Dua Cara Mengukur Kemiskinan, Dua Gambaran Indonesia
Selama
ini, pemerintah Indonesia mengukur kemiskinan menggunakan garis kemiskinan
nasional BPS, yang didasarkan pada pengeluaran minimum untuk memenuhi
kebutuhan dasar makanan dan non-makanan. Pendekatan ini bersifat kontekstual
dan disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi dalam negeri.
Sebaliknya,
Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan internasional berbasis daya
beli (Purchasing Power Parity/PPP). Standar ini memungkinkan perbandingan
antarnegara, tetapi juga menetapkan ambang hidup minimum yang lebih tinggi,
khususnya bagi negara berpendapatan menengah seperti Indonesia.
Menurut para peneliti, perbedaan metodologi inilah yang menyebabkan jumlah penduduk miskin versi Bank Dunia jauh lebih besar dibandingkan data resmi pemerintah.
Data 2019–2023: Angka yang Sangat Kontras
Berdasarkan analisis data periode 2019 hingga 2023, penelitian ini menemukan perbedaan yang konsisten dan signifikan antara kedua standar tersebut.
Versi BPS menunjukkan bahwa:
- Tingkat kemiskinan Indonesia berada di bawah 10 persen sejak 2019
- Pada Maret 2023, jumlah penduduk miskin tercatat 25,90 juta orang atau 9,36 persen
- Angka ini bahkan menjadi yang terendah sejak pandemi COVID-19
Namun, versi Bank Dunia memberikan gambaran yang jauh lebih besar:
- Dengan standar USD 3,20 PPP per hari, sekitar 19 persen penduduk Indonesia dikategorikan miskin
- Dengan standar USD 6,85 PPP per hari (standar negara berpendapatan menengah atas), lebih dari 50 persen penduduk masuk kategori miskin atau rentan miskin
- Pada 2023, Bank Dunia memperkirakan sekitar 172 juta penduduk Indonesia atau 60,3 persen populasi hidup dalam kondisi miskin dan rentan secara ekonomi
Perbedaan
ini menunjukkan bahwa jutaan warga Indonesia yang tidak tercatat sebagai miskin
secara resmi sebenarnya berada dalam kondisi sangat rentan terhadap
guncangan ekonomi, seperti inflasi, kenaikan harga pangan, atau krisis
global.
Dampak Pandemi Lebih Terlihat dengan Standar Global
Penelitian ini juga menyoroti bagaimana pandemi COVID-19 memengaruhi kemiskinan. Data BPS mencatat peningkatan kemiskinan yang relatif terkendali pada 2020–2021, lalu menurun seiring pemulihan ekonomi.
Namun,
data Bank Dunia menunjukkan bahwa meskipun angka resmi membaik, kerentanan
ekonomi masyarakat tetap tinggi. Banyak rumah tangga berada tepat di atas
garis kemiskinan nasional, tetapi masih jauh dari standar hidup layak menurut
ukuran internasional.
Dengan
kata lain, pemulihan ekonomi belum sepenuhnya mengangkat kelompok masyarakat
yang berada di lapisan terbawah dan paling rentan.
Implikasi Besar bagi Kebijakan Publik
Temuan penelitian ini membawa implikasi serius bagi perumusan kebijakan publik. Jika pemerintah hanya mengandalkan satu standar pengukuran kemiskinan, maka terdapat risiko:
- Bantuan sosial tidak menjangkau kelompok rentan.
- Program pengentasan kemiskinan kurang inklusif.
- Ketimpangan sosial sulit ditekan secara berkelanjutan.
Para
peneliti merekomendasikan agar pemerintah Indonesia mengharmoniskan
indikator kemiskinan, dengan menjadikan standar Bank Dunia sebagai pelengkap,
bukan pengganti, data BPS. Pendekatan ini dinilai dapat memberikan gambaran
yang lebih utuh tentang kondisi kesejahteraan masyarakat Indonesia sebagai
negara berpendapatan menengah.
Profil Singkat Penulis
Agatha Helena Deze, S.E.
Dosen Program Studi Akuntansi, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Oemathonis Kupang.
Fokus keahlian pada akuntansi sosial, kemiskinan, dan analisis ekonomi
pembangunan.
Thomas Ola Langoday, S.E., M.M.
Dosen Program Studi Manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Oemathonis Kupang.
Bidang keahlian meliputi kebijakan publik, kemiskinan, dan ekonomi makro.
Marius Masri, S.E., M.E.
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas
Katolik Widya Mandira.
Bidang Keahlian: Aktif meneliti isu kemiskinan, ketimpangan, dan
pembangunan wilayah.
Sumber Penelitian
Agatha Helena Deze, Thomas Ola Langoday, Marius Masri. Poverty in Indonesia: A Comparison Between the World Bank Poverty Line and the Indonesian Government Poverty Line. Asian Journal of Management Analytics, Vol. 5 No. 1, hlm. 181–196. 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/ajma.v5i1.16169
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajma

0 Komentar