Jakarta— Kinerja ESG dan Likuiditas Saham
Dongkrak Imbal Hasil Indeks Berkelanjutan Indonesia. Penelitian yang dilakukan
Hilman Hadianto dan Hakiman dari Universitas Mercu Buana yang dipublikasikan
pada Januari 2026 di International Journal of Business and Applied
Economics.
Penelitian
yang dilakukan Hilman Hadianto dan Hakiman dari Universitas Mercu Buana
menunjukkan bahwa kinerja Environmental, Social, and Governance (ESG)
berpengaruh signifikan terhadap imbal hasil saham dalam Indeks ESG Quality 45
KEHATI. Penelitian ini menegaskan bahwa menegaskan bahwa faktor keberlanjutan
dan likuiditas saham kini lebih menentukan kinerja pasar dibandingkan indikator
keuangan tradisional seperti laba per saham.
Kinerja
ESG Masih Dipertanyakan Investor
Dalam
periode 2021–2024, Indeks ESG Quality 45 KEHATI mencatat kinerja yang fluktuatif.
Secara kumulatif, indeks ini hanya menghasilkan return sekitar 9,4 persen, jauh
di bawah IHSG yang tumbuh 18,1 persen. Bahkan pada 2024, indeks ESG Quality 45
KEHATI mengalami penurunan hingga 12,7 persen.
Kondisi
tersebut memunculkan keraguan di kalangan investor terkait efektivitas
investasi berbasis ESG. Apakah perusahaan berkelanjutan benar-benar memberikan
keuntungan lebih tinggi, atau justru kalah bersaing dengan saham konvensional?
Menurut
penulis, banyak penelitian sebelumnya masih memandang ESG sebagai satu
indikator tunggal, tanpa membedah peran masing-masing pilar—lingkungan, sosial,
dan tata kelola. Selain itu, analisis sering kali berfokus pada laba dan
dividen, sementara faktor likuiditas pasar kurang mendapat perhatian.
Metodologi
Penelitian yang Sederhana dan Relevan
Penelitian
ini mengkaji 22 perusahaan yang secara konsisten masuk dalam Indeks ESG Quality
45 KEHATI selama periode 2021–2024. Total terdapat 88 data tahunan perusahaan
yang dianalisis.
Variabel
yang diteliti meliputi skor ESG secara keseluruhan, tiga pilar ESG (lingkungan,
sosial, dan tata kelola), laba per saham (earnings per share/EPS), dividend
payout ratio, serta likuiditas saham. Analisis dilakukan untuk melihat pengaruh
masing-masing faktor terhadap return saham, sekaligus menguji peran likuiditas
sebagai variabel penguat.
Secara
sederhana, penelitian ini menilai bagaimana kombinasi kinerja keberlanjutan dan
kondisi pasar memengaruhi keuntungan investor.
Temuan
Utama Penelitian
Hasil
penelitian menunjukkan pola yang jelas dan konsisten:
- Kinerja
ESG berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham, baik secara agregat maupun pada
ketiga pilarnya.
- Pilar
lingkungan memiliki pengaruh paling kuat, disusul pilar sosial dan tata kelola.
- Dividend
payout ratio berpengaruh positif terhadap return saham, menunjukkan bahwa pembagian
dividen tetap menjadi daya tarik investor.
- Earnings
per share tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham, menandakan bahwa laba akuntansi
jangka pendek semakin kurang relevan.
- Likuiditas
saham meningkatkan return saham secara langsung dan memperkuat pengaruh ESG,
namun tidak memperkuat pengaruh EPS maupun dividen.
Temuan ini menunjukkan bahwa saham berkelanjutan memberikan hasil terbaik ketika diperdagangkan secara aktif dan mudah diperjualbelikan di pasar.
Lingkungan
dan Sosial Jadi Faktor Kunci
Dari
ketiga pilar ESG, aspek lingkungan menjadi faktor paling dominan dalam
mendorong return saham. Investor semakin sensitif terhadap isu perubahan iklim,
efisiensi energi, dan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan. Perusahaan dengan
kinerja lingkungan yang baik dipandang memiliki risiko jangka panjang yang
lebih rendah.
Pilar
sosial juga berperan penting. Praktik ketenagakerjaan yang adil, hubungan baik
dengan masyarakat, dan perlindungan konsumen menjadi sinyal stabilitas
operasional perusahaan. Investor melihat tanggung jawab sosial sebagai
indikator keberlanjutan bisnis.
Sementara
itu, tata kelola perusahaan tetap krusial, meskipun pengaruhnya relatif lebih
kecil. Tata kelola yang baik dianggap sebagai standar dasar untuk menjaga
transparansi dan kepercayaan investor.
Likuiditas
Saham sebagai Penguat ESG
Salah
satu kontribusi utama penelitian ini adalah penegasan peran likuiditas saham.
Saham dengan likuiditas tinggi memungkinkan transaksi berlangsung cepat, biaya
transaksi lebih rendah, dan informasi terserap pasar dengan lebih efisien.
Penelitian
menunjukkan bahwa likuiditas memperkuat pengaruh ESG terhadap return saham.
Artinya, informasi terkait kinerja keberlanjutan akan lebih cepat tercermin
dalam harga saham apabila saham tersebut aktif diperdagangkan.
Sebaliknya,
likuiditas tidak memperkuat pengaruh laba per saham dan dividen, karena kedua
informasi ini umumnya sudah cepat direspons pasar tanpa bergantung pada volume
perdagangan.
Implikasi
bagi Investor dan Dunia Usaha
Bagi
investor, hasil penelitian ini menegaskan bahwa strategi investasi berbasis ESG
perlu mempertimbangkan likuiditas saham. Memilih perusahaan dengan kinerja
lingkungan dan sosial yang kuat, serta saham yang aktif diperdagangkan,
berpotensi memberikan return yang lebih optimal.
Bagi perusahaan, temuan ini menjadi dorongan untuk meningkatkan kinerja ESG secara menyeluruh, bukan hanya sekadar memenuhi kewajiban administratif. Transparansi informasi dan komunikasi dengan investor juga penting untuk menjaga likuiditas saham agar nilai ESG dapat tercermin dalam harga pasar.
Profil
Penulis
- Hilman
Hadianto, S.E., M.M.
- Universitas Mercu Buana.
- Hakiman,
S.E., M.M. - Universitas Mercu Buana
Sumber
Penelitian
Hadianto, H., &
Hakiman, H. (2026). The Effect of ESG, Earnings Per Share, and Dividend
Payout Ratio on Stock Returns of the ESG Quality 45 KEHATI Index, Moderated by
Stock Liquidity. International Journal of Business and Applied
Economics, Vol. 5 No. 1, Januari 2026, halaman 325–342.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijbae.v5i1.581
URL Jurnal: https://nblformosapublisher.org/index.php/ijbae
.png)
0 Komentar