Pengaruh Current Ratio dan Debt to Equity Ratio terhadap Financial Distress pada Subsektor Media dan Hiburan

Ilustrasi by AI

Banten Rasio Likuiditas dan Utang Ternyata Tak Memprediksi Financial Distress di Emiten Media Hiburan Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Nindie Ellesia dan Ratna Dumilah dari Universitas Pamulang yang dipublikasikan pada Januari 2026 di International Journal of Education and Life Sciences (IJELS).

 Penelitian yang dilakukan oleh Nindie Ellesia dan Ratna Dumilah mengungkapkan bahwa Indikator keuangan populer seperti Current Ratio (CR) dan Debt to Equity Ratio (DER) ternyata tidak cukup kuat untuk memprediksi financial distress pada perusahaan subsektor media dan hiburan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Penelitian ini menjadi penting karena industri media dan hiburan Indonesia sedang tumbuh cepat, didorong oleh lonjakan konsumsi konten digital, streaming, e-sports, dan ekonomi kreatif. Namun, pertumbuhan industri tidak selalu sejalan dengan kesehatan keuangan semua perusahaan di dalamnya. Beberapa emiten tetap berisiko mengalami tekanan keuangan, bahkan ketika pasar terlihat menjanjikan.

Industri Media Hiburan Tumbuh, Tapi Tidak Semua Perusahaan Aman

Dalam bagian pengantar, Ellesia dan Dumilah menjelaskan bahwa subsektor media dan hiburan menunjukkan tren positif, terutama karena:

  • Ekonomi kreatif berkembang cepat
  • Konsumsi digital meningkat (musik, game, video streaming)
  • Pendapatan global industri media dan hiburan naik, termasuk dari game dan e-sports

Penelitian juga menyinggung sejumlah perusahaan besar seperti MNC Group (MNCN), Surya Citra Media (SCMA), hingga beberapa pemain media lain yang aktif mengembangkan platform digital. Namun, penulis menekankan bahwa meski industri tumbuh, tidak semua perusahaan berhasil menjaga profitabilitas dan stabilitas keuangan.

Dalam kondisi seperti ini, investor dan kreditur membutuhkan indikator yang bisa digunakan untuk memprediksi apakah perusahaan akan memasuki fase financial distress.

Apa Itu Financial Distress dan Mengapa Penting?

Financial distress adalah kondisi ketika perusahaan mulai mengalami penurunan kemampuan keuangan, terutama dalam memenuhi kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang. Kondisi ini sering disebut sebagai “tahap awal sebelum kebangkrutan”.

Dalam artikel ini, financial distress dipahami sebagai fase yang muncul sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan atau likuidasi, dan sering ditandai oleh kesulitan likuiditas serta tekanan utang.

Temuan Utama: CR dan DER Tidak Berpengaruh terhadap Financial Distress

Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik secara simultan maupun parsial, CR dan DER tidak memengaruhi financial distress pada sampel perusahaan media dan hiburan.

Mengapa CR dan DER Tidak Berpengaruh?

Dalam pembahasan, penulis menyebutkan bahwa hasil yang berbeda bisa terjadi meski variabelnya sama, karena beberapa faktor seperti:

  • ukuran sampel yang kecil
  • perbedaan teknik pengujian
  • variasi data intrinsik
  • perbedaan periode pengamatan
  • kemungkinan faktor lain yang lebih dominan memengaruhi distress

Selain itu, subsektor media dan hiburan memiliki karakter unik. Banyak perusahaan di industri ini:

  • memiliki aset tidak berwujud besar (hak siar, konten, IP)
  • punya pola pendapatan fluktuatif
  • bergantung pada tren pasar dan konsumsi digital
  • mendapat pemasukan dari iklan yang sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi

Hal-hal tersebut bisa membuat CR dan DER menjadi indikator yang kurang akurat jika digunakan sendirian.

Dampak Temuan Ini bagi Investor dan Dunia Usaha

Temuan Ellesia dan Dumilah memberi pesan jelas: jangan hanya mengandalkan CR dan DER saat menilai risiko distress pada emiten media dan hiburan.

Bagi investor, penelitian ini mendorong evaluasi yang lebih luas, misalnya dengan menambahkan:

  • arus kas operasional
  • profitabilitas (ROA/ROE)
  • efisiensi aset
  • tren pendapatan digital
  • stabilitas laba bersih
  • indikator manajemen risiko

Bagi perusahaan, hasil ini juga bisa menjadi alarm bahwa perbaikan kinerja keuangan tidak cukup hanya “memperbaiki rasio”, tetapi harus menyentuh aspek strategis seperti diversifikasi pendapatan, manajemen konten, serta inovasi digital.

Keterbatasan dan Saran Peneliti

Penulis menyebutkan dua keterbatasan utama:

  1. Penelitian hanya menggunakan pendekatan kuantitatif dengan 2 variabel independen (CR dan DER)
  2. Sampel hanya 3 perusahaan karena keterbatasan data lengkap 2017–2023

Karena itu, Ellesia dan Dumilah menyarankan penelitian lanjutan dengan:

  • periode yang lebih panjang
  • jumlah perusahaan lebih banyak
  • penambahan variabel independen
  • pendekatan campuran (mixed method)

Profil Singkat Penulis

  • Nindie Ellesia - Universitas Pamulang
  • Ratna Dumilah - Universitas Pamulang

Sumber Penelitian

Nindie, Ratna. The Effect of Current Ratio and Debt to Equity Ratio on Financial Distress in the Media and Entertainment Subsector
International Journal of Education and Life Sciences (IJELS)Vol. 4, No. 1
DOI:
https://doi.org/10.59890/ijels.v4i1.257                                                                                      URL: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijels


Posting Komentar

0 Komentar