Penelitian
terbaru dari Karimatun Nisa, Umi Widyastuti, dan I Gusti Ketut
Agung Ulupui dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menemukan bahwa
gaya hidup hedonis justru menjadi pendorong terkuat minat investasi generasi
milenial Indonesia. Studi ini dipublikasikan pada 2026 dalam International
Journal of Finance and Business Management dan menawarkan sudut pandang
baru tentang perilaku keuangan generasi muda di era digital. Temuan ini penting
karena selama ini gaya hidup konsumtif sering dianggap sebagai penghambat
investasi, padahal data menunjukkan sebaliknya.
Riset
tersebut mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi niat berinvestasi generasi
milenial, kelompok yang lahir antara 1981 hingga 1996. Meski memiliki akses
luas ke aplikasi investasi dan informasi keuangan, tingkat partisipasi milenial
di pasar modal masih belum optimal. Penelitian ini membantu menjelaskan mengapa
minat tersebut terbentuk dan faktor apa yang paling berperan.
Latar Belakang: Milenial, Investasi, dan Tantangan
Perilaku Keuangan
Dalam
perekonomian modern, investasi menjadi kunci perencanaan keuangan jangka
panjang. Bagi generasi milenial, investasi tidak hanya berkaitan dengan keamanan
masa depan, tetapi juga dengan cara mempertahankan kualitas hidup di tengah
biaya hidup yang terus meningkat.
Selama
ini, banyak kajian menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB) untuk
menjelaskan niat berperilaku finansial. Teori ini menekankan tiga faktor utama:
sikap pribadi terhadap investasi, pengaruh sosial, dan rasa percaya diri dalam
mengelola investasi. Namun, pendekatan klasik ini dinilai belum sepenuhnya
menangkap kompleksitas perilaku milenial yang sangat dipengaruhi gaya hidup dan
budaya digital.
Tim
peneliti UNJ menambahkan dua elemen penting dalam analisis mereka: gaya
hidup hedonis dan literasi keuangan. Gaya hidup hedonis sering
diasosiasikan dengan konsumsi dan kesenangan jangka pendek, sementara literasi
keuangan dianggap sebagai fondasi pengambilan keputusan investasi yang
rasional.
Metodologi Penelitian dengan Bahasa Sederhana
Penelitian
ini menggunakan survei kuantitatif terhadap responden milenial di
Indonesia. Data dianalisis untuk melihat hubungan antara faktor psikologis,
sosial, dan gaya hidup dengan niat berinvestasi.
Secara
ringkas, peneliti mengukur:
- Seberapa besar pengaruh
lingkungan sosial terhadap keputusan investasi.
- Tingkat kepercayaan diri
responden dalam mengelola investasi.
- Kecenderungan gaya hidup
hedonis.
- Tingkat literasi keuangan.
- Niat responden untuk mulai
atau melanjutkan investasi.
Analisis
dilakukan untuk mengetahui faktor mana yang paling kuat memengaruhi niat
investasi milenial.
Temuan Utama: Hasil yang Mengejutkan
Hasil
penelitian menunjukkan pola yang jelas dan konsisten.
Temuan
kunci penelitian:
- Gaya hidup hedonis menjadi
faktor paling kuat yang mendorong niat investasi milenial.
- Pengaruh sosial dari keluarga, teman, dan
lingkungan juga berperan signifikan.
- Kepercayaan diri dalam
mengelola investasi meningkatkan niat berinvestasi.
- Sikap pribadi terhadap
investasi
ternyata tidak berpengaruh signifikan.
- Literasi keuangan berpengaruh langsung
meningkatkan niat investasi, tetapi tidak memperkuat hubungan faktor lain.
Dengan
kata lain, milenial tidak hanya berinvestasi karena menganggap investasi itu
baik, tetapi karena investasi dipandang sebagai sarana untuk menopang gaya
hidup yang diinginkan.
Mengapa Gaya Hidup Hedonis Bisa Mendorong
Investasi?
Temuan
ini menantang anggapan lama bahwa hedonisme selalu bertentangan dengan
perencanaan keuangan. Dalam konteks milenial, investasi justru dilihat sebagai
alat untuk memastikan keberlanjutan gaya hidup.
Alih-alih
memilih antara “menikmati hidup” atau “menabung untuk masa depan”, banyak
milenial memandang investasi sebagai cara untuk mendapatkan penghasilan
tambahan agar tetap bisa menikmati hidup di masa kini dan masa depan.
Secara
etis diparafrasekan dari temuan penulis UNJ, keinginan untuk mempertahankan
kenyamanan dan kesenangan hidup mendorong milenial mencari instrumen keuangan
yang mampu meningkatkan kapasitas finansial mereka, dan investasi menjadi
jawabannya.
Dampak bagi Dunia Usaha, Pendidikan, dan Kebijakan
Publik
Temuan
ini memiliki implikasi luas di berbagai sektor.
Bagi
industri keuangan,
strategi edukasi dan pemasaran investasi perlu menyesuaikan narasi. Pendekatan
yang terlalu menekankan “pengorbanan hari ini demi masa depan” mungkin kurang
efektif. Sebaliknya, mengaitkan investasi dengan pencapaian tujuan hidup dan
gaya hidup dapat lebih relevan bagi milenial.
Bagi
pendidik dan lembaga literasi keuangan, hasil ini menegaskan pentingnya membangun
kepercayaan diri dan pengalaman praktis, bukan sekadar pengetahuan teoritis.
Bagi
pembuat kebijakan,
pemahaman bahwa motivasi investasi bersifat sosial dan gaya hidup dapat
membantu merancang program inklusi keuangan yang lebih tepat sasaran.
Profil Singkat Penulis
Karimatun Nisa
Peneliti
Universitas Negeri Jakarta
Umi Widyastuti
Dosen dan peneliti
Universitas Negeri Jakarta
I Gusti Ketut Agung Ulupui
Dosen dan peneliti
Universitas Negeri Jakarta
Sumber Penelitian
Judul Artikel Jurnal: The Millennial Generation’s
Intention to Invest: A Modified Model of the Theory of Planned Behavior
Nama Jurnal: International Journal of Finance and Business Management
Tahun Publikasi: 2026
DOI: https://doi.org/10.59890/ijfbm.v4i1.172

0 Komentar