dan kolaboratif.
Bagi pembuat kebijakan
Integrasi budaya lokal dalam pendidikan STEM dapat memperkuat keterampilan abad
ke-21 seperti kreativitas dan motivasi belajar.
Modul ini juga berpotensi diadaptasi di sekolah lain.
Dampak lebih luas: menghubungkan sains dan budaya
Penelitian ini menunjukkan
bahwa kearifan lokal dapat menjadi sumber belajar sains yang kuat. Siswa tidak
hanya memahami teori, tetapi juga melihat penerapan nyata dalam kehidupan
sehari-hari.
Pendekatan ini memperkuat keterlibatan emosional sekaligus pemahaman konsep ilmiah.
Profil penulis
- Mitiar Hamid Kampai - Universitas Negeri Yogyakarta
- Paidi - Universitas Negeri Yogyakarta
Sumber Penelitian
Mitiar Hamid Kampai, Paidi. Development of Project-Based Learning Assisted by Modules and the Ethnopedagogy of “Tapai Making” in Biotechnology Materials to Enhance Learning Motivation and Creativity of Phase E Students. International Journal of Education and Life Sciences, Vol. 4 No. 2, hlm. 75-92. 2026.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijels.v4i2.272
URL Resmi: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijels

0 Komentar