Pemikiran Al-Ghazali Dinilai Relevan Menjawab Krisis Moral Pendidikan Digital

Ilustrasi by AI

Medan— Di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan, sebuah kajian terbaru menegaskan bahwa gagasan klasik Imam Al-Ghazali justru semakin relevan untuk menjawab krisis karakter generasi digital. Artikel ilmiah yang ditulis Doni Kusuma bersama Mhd. Habibu Rahman, Tondy Jimmy Pasaribu, Erni Agustin, dan Nafiza Fadia Anwar dari Universitas Pembangunan Panca Budi, Medan, mengulas secara mendalam konsep pendidikan holistik Al-Ghazali dan relevansinya bagi pendidikan di era digital. Penelitian ini dipublikasikan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research.

Para penulis menyoroti persoalan yang kini banyak dirasakan pendidik dan orang tua: kemajuan teknologi memang memperluas akses informasi, tetapi juga memunculkan masalah serius seperti kecanduan gawai, banjir informasi tanpa filter, penurunan etika digital, hingga melemahnya kesadaran spiritual peserta didik. Dalam situasi ini, pendidikan dinilai terlalu fokus pada capaian akademik dan keterampilan teknis, sementara pembentukan karakter, moral, dan spiritual kerap terpinggirkan.

Menurut Doni Kusuma dan tim, persoalan utama pendidikan digital saat ini bukan kekurangan pengetahuan, melainkan lemahnya kemampuan mengendalikan diri, menyaring informasi, dan menjaga komitmen etis di ruang digital. Kondisi ini berdampak pada krisis identitas dan disorientasi nilai, terutama di kalangan generasi muda yang tumbuh sebagai digital native.

Pendidikan Holistik sebagai Jawaban

Melalui kajian kepustakaan terhadap karya-karya utama Imam Al-Ghazali dan literatur akademik internasional, para peneliti menemukan bahwa konsep pendidikan holistik Al-Ghazali menawarkan kerangka etik dan spiritual yang kuat. Pendidikan, dalam pandangan Al-Ghazali, tidak sekadar mengasah akal, tetapi membentuk manusia secara utuh—mengintegrasikan akal (‘aql), hati (qalb), dan tindakan (‘amal).

Al-Ghazali memandang pendidikan sebagai proses penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs), pengendalian hawa nafsu, dan pembiasaan akhlak mulia. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, melainkan teladan moral dan pembimbing spiritual. Pengetahuan pun bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk membentuk karakter dan mendekatkan manusia kepada makna hidup yang lebih dalam.

Temuan ini menjadi kritik tajam terhadap model pendidikan digital yang cenderung teknokratis dan berorientasi hasil instan. Ketika keberhasilan diukur dari kecepatan akses informasi dan skor akademik, pendidikan berisiko kehilangan dimensi kemanusiaannya.

Menjawab Tantangan Era Digital

Penelitian ini juga memetakan relevansi konkret pemikiran Al-Ghazali terhadap tantangan digital masa kini. Dalam konteks kecanduan gawai dan budaya serba instan, Al-Ghazali menekankan pentingnya disiplin diri dan latihan pengendalian nafsu. Terhadap banjir informasi dan hoaks, ia menekankan penyatuan pengetahuan dengan kesadaran moral agar manusia mampu memilah informasi secara bertanggung jawab.

Para penulis menegaskan bahwa literasi digital tidak pernah netral nilai. Teknologi, menurut perspektif Al-Ghazali, harus diarahkan pada maṣlaḥah atau kemaslahatan bersama. Dengan kata lain, kecakapan digital harus berjalan seiring dengan tanggung jawab moral dan spiritual.

Dalam artikelnya, para peneliti juga menunjukkan bahwa pendidikan holistik Al-Ghazali tidak menolak teknologi. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan karakter jika dibingkai dengan nilai etika dan spiritual. Refleksi, keteladanan guru, dan pembiasaan nilai menjadi kunci agar teknologi tidak merusak, tetapi justru memperkuat kepribadian peserta didik.

Implikasi bagi Dunia Pendidikan

Hasil kajian ini memiliki implikasi luas bagi kebijakan dan praktik pendidikan. Pertama, transformasi pendidikan digital tidak cukup berhenti pada penyediaan platform, aplikasi, atau kecerdasan buatan. Perubahan yang lebih mendasar diperlukan pada orientasi nilai pendidikan itu sendiri.

Kedua, pendidikan karakter tidak seharusnya dibebankan hanya pada mata pelajaran agama. Nilai etika dan tanggung jawab digital perlu diintegrasikan ke seluruh kurikulum. Ketiga, peran guru perlu diperkuat sebagai teladan moral, bukan sekadar operator teknologi pembelajaran.

Penelitian ini juga dinilai sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional, termasuk Kurikulum Merdeka yang menekankan Profil Pelajar Pancasila. Dalam konteks ini, pemikiran Al-Ghazali dipandang bukan sebagai warisan masa lalu, melainkan fondasi normatif yang dapat memperkaya pendidikan modern.

Relevansi Lintas Zaman

“Penguasaan teknologi tanpa landasan moral justru memperdalam krisis karakter,” tulis para penulis dalam artikelnya. Mereka menegaskan bahwa pendidikan yang sukses bukan diukur dari kecanggihan teknologi, melainkan dari terbentuknya manusia yang berintegritas, berkesadaran spiritual, dan mampu mengelola dirinya di tengah kompleksitas digital.

Kajian ini sekaligus mengajak dunia pendidikan untuk meninjau ulang asumsi bahwa kemajuan teknologi otomatis membawa kemajuan manusia. Tanpa arah nilai yang jelas, teknologi justru dapat mempercepat degradasi moral.

Profil Penulis

Doni Kusuma, M.Pd., adalah dosen dan peneliti di Universitas Pembangunan Panca Budi, Medan, dengan keahlian di bidang filsafat pendidikan Islam dan pendidikan karakter. Ia menulis bersama Mhd. Habibu Rahman, M.Pd., Tondy Jimmy Pasaribu, M.Pd., Erni Agustin, M.Pd., dan Nafiza Fadia Anwar, M.Pd., yang juga berasal dari universitas yang sama dan memiliki minat riset pada pendidikan Islam, etika, dan tantangan pendidikan kontemporer.

Sumber Penelitian

Kusuma, D., Rahman, M. H., Pasaribu, T. J., Agustin, E., & Anwar, N. F. (2026). The Concept of Holistic Education in Imam Al-Ghazali’s Thought and Its Relevance to Education in the Digital Era. East Asian Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 1, hlm. 293–308.


Posting Komentar

0 Komentar