Sukabumi, Jawa Barat— Pengaruh Pembinaan Disiplin Kerja dan
Motivasi Kerja terhadap Kepuasan Kerja Aparatur Sipil Negara UPT XYZ Sukabumi.
Penelitian ini dilakukan oleh Havsyah Abellia dan Khaerul Rizal Abdurahman dari
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI), yang dipublikasikan
dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) tahun
2026.
Penelitian yang dilakukan oleh Havsyah
Abellia dan Khaerul Rizal Abdurahman mengungkapkan bahwa motivasi kerja
memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja aparatur sipil negara
(ASN), sementara pembinaan disiplin kerja tidak memberikan pengaruh langsung
secara parsial.
Kepuasan
kerja ASN sebagai kunci kualitas layanan publik
Dalam
konteks organisasi pemerintah, kepuasan kerja bukan sekadar indikator
kenyamanan pegawai, tetapi berkaitan erat dengan kinerja, komitmen, serta
efektivitas pelayanan. Peneliti menemukan bahwa di UPT XYZ Sukabumi masih
terdapat indikasi kepuasan kerja yang belum optimal, tercermin dari data
absensi tanpa keterangan serta tingkat keterlambatan pegawai yang cukup tinggi
sepanjang tahun 2024.
Fenomena
tersebut menunjukkan bahwa aspek manajemen sumber daya manusia perlu diperkuat,
terutama melalui strategi yang mampu meningkatkan motivasi internal pegawai.
Dalam banyak kasus, organisasi publik cenderung fokus pada aturan dan disiplin
formal, namun kurang memberi perhatian pada faktor motivasional yang
memengaruhi sikap dan keterlibatan kerja.
Disiplin
kerja: penting sebagai kontrol, tetapi bukan penentu kepuasan
Berdasarkan
analisis data, pembinaan disiplin kerja di UPT XYZ Sukabumi telah berjalan
cukup baik. Hal ini terlihat dari penerapan aturan, pemberian sanksi, serta
pelatihan disiplin yang memperoleh penilaian positif dari responden. Namun,
hasil uji statistik menunjukkan bahwa disiplin kerja tidak berpengaruh
signifikan terhadap tingkat kepuasan kerja secara langsung.
Peneliti
menjelaskan bahwa disiplin lebih berfungsi sebagai mekanisme pengendalian
perilaku dan kewajiban organisasi. Artinya, disiplin menjaga stabilitas
operasional, tetapi tidak selalu menciptakan rasa puas secara psikologis.
Pegawai mungkin mematuhi aturan karena kewajiban, bukan karena merasa lebih
bahagia atau terpenuhi dalam pekerjaan mereka.
Motivasi
kerja terbukti meningkatkan kepuasan pegawai
Berbeda
dengan disiplin kerja, motivasi kerja menunjukkan pengaruh positif dan signifikan
terhadap kepuasan kerja ASN. Pegawai yang memiliki dorongan internal tinggi,
merasa diakui, memiliki tanggung jawab jelas, serta melihat peluang
pengembangan karier cenderung memiliki tingkat kepuasan lebih tinggi.
Penelitian
mencatat beberapa indikator motivasi yang berperan penting, antara lain:
- Keinginan mencapai prestasi dan menghasilkan kinerja optimal.
- Kebutuhan akan pengakuan dan penghargaan atas hasil kerja.
- Tanggung jawab terhadap tugas dan kepatuhan pada standar
operasional.
- Kesempatan pengembangan kompetensi dan pertumbuhan karier.
Hasil
analisis regresi menunjukkan bahwa motivasi kerja menjadi variabel paling
dominan dalam meningkatkan kepuasan kerja dibandingkan pembinaan disiplin.
Pengaruh
simultan: kombinasi disiplin dan motivasi tetap penting
Meskipun
disiplin kerja tidak berpengaruh secara parsial, penelitian menemukan bahwa
ketika digabungkan dengan motivasi kerja, kedua variabel secara simultan mampu
menjelaskan sekitar 65,9 persen variasi kepuasan kerja ASN. Artinya, disiplin
tetap memiliki peran sebagai fondasi organisasi, sementara motivasi berfungsi
sebagai pendorong utama yang meningkatkan pengalaman kerja pegawai.
Menurut
Havsyah Abellia dan Khaerul Rizal Abdurahman dari UNJANI, organisasi publik
perlu menggeser paradigma dari sekadar kontrol berbasis aturan menuju
pendekatan yang lebih human-centered. Penguatan motivasi melalui penghargaan,
komunikasi terbuka, serta peluang pengembangan diri dapat menciptakan
lingkungan kerja yang lebih positif.
Implikasi
bagi manajemen SDM sektor publik
Temuan
penelitian ini memberikan sejumlah rekomendasi strategis bagi instansi
pemerintah:
1.
Mengembangkan program peningkatan motivasi
kerja berbasis pengakuan dan penghargaan kinerja.
2.
Menyediakan jalur karier yang jelas dan
peluang pengembangan kompetensi.
3.
Menjaga konsistensi penerapan disiplin sebagai
sistem kontrol, namun tidak menjadikannya satu-satunya pendekatan manajemen.
4.
Menciptakan lingkungan kerja yang mendukung
keseimbangan antara tuntutan organisasi dan kebutuhan psikologis pegawai.
Bagi
pembuat kebijakan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas
layanan publik tidak cukup hanya melalui reformasi struktural, tetapi juga
membutuhkan strategi pengelolaan SDM yang memperhatikan aspek motivasional.
Profil penulis
•
Havsyah Abellia –Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI).
•
Khaerul Rizal Abdurahman –Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI)
Sumber
penelitian
Abellia, H., & Abdurahman, K. R.
(2026). The Effect of Work Discipline Development and Work Motivation on the
Job Satisfaction of UPT XYZ Sukabumi Civil Servants.
East Asian
Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 2, hlm. 387–402.
DOI Prefix: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i2.6
URL Resmi: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar