Yogyakarta— Kecemasan berbicara terbukti menjadi faktor paling kuat yang memengaruhi kemampuan speaking siswa SMP di Indonesia. Temuan ini diungkap dalam riset Aprilia Helmiyati Alim dan Dwiyani Pratiwi dari Universitas Negeri Yogyakarta melalui artikel ilmiah yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Education and Life Sciences.
Universitas
Negeri Yogyakarta (UNY) dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan
pendidikan dan pelatihan guru di Indonesia. Kampus ini aktif menghasilkan riset
di bidang pendidikan bahasa, psikologi pembelajaran, dan inovasi pengajaran.
Penelitian terbaru dari UNY menyoroti tantangan nyata dalam pembelajaran bahasa
Inggris di sekolah menengah pertama, khususnya mengapa banyak siswa masih
kesulitan berbicara bahasa Inggris meskipun telah mempelajarinya selama
bertahun-tahun.
Tantangan speaking di kelas bahasa Inggris
Kemampuan berbicara bahasa Inggris kini menjadi
kompetensi penting bagi siswa untuk mengakses pendidikan global, mobilitas
akademik, dan peluang kerja internasional. Namun dalam praktiknya, banyak siswa
masih ragu dan enggan berbicara di kelas.
Kelas bahasa Inggris di Indonesia masih sering berpusat pada guru, sehingga interaksi antar siswa terbatas. Di sisi lain, tuntutan presentasi dan tampil di depan kelas justru memicu rasa takut dinilai dan khawatir melakukan kesalahan. Kondisi ini menciptakan kesenjangan antara target kurikulum dan pengalaman belajar siswa di lapangan.
Situasi tersebut mendorong peneliti untuk meneliti
tiga faktor psikologis utama yang diyakini memengaruhi performa speaking siswa:
- Kepercayaan diri berbicara (self-efficacy)
- Motivasi berbicara
- Kecemasan berbicara (speaking anxiety)
Cara penelitian dilakukan
Penelitian melibatkan 128 siswa SMP negeri kelas VIII
dan IX di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Secara sederhana, penelitian dilakukan melalui dua
tahap utama:
Tes speaking
Siswa mengikuti tes lisan yang menilai kelancaran, akurasi, kosakata, dan
pemahaman pendengar.
Kuesioner psikologis
Siswa mengisi kuesioner mengenai:
- Kepercayaan diri berbicara
- Motivasi berbicara
- Tingkat kecemasan saat berbicara
Data kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda untuk melihat pengaruh masing-masing faktor secara bersama-sama.
Gambaran awal kondisi siswa
Hasil analisis menunjukkan:
- Rata-rata nilai speaking siswa: 81,33
- Kepercayaan diri dan motivasi berada pada tingkat sedang hingga
tinggi
- Tingkat kecemasan sangat bervariasi antar siswa
Artinya, kemampuan dasar speaking siswa sebenarnya cukup baik, tetapi faktor psikologis menjadi pembeda utama performa antar siswa.
Temuan utama penelitian
Hasil penelitian menunjukkan pola yang jelas
sekaligus mengejutkan.
Kecemasan memiliki hubungan paling kuat dengan
kemampuan speaking
Korelasi menunjukkan bahwa semakin tinggi kecemasan siswa, semakin rendah
kemampuan speaking mereka.
Tiga faktor menjelaskan 41,7% performa speaking
Self-efficacy, motivasi, dan kecemasan secara bersama menjelaskan hampir
setengah variasi kemampuan speaking siswa.
Hanya kecemasan berpengaruh langsung secara
signifikan
Ketika ketiga faktor dianalisis bersama:
·
Self-efficacy
tidak berpengaruh langsung signifikan
·
Motivasi
tidak berpengaruh langsung signifikan
·
Kecemasan
berpengaruh negatif sangat kuat
Temuan ini menegaskan bahwa rasa takut dinilai,
gugup, dan khawatir membuat kesalahan menjadi hambatan utama siswa saat
berbicara bahasa Inggris.
Mengapa kecemasan menjadi faktor kunci
Peneliti menjelaskan bahwa kecemasan berbicara
sering muncul dalam bentuk:
·
Takut
ditertawakan teman
·
Takut
salah pengucapan
·
Pikiran
kosong saat berbicara
·
Menghindari
komunikasi dalam bahasa Inggris
Kondisi ini menyebabkan siswa berbicara lebih
pelan, kurang lancar, bahkan beralih ke bahasa ibu saat tugas speaking.
Menurut Aprilia Helmiyati Alim dari Universitas
Negeri Yogyakarta, pengelolaan kecemasan harus menjadi prioritas utama dalam
pengajaran speaking di SMP.
Peran motivasi dan kepercayaan diri tetap
penting
Meski tidak berpengaruh langsung, motivasi dan
self-efficacy tetap memiliki peran penting secara tidak langsung.
Keduanya mendorong siswa:
·
Lebih
tekun berlatih
·
Mencari
kesempatan berbicara
·
Menggunakan
strategi belajar yang lebih efektif
Namun, efek positif tersebut dapat tertutup
ketika kecemasan siswa terlalu tinggi.
Implikasi bagi dunia pendidikan
Temuan ini membawa pesan penting bagi praktik
pembelajaran bahasa Inggris di sekolah.
Lingkungan kelas harus aman secara emosional
Guru perlu mengurangi tekanan berlebihan dan menciptakan suasana belajar yang
mendukung.
Perlu lebih banyak praktik speaking autentik
Misalnya:
·
Diskusi
kelompok kecil
·
Klub
bahasa Inggris
·
Aktivitas
komunikasi informal
Pendekatan bertahap lebih efektif
Pengalaman sukses kecil dapat membantu siswa membangun keberanian berbicara.
Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran speaking tidak hanya bergantung pada materi bahasa, tetapi juga pada kondisi emosional siswa.
Implikasi lebih luas
Temuan ini relevan bagi berbagai pihak:
Sekolah
Perlu memasukkan aspek kesejahteraan emosional dalam pembelajaran bahasa.
Orang tua
Dapat mendukung latihan speaking tanpa tekanan berlebihan.
Pembuat kebijakan
Perlu mendorong pendekatan pembelajaran bahasa yang lebih humanis.
Kemampuan komunikasi global tidak hanya soal
grammar dan vocabulary, tetapi juga keberanian untuk berbicara.
Profil penulis
- Aprilia Helmiyati Alim- Universitas Negeri Yogyakarta
- Dwiyani Pratiwi - Universitas Negeri Yogyakarta
Sumber Penelitian
Aprilia Helmiyati Alim, Dwiyani Pratiwi. The
Effects of Speaking Self-Efficacy, Speaking Motivation, and Speaking Anxiety on
Junior High School Students’ Speaking Performance in Sleman Regency, Special
Region of Yogyakarta, Indonesia.
International Journal of Education and Life Sciences, Vol. 4 No. 2, hlm.
65-74. 2026.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijels.v4i2.271
URL Resmi: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijels

0 Komentar