Penelitian yang dilakukan oleh Agnes Chiayen Monica Lengkong, Harijanto Sabijono, dan Steven J. Tangkuman dari Universitas Sam Ratulangi menyoroti konkret tentang praktik penganggaran di level daerah, khususnya pada sektor strategis seperti kesehatan.
Mengapa Anggaran Berbasis Kinerja Penting
Dalam sistem konvensional, keberhasilan anggaran sering diukur dari seberapa besar dana terserap. Padahal, belanja besar tidak selalu berarti pelayanan publik membaik. Anggaran berbasis kinerja hadir untuk menjawab masalah ini dengan menekankan hubungan antara input (anggaran), output (kegiatan), dan outcome (manfaat).
Di Indonesia, sistem ini telah memiliki landasan hukum kuat, mulai dari Undang-Undang Keuangan Negara hingga peraturan teknis terbaru. Namun, implementasinya di daerah kerap menghadapi tantangan, seperti keterbatasan sumber daya manusia, lemahnya perencanaan, dan budaya birokrasi yang belum sepenuhnya berorientasi hasil. Sektor kesehatan menjadi krusial karena menyangkut pelayanan dasar, penurunan stunting, hingga pengendalian penyakit.
Cara Penelitian Dilakukan
Tim peneliti Unsrat menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan staf perencanaan dan keuangan, observasi langsung, serta penelaahan dokumen resmi seperti Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Rencana Strategis (Renstra), dan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP).
Analisis dilakukan dengan pendekatan Value for Money, yang menilai tiga aspek utama:
- Ekonomis – apakah belanja dilakukan secara hemat.
- Efisiensi – seberapa besar output dihasilkan dari input.
- Efektivitas – sejauh mana output mencapai outcome yang ditargetkan.
Anggaran Besar, Defisit
Tetap Terjadi
Hasil penelitian menunjukkan, pada tahun anggaran 2024, Dinas
Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara mengelola belanja sebesar Rp237,1 miliar
dengan realisasi Rp221,67 miliar, atau 93,49
persen dari pagu anggaran. Angka ini mencerminkan penyerapan
yang tinggi.
Namun, pendapatan yang diperoleh dinas tersebut hanya sekitar Rp87,3
juta, sehingga terjadi defisit Rp221,5 miliar.
Kondisi ini menandakan ketergantungan yang sangat besar pada APBD
Provinsi, sesuatu yang lazim pada sektor kesehatan yang
berorientasi pelayanan, bukan pencarian pendapatan.
Struktur belanja juga menjadi sorotan. Hampir seluruh anggaran terserap pada
belanja operasi, terutama belanja pegawai,
sementara belanja modal yang
berfungsi sebagai investasi jangka panjang hanya mengambil porsi sangat kecil.
Dampak
bagi Layanan Kesehatan dan Kebijakan Publik
Temuan ini
memiliki implikasi luas. Bagi pemerintah daerah, hasil penelitian menjadi
cermin bahwa tingginya penyerapan anggaran tidak otomatis berarti efisiensi dan
efektivitas. Perencanaan yang kurang presisi dapat memicu pemborosan di satu
sisi dan kekurangan layanan di sisi lain.
Bagi
sektor kesehatan, optimalisasi anggaran berpotensi meningkatkan kualitas
pelayanan, mulai dari fasilitas kesehatan, layanan rujukan, hingga peningkatan
kompetensi tenaga medis. Sementara bagi pembuat kebijakan, studi ini menegaskan
pentingnya evaluasi rutin terhadap indikator kinerja agar anggaran benar-benar
berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
Peneliti
merekomendasikan perbaikan pada tahap perencanaan, penguatan kapasitas
aparatur, serta penyelarasan antara output dan outcome agar prinsip Value for
Money dapat diterapkan secara nyata, bukan sekadar formalitas laporan.
Profil Penulis
Agnes Chiayen Monica Lengkong,
S.E. Peneliti bidang akuntansi sektor publik, Universitas Sam Ratulangi.
Dr. Harijanto Sabijono, S.E.,
M.Si. Dosen dan peneliti akuntansi pemerintahan, Universitas Sam Ratulangi.
Steven J. Tangkuman, S.E.,
M.Si. Akademisi bidang keuangan publik dan kebijakan, Universitas Sam Ratulangi.
Sumber
Penelitian
Lengkong,
A. C. M., Sabijono, H., & Tangkuman, S. J. (2026). Implementation of
Performance-Based Budgeting at the North Sulawesi Provincial Health Office. Formosa
Journal of Applied Sciences (FJAS), Vol. 5 No. 1, hlm. 147–166. DOI:
10.55927/fjas.v5i1.540.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i1.540
URL: https://srhformosapublisher.org/index.php/fjas

0 Komentar