Pengaruh Keterlibatan Karyawan, Kepemimpinan Transformasional, dan Beban Kerja terhadap Fenomena Quiet Quitting di Kalangan Karyawan Gen Z

Ilustrasi by AI 

Keterlibatan Kerja dan Kepemimpinan Jadi Kunci Redam Quiet Quitting Gen Z di Kedai Kopi

Fenomena quiet quitting di kalangan pekerja Generasi Z kini menjadi perhatian serius dunia kerja. Sebuah riset yang dipublikasikan awal 2026 menunjukkan bahwa keterlibatan karyawan, gaya kepemimpinan, dan beban kerja sangat menentukan muncul atau tidaknya perilaku tersebut. Penelitian ini dilakukan oleh Evita Novilia bersama Gleydis Harwida, Samlatul Izzah, Cepy Nurmalia Wahyuningtias, dan Nur Hasan dari Universitas Nahdlatul Ulama Blitar serta UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, dan dimuat dalam International Journal of Integrative Sciences (IJIS) edisi Vol. 5 No. 1 tahun 2026. Temuan ini penting karena quiet quitting—bekerja sekadar memenuhi kewajiban tanpa keterlibatan emosional—berdampak langsung pada produktivitas dan keberlanjutan usaha, terutama di sektor jasa seperti kedai kopi.

Latar Belakang: Quiet Quitting dan Dunia Kerja Gen Z

Dalam beberapa tahun terakhir, Generasi Z semakin mendominasi pasar tenaga kerja, khususnya di sektor usaha mikro dan kecil seperti kedai kopi. Generasi ini dikenal menghargai keseimbangan hidup, kesehatan mental, serta lingkungan kerja yang suportif. Namun, ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, banyak pekerja Gen Z memilih bertahan secara formal tetapi menarik diri secara psikologis. Inilah yang dikenal sebagai quiet quitting.

Di Indonesia, khususnya di kota-kota berkembang seperti Blitar, kedai kopi lokal menghadapi tantangan pengelolaan sumber daya manusia. Tingginya tuntutan layanan, keterbatasan sumber daya, dan gaya kepemimpinan yang belum adaptif membuat risiko quiet quitting semakin besar. Penelitian ini hadir untuk menjelaskan faktor-faktor kunci di balik fenomena tersebut.

Metodologi Penelitian dengan Bahasa Sederhana

Tim peneliti melakukan survei kuantitatif terhadap 130 karyawan Generasi Z yang bekerja di kedai kopi lokal di Kota Blitar. Seluruh responden telah bekerja minimal enam bulan dan terlibat langsung dalam operasional layanan. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala lima poin yang mengukur tingkat keterlibatan kerja, persepsi terhadap kepemimpinan, beban kerja, dan kecenderungan quiet quitting.

Analisis dilakukan menggunakan regresi linier berganda untuk melihat pengaruh masing-masing faktor, baik secara terpisah maupun bersama-sama. Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi faktor mana yang paling berperan dalam menekan atau justru mendorong quiet quitting.

Temuan Utama: Tiga Faktor Penentu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa quiet quitting bukan perilaku acak, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu dan organisasi. Temuan kunci meliputi:

1. Keterlibatan karyawan menurunkan quiet quitting. Semakin tinggi keterlibatan emosional dan psikologis pekerja, semakin kecil kecenderungan mereka untuk menarik diri dari pekerjaan.

2. Kepemimpinan transformasional berperan protektif. Gaya kepemimpinan yang inspiratif, suportif, dan memperhatikan kebutuhan individu terbukti menekan perilaku quiet quitting.

3. Beban kerja meningkatkan risiko quiet quitting. Beban kerja yang dirasakan terlalu tinggi justru mendorong pekerja membatasi kontribusi mereka sebagai mekanisme bertahan.

Secara statistik, ketiga faktor ini menjelaskan sekitar 49,5 persen variasi quiet quitting di kalangan pekerja Gen Z kedai kopi di Blitar. Sisanya dipengaruhi faktor lain seperti budaya organisasi, kompensasi, dan kepuasan kerja.

Suara Peneliti: Quiet Quitting Bukan Soal Malas

Evita Novilia, penulis korespondensi dari Universitas Nahdlatul Ulama Blitar, menegaskan bahwa quiet quitting tidak bisa disederhanakan sebagai kurangnya etos kerja. Menurutnya, perilaku ini mencerminkan respons terhadap ketidakseimbangan antara tuntutan kerja dan dukungan organisasi.

“Ketika karyawan merasa terlibat dan dipimpin secara manusiawi, kecenderungan untuk menarik diri akan menurun. Sebaliknya, beban kerja berlebih tanpa dukungan memadai mendorong karyawan bertahan secara fisik, tetapi pergi secara mental,” jelas Evita Novilia dari Universitas Nahdlatul Ulama Blitar.

Dampak Nyata bagi Dunia Usaha dan Kebijakan

Temuan ini membawa implikasi luas, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Bagi pemilik kedai kopi, hasil riset ini menegaskan pentingnya membangun keterlibatan karyawan melalui komunikasi terbuka, pengakuan kontribusi, dan peluang berkembang. Gaya kepemimpinan yang hanya berfokus pada target tanpa empati berpotensi kontraproduktif.

Bagi dunia pendidikan dan pelatihan, penelitian ini menyoroti perlunya membekali calon pemimpin muda dengan keterampilan kepemimpinan transformasional. Sementara itu, pembuat kebijakan ketenagakerjaan dapat menggunakan temuan ini sebagai dasar untuk mendorong praktik kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi generasi muda.

Mengapa Penelitian Ini Relevan Sekarang

Di tengah perbincangan global tentang krisis keterlibatan kerja dan kesehatan mental karyawan, riset dari Blitar ini memberikan bukti berbasis data dari konteks lokal Indonesia. Dengan menyasar Generasi Z di sektor jasa, penelitian ini relevan bagi banyak kota lain yang memiliki karakteristik serupa.

Lebih dari sekadar tren media sosial, quiet quitting terbukti sebagai sinyal dini masalah organisasi. Penelitian ini menegaskan bahwa solusi tidak terletak pada menekan karyawan, melainkan pada memperbaiki cara organisasi memimpin, melibatkan, dan membagi beban kerja.

Profil Singkat Penulis

Evita Novilia, S.M., Universitas Nahdlatul Ulama Blitar.

Gleydis Harwida, S.M. Universitas Nahdlatul Ulama Blitar. 

Samlatul Izzah, S.M.  Universitas Nahdlatul Ulama Blitar.

Cepy Nurmalia Wahyuningtias, M.H. UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. 

Nur Hasan, S.M. Universitas Nahdlatul Ulama Blitar. 

Sumber Penelitian

Novilia, E., Harwida, G., Izzah, S., Wahyuningtias, C. N., & Hasan, N. (2026). The Influence of Employee Engagement, Transformational Leadership, and Workload on Quiet Quitting Among Gen Z Employees. International Journal of Integrative Sciences, Vol. 5 No. 1, 113–130.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijis.v5i1.824



Posting Komentar

0 Komentar