Penelitian yang dilakukan oleh Dewi Anggraini dan Nurulanningsih mengungkapkan bagaimana sarkasme, yang awalnya dipahami sebagai gaya bahasa sindiran, kini semakin dinormalisasi dalam komunikasi digital dan berpotensi menggerus etika berbahasa.
Sarkasme dan Pergeseran Etika Berbahasa
Media sosial telah menjadi ruang utama Generasi Z untuk berpendapat, mengekspresikan emosi, hingga mengkritik figur publik. Dalam praktiknya, sarkasme sering digunakan sebagai alat untuk menyampaikan ketidaksetujuan secara tajam dan langsung. Namun, menurut peneliti Universitas Tridinanti, penggunaan sarkasme yang tidak terkendali justru mengaburkan batas antara kritik dan penghinaan.
Sarkasme tidak lagi sekadar sindiran halus, melainkan berkembang menjadi komentar sinis, ejekan personal, hingga ujaran kebencian. Dalam banyak kasus, bahasa semacam ini dinormalisasi karena dianggap sebagai bagian dari kebebasan berekspresi di media sosial.
Pendekatan Penelitian Berbasis Studi Literatur
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka. Anggraini dan Nurulanningsih mengkaji berbagai jurnal ilmiah, artikel akademik, dan sumber teoretis yang membahas sarkasme, kesantunan berbahasa, etika komunikasi, serta perilaku Generasi Z di media sosial.
Data dianalisis secara deskriptif untuk menemukan pola penggunaan sarkasme dan dampaknya terhadap norma kesantunan bahasa tulis. Untuk menjaga keakuratan, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan teori, termasuk perspektif linguistik pragmatik dan teori komunikasi digital.
Temuan Penting dari Hasil Penelitian
Hasil kajian menunjukkan bahwa sarkasme merupakan salah satu gaya bahasa yang paling sering digunakan oleh Generasi Z dalam komunikasi daring. Sarkasme kerap muncul dalam konteks:
- kritik terhadap figur publik,
- respons terhadap isu sosial dan politik,
- komentar dalam diskusi viral di media sosial.
Penelitian ini juga menemukan bahwa banyak pengguna tidak menyadari bahwa bahasa sarkastik yang mereka gunakan melanggar prinsip kesantunan berbahasa. Sarkasme sering dianggap wajar karena dikemas dalam bentuk humor atau sindiran kreatif, padahal berpotensi menyinggung dan merusak hubungan sosial.
Selain itu, rendahnya literasi digital dan minimnya pendidikan etika komunikasi memperkuat kecenderungan penggunaan bahasa yang kasar dan tidak empatik.
Mengapa Temuan Ini Penting?
Penulis menegaskan bahwa bahasa mencerminkan nilai sosial. Ketika sarkasme agresif menjadi norma, budaya komunikasi publik ikut berubah. Normalisasi bahasa yang merendahkan dapat menciptakan ruang digital yang tidak ramah, defensif, dan penuh konflik.
Nurulanningsih menekankan bahwa kesantunan berbahasa bukan sekadar soal tata krama, tetapi juga mencerminkan karakter dan identitas bangsa. “Jika dibiarkan, kebiasaan berbahasa sarkastik dapat melemahkan nilai empati dan saling menghargai di masyarakat digital,” tulisnya dalam artikel.
Solusi: Literasi Digital dan Pendidikan Etika Bahasa
Sebagai solusi, peneliti merekomendasikan penguatan literasi digital dan etika berbahasa sejak usia dini. Sekolah dan keluarga dinilai memiliki peran penting dalam membiasakan komunikasi yang empatik dan konstruktif.
Selain itu, platform media sosial juga diharapkan lebih aktif dalam mengedukasi pengguna terkait dampak bahasa sarkastik, misalnya melalui fitur pengingat etika berkomentar atau kampanye literasi digital.
Menurut peneliti, media sosial seharusnya tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga sarana membangun komunikasi yang sehat dan beradab.
Dampak bagi Masyarakat dan Dunia Pendidikan
Penelitian ini memberikan gambaran nyata tentang tantangan komunikasi digital di era Generasi Z. Temuan ini relevan bagi:
- pendidik yang membentuk karakter siswa,
- orang tua yang mendampingi anak di ruang digital,
- pembuat kebijakan di bidang pendidikan dan literasi digital.
Di sisi akademik, studi ini memperkaya kajian linguistik terapan dan komunikasi digital, khususnya terkait sarkasme dan kesantunan berbahasa di media sosial—topik yang semakin penting di tengah pesatnya digitalisasi.
Profil Singkat Penulis
- Dewi Anggraini.
Peneliti di bidang pendidikan dan bahasa, Universitas Tridinanti. Fokus kajian pada komunikasi digital dan perilaku bahasa generasi muda. - Nurulanningsih.
Dosen Universitas Tridinanti. Keahlian dalam linguistik terapan, etika berbahasa, dan pendidikan karakter. Bertindak sebagai penulis korespondensi.
Sumber Penelitian
Anggraini, D., & Nurulanningsih. (2026). The Influence of Sarcasm on Social Media: The Dilemma of Eroding Manners and Politeness in Language among Gen Z.Asian Journal of Applied Education (AJAE), Vol. 5 No. 1, 219–232.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajae.v5i1.15649
URL Resmi: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajae
0 Komentar