HUT ke-80 Kemerdekaan Indonesia: Sebuah Analisis Kritis terhadap Estetisasi Politik dan Politisasi Estetika oleh Walter Benjamin


Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Logo HUT RI ke-80 Dibaca sebagai Estetisasi Politik, Meme Jadi Bentuk Perlawanan Publik. Penelitian yang dilakukan oleh Clara Victoria Padmasari dari Institut Informatika Indonesiadalam artikel ilmiah yang terbit di Formosa Journal of Applied Sciences.(FJAS) edisi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026. Penelitian ini menyoroti bahwa logo negara dipahami bukan sekadar karya desain grafis, melainkan alat ideologis yang bekerja membentuk persepsi publik tentang kondisi bangsa.

Penelitian yang dilakukan oleh Clara Victoria Padmasari dari Institut Informatika Indonesia menyoroti bahwa membaca logo HUT RI ke-80 melalui pemikiran filsuf Jerman Walter Benjamin, khususnya konsep estetisasi politik dan politisasi estetika.

Logo Negara sebagai Representasi Kekuasaan

Logo HUT RI ke-80 resmi diluncurkan pada 23 Juli 2025 di Istana Negara oleh Presiden Prabowo Subianto. Logo ini merupakan hasil sayembara yang diselenggarakan oleh Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI) dan dimenangkan oleh desainer Bram Patria Yoshugi dari studio Thinking*Room.

Secara visual, logo menampilkan angka “80” dengan dominasi warna merah dan putih, disertai tagline “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”. Pemerintah menyebut logo ini sebagai cerminan arah perjalanan bangsa: dari persatuan, menuju kesejahteraan, dan berakhir pada kemajuan nasional.

Namun, menurut peneliti, logo tersebut tidak dapat dilepaskan dari fungsi politiknya. Ia bekerja sebagai branding negara yang menyampaikan narasi resmi tentang kondisi Indonesia, sekaligus mengarahkan cara publik memaknai perayaan kemerdekaan.

Pedoman Visual dan Kontrol Makna

Artikel ini menyoroti Pedoman Identitas Visual HUT RI ke-80 yang mengatur penggunaan logo secara ketat. Logo digambarkan memiliki karakter lantang, lugas, dan adaptif, serta hanya boleh digunakan sesuai ketentuan visual tertentu.

 Menurut peneliti, pedoman ini tidak sekadar menjaga konsistensi desain, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme kontrol makna. Logo diarahkan untuk dimaknai secara tunggal, sesuai narasi resmi negara, sehingga ruang interpretasi publik menjadi terbatas.

Dalam perspektif Walter Benjamin, praktik ini disebut estetisasi politik, yakni ketika estetika digunakan oleh penguasa untuk “membius” masyarakat melalui simbol-simbol visual yang tampak indah, seremonial, dan berulang.

Ketika Publik Menjawab dengan Meme

Peluncuran logo HUT RI ke-80 justru memunculkan reaksi luas di media sosial. Warganet ramai-ramai memodifikasi logo, memutarnya, hingga menggabungkannya dengan simbol budaya populer, lalu menyebarkannya dalam bentuk meme.

Sebagian publik menilai logo tersebut tidak mencerminkan realitas sosial Indonesia saat ini. Ada yang menyamakannya dengan karakter Keroppi, ada pula yang mengaitkannya dengan simbol Jolly Roger dari manga One Piece, yang pada periode tersebut sering dipakai sebagai lambang perlawanan simbolik.

Menurut peneliti, fenomena ini merupakan bentuk politisasi estetika, yakni ketika masyarakat menggunakan estetika sebagai sarana kritik terhadap kekuasaan. Meme menjadi medium ekspresi keresahan, ironi, dan humor politik yang mudah diproduksi serta disebarkan.

Implikasi bagi Ruang Publik dan Demokrasi

Artikel ini menegaskan bahwa simbol visual negara selalu menjadi arena tarik-menarik makna antara penguasa dan masyarakat. Ketika negara menggunakan estetika untuk membangun legitimasi dan citra positif, masyarakat merespons dengan kreativitas visual yang bersifat kritis.

Bagi pembuat kebijakan, temuan ini menjadi pengingat bahwa simbol nasional tidak pernah sepenuhnya netral. Cara negara merancang dan mengelola identitas visual akan selalu berhadapan dengan interpretasi publik yang beragam, terutama di era media sosial.

Bagi dunia pendidikan dan kajian budaya, tulisan ini membuka ruang diskusi tentang desain, politik, dan budaya visual sebagai bagian dari literasi kritis masyarakat modern.

Profil Penulis

Clara Victoria Padmasari, S.Ds., M.Ds. Dosen dan peneliti di Institut Informatika Indonesia.
Bidang keahliannya: desain komunikasi visual, kajian budaya visual, estetika politik, dan teori kritis media.

Sumber Penelitian 

                                                        

Clara Victoria Padmasari. 80th Indonesian Independence Day: A Critical Analysis of the Aestheticization of Politics and the Politicization of Aesthetics by Walter BenjaminFormosa Journal of Applied Sciences, Vol. 5 No. 1, hlm. 429–440. 2026

DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i1.578    
URL: https://srhformosapublisher.org/index.php/fjas   

Posting Komentar

0 Komentar