Penerapan Metode Biaya Variabel dalam Perhitungan Biaya Produk untuk Menentukan Harga Jual di Ud. Lyvia Nusa Boga

Ilustrasi by AI

Manado Metode Variable Costing Membuat Harga Sambal UD Lyvia Nusa Boga Lebih Murah dan Akurat. Penelitian yang dilakukan oleh Trisa Refina Arundaa, Jullie Sondakh, dan Meily Kalalo dari Universitas Sam Ratulangi yang dipublikasikan pada  Januari 2026 di International Journal of Business and Applied Economics (IJBAE)

Penelitian yang dilakukan oleh Trisa Refina Arundaa, Jullie Sondakh, dan Meily menunjukkan bahwa penerapan metode variable costing dapat menurunkan harga pokok produk sekaligus membantu perusahaan menentukan harga jual yang lebih kompetitif.

Kenapa Perhitungan Biaya Produksi Jadi Kunci

Dalam dunia usaha, harga jual bukan sekadar angka yang ditempel pada label. Harga jual menentukan apakah perusahaan:

  • bisa menutup biaya produksi,
  • memperoleh keuntungan wajar,
  • mampu bersaing dengan produk lain,
  • dan bertahan dalam jangka panjang.

Menurut penulis, banyak pemilik usaha belum membedakan dengan jelas antara biaya produksi total dan harga pokok produk per unit. Padahal, kesalahan perhitungan bisa menyebabkan harga jual terlalu tinggi (produk sulit laku) atau terlalu rendah (usaha rugi tanpa sadar).

UD. Lyvia Nusa Boga Masih Menggunakan Metode Tradisional

Dari hasil observasi dan wawancara, UD. Lyvia Nusa Boga selama ini menghitung biaya produksi dengan memasukkan biaya bahan baku, tenaga kerja, serta beberapa biaya overhead seperti gas, depresiasi mesin, dan gaji admin.

Namun ada dua biaya yang justru tidak dihitung, yaitu:

  • biaya kemasan dan stiker,
  • biaya listrik dan air.

Di sisi lain, perusahaan juga belum memisahkan mana biaya yang sifatnya tetap dan mana yang berubah mengikuti jumlah produksi. Padahal pemisahan ini penting agar harga pokok per unit tidak bias.

Cara Penelitian Dilakukan

Penelitian dilakukan langsung di lokasi UD. Lyvia Nusa Boga yang berada di Perumahan Griya Paniki Indah, Manado. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, termasuk wawancara dengan pemilik/manager (Suriani) serta seorang karyawan produksi (Mariani). Penelitian berlangsung pada Juli sampai Oktober 2025.

Penulis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, tetapi data yang dianalisis juga mencakup angka biaya produksi secara rinci, sehingga hasilnya tetap dapat dibandingkan secara jelas.

Biaya Bahan Baku Jadi Pengeluaran Terbesar

Dalam satu minggu produksi, kebutuhan bahan baku untuk masing-masing produk cukup besar. Misalnya:

  • Cakalang Fufu Rica-Rica membutuhkan 25 kg ikan cakalang dan total biaya bahan baku Rp2.515.000 untuk 100 unit produksi.
  • Sambal Roa membutuhkan 7 kg ikan roa dan total biaya bahan baku Rp1.785.000 untuk 90 unit produksi.
  • Sambal Cumi membutuhkan 3 kg cumi dan total biaya bahan baku Rp875.000 untuk 50 unit produksi.

Temuan ini menunjukkan bahwa bahan baku adalah komponen biaya paling dominan dan sangat sensitif terhadap fluktuasi harga pasar.

Perusahaan Membayar Tenaga Kerja Tetap per Minggu

UD. Lyvia Nusa Boga menggunakan 3 pekerja langsung untuk produksi. Upah dihitung harian dari Senin sampai Sabtu sebesar Rp95.000 per orang per hari. Untuk setiap produk yang diproduksi per minggu, total biaya tenaga kerja langsung dicatat sama, yaitu Rp285.000.

Namun di sini muncul persoalan: volume produksi tiap produk berbeda, tetapi biaya tenaga kerja dicatat sama, sehingga pembebanan biaya per unit bisa menjadi tidak proporsional.

Variable Costing Menghasilkan Harga Pokok Lebih Rendah

Bagian paling penting dari penelitian ini adalah perbandingan hasil perhitungan.

Menurut metode yang dipakai perusahaan, harga pokok per unit adalah:

  • Cakalang Fufu Rica-Rica: Rp35.400
  • Sambal Roa: Rp31.222
  • Sambal Cumi: Rp38.000

Namun ketika penulis menghitung ulang dengan metode variable costing (yang hanya memasukkan biaya variabel seperti bahan baku, tenaga kerja langsung, kemasan, gas, serta listrik-air sesuai jam mesin), hasilnya jauh lebih rendah:

  • Cakalang Fufu Rica-Rica: Rp31.483
  • Sambal Roa: Rp26.537
  • Sambal Cumi: Rp27.124

Selisihnya cukup signifikan. Yang paling besar terjadi pada Sambal Cumi, yaitu Rp10.876 per unit lebih rendah dibanding metode perusahaan.

Harga Jual yang Direkomendasikan Juga Lebih Kompetitif

UD. Lyvia Nusa Boga selama ini menetapkan harga jual:

  • Cakalang Fufu Rica-Rica: Rp45.000
  • Sambal Roa: Rp39.000
  • Sambal Cumi: Rp38.000

Perusahaan menerapkan markup keuntungan 35%. Ketika markup 35% diterapkan pada harga pokok variable costing, maka harga jual ideal menjadi:

  • Cakalang Fufu Rica-Rica: Rp42.502
  • Sambal Roa: Rp35.825
  • Sambal Cumi: Rp36.617

Artinya, perusahaan sebenarnya bisa menjual produk dengan harga lebih rendah dan tetap untung sesuai margin yang diinginkan.

Dampak Penelitian bagi UMKM dan Dunia Usaha

Penelitian ini membawa pesan yang sangat praktis bagi UMKM makanan di Indonesia.

Jika UMKM menggunakan metode tradisional tanpa klasifikasi biaya yang jelas, maka:

  • harga pokok bisa lebih tinggi dari seharusnya,
  • harga jual menjadi kurang kompetitif,
  • dan keputusan bisnis dibuat berdasarkan asumsi, bukan data.

Sebaliknya, variable costing membantu perusahaan:

  • memahami biaya yang benar-benar berubah mengikuti produksi,
  • lebih mudah mengendalikan biaya harian,
  • lebih tepat menentukan harga jual,
  • dan lebih siap menghadapi pasar yang fluktuatif.

Profil Singkat Penulis

  • ·         Trisa Refina Arundaa -  Universitas Sam Ratulangi
  • ·         Jullie Sondakh - Universitas Sam Ratulangi
  • ·         Meily Kalalo - Universitas Sam Ratulangi

Sumber Penelitian

Arundaa, T. R., Sondakh, J., & Kalalo, M. (2026). Application of the Variable Costing Method in Calculating Product Cost to Determine the Selling Price at UD. Lyvia Nusa Boga.
International Journal of Business and Applied Economics (IJBAE), Vol. 5 No. 1, Januari 2026, hlm. 305–324.
DOI:
https://doi.org/10.55927/ijbae.v5i1.574                                                                          

URL resmi: https://nblformosapublisher.org/index.php/ijbae


Posting Komentar

0 Komentar