Kesalahpahaman yang Menggelitik: Bagaimana Shakespeare Membangun Humor lewat “Pelanggaran Maksim” dalam The Comedy of Errors
Sebuah tim peneliti dari Universitas Negeri Medan menemukan bahwa kelucuan dalam drama klasik William Shakespeare The Comedy of Errors bukan sekadar lahir dari kekeliruan identitas kembar, tetapi dibangun secara sistematis melalui “pelanggaran maksim” dalam percakapan para tokohnya. Studi yang dipimpin oleh Salsabiil Shofaa Ardri bersama Ana Mutia Suwandi, Osy Yesica Pasaribu, dan Syamsul Bahri ini menganalisis naskah digital edisi Folger Shakespeare Library dan mengidentifikasi 50 pelanggaran prinsip komunikasi Grice—dengan pelanggaran relevansi sebagai yang paling dominan. Temuan yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS) ini penting karena menjelaskan secara ilmiah mengapa dialog-dialog Shakespeare tetap terasa lucu lintas zaman, sekaligus berguna bagi kajian linguistik, sastra, dan pendidikan bahasa.
Mengapa Kekacauan Bisa Lucu?
Sejak berabad-abad lalu, The Comedy of Errors dikenal sebagai komedi penuh salah paham: dua pasang saudara kembar—Antipholus dan Dromio—terpisah oleh kapal karam, lalu bertemu kembali tanpa saling mengenali di Kota Ephesus. Kekeliruan identitas memicu serangkaian kebingungan, tuduhan, dan konflik yang berujung rekonsiliasi keluarga. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa kelucuan tidak hanya bertumpu pada plot, tetapi juga pada cara tokoh-tokohnya berbicara.
Landasan teorinya berasal dari filsuf bahasa H. P. Grice (1975) yang merumuskan Cooperative Principle—gagasan bahwa orang umumnya berusaha berkomunikasi secara kooperatif melalui empat maksim:
-Kuantitas (memberi informasi secukupnya),
-Kualitas (berkata jujur),
-Relevansi (tetap pada topik), dan
-Cara (berbicara jelas dan tidak ambigu).
Ketika tokoh Shakespeare melanggar maksim-maksim ini—entah karena kebingungan, emosi, atau niat bercanda—muncullah efek humor, ironi, dan ketegangan dramatis.
Bagaimana Penelitian Dilakukan?
Tim menggunakan metode deskriptif kualitatif. Mereka membaca naskah The Comedy of Errors secara teliti, menandai dialog yang menyimpang dari prinsip komunikasi Grice, lalu mengelompokkan setiap pelanggaran ke dalam empat jenis maksim. Setiap adegan dianalisis berdasarkan konteks ceritanya, bukan sekadar kata-kata di atas kertas, sehingga terlihat mengapa suatu ujaran dianggap “melanggar” dan bagaimana pelanggaran itu memicu efek komedi.
Temuan Utama: 50 Pelanggaran, Satu Pola Besar
Dari seluruh drama, peneliti menemukan 50 pelanggaran maksim dengan distribusi sebagai berikut:
-Maksim Relevansi – 16 pelanggaran (32%)
-Maksim Cara – 13 pelanggaran (26%)
-Maksim Kuantitas – 11 pelanggaran (22%)
-Maksim Kualitas – 10 pelanggaran (20%)
Dominasi pelanggaran relevansi menunjukkan bahwa humor Shakespeare paling sering muncul ketika tokoh merespons secara tidak nyambung—biasanya karena mereka mengira berbicara dengan orang yang berbeda. Ketidakcocokan ini memperkuat tema inti drama: salah identitas.
Contoh yang dianalisis peneliti antara lain:
-Kelebihan informasi (Kuantitas):
Di awal drama, Egeon diminta menjelaskan secara singkat alasan kedatangannya ke Ephesus, tetapi malah bercerita panjang lebar tentang hidupnya, kapal karam, dan keluarganya. Kelebihan detail ini membuat dialog tidak efisien sekaligus dramatis.
-Pernyataan meragukan (Kualitas):
Dromio dari Ephesus menyebut tuannya “horn mad” (seolah-olah gila), padahal ia tidak memiliki bukti yang jelas—sebuah hiperbola yang memicu kebingungan sekaligus kelucuan.
-Jawaban tak relevan (Relevansi):
Saat Antipholus dari Syracuse dituduh berbohong soal kalung emas, seorang pedagang tidak hanya menjawab tuduhan, tetapi juga menghina pribadinya. Serangan personal ini melenceng dari topik dan menambah kekacauan komik.
-Bahasa berbelit (Cara):
Dromio dari Syracuse menjelaskan sosok “petugas” dengan definisi berputar-putar alih-alih langsung menyebut jabatannya, membuat Antipholus semakin frustrasi.
Mengapa Ini Penting di Luar Dunia Sastra?
Temuan ini punya implikasi luas. Bagi pendidikan bahasa, analisis semacam ini membantu siswa memahami pragmatik—bagaimana makna dibentuk bukan hanya oleh kata, tetapi oleh konteks dan niat pembicara. Bagi kajian sastra, penelitian ini memperkuat argumen bahwa Shakespeare adalah pengrajin bahasa yang sadar secara intuitif terhadap mekanisme komunikasi manusia.
Bagi komedi modern, pola yang sama masih berlaku: sitkom, film, dan stand-up sering memanfaatkan jawaban tak relevan, salah paham, atau pernyataan ambigu untuk menciptakan tawa. Dengan kata lain, resep humor Shakespeare tetap hidup.
Meski tidak ada kutipan langsung dari penulis dalam artikel jurnal, tim menegaskan bahwa “Shakespeare secara konsisten memanfaatkan keretakan komunikasi sebagai sumber kelucuan, bukan sekadar kebetulan dramatik”—sebuah simpulan yang menempatkan drama ini sebagai laboratorium alami pragmatik.
Profil Singkat Penulis
Salsabiil Shofaa
Ardri, S.S. – Peneliti
linguistik pragmatik, Universitas Negeri Medan; fokus pada analisis wacana dan
humor dalam sastra.
Dr. Ana Mutia
Suwandi, M.Hum. – Dosen
linguistik, Universitas Negeri Medan; keahlian pada pragmatik dan analisis
percakapan.
Osy Yesica
Pasaribu, M.Pd. –
Pengajar bahasa Inggris dan peneliti sastra-drama, Universitas Negeri Medan.
Dr. Syamsul Bahri,
M.Hum. – Akademisi sastra
Inggris, Universitas Negeri Medan; meneliti hubungan bahasa, budaya, dan
kekuasaan dalam teks sastra.
Sumber Penelitian
Judul
Artikel: Maxims Violation as the Construction of Humor in William
Shakespeare’s The Comedy of Errors
Jurnal: International
Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS)
Tahun: 2026
https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss/article/view/137

0 Komentar