Optimasi Perencanaan Produksi Tambang Terbukti Tingkatkan Efisiensi Operasi Tambang Terbuka

Ilustrasi by AI 
 
FORMOSA NEWS - Kutai Kartanegara - Perencanaan produksi yang tepat terbukti mampu meningkatkan efisiensi operasional tambang terbuka tanpa perlu menambah alat atau jam kerja. Temuan ini diungkap Malik, dosen Fakultas Teknik Pertambangan dan Kebumian Universitas Bosowa, dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di Formosa Journal of Science and Technology. Studi ini penting karena menawarkan solusi berbasis data untuk menekan biaya dan memaksimalkan kinerja alat berat di tengah tekanan biaya industri pertambangan.

Penelitian dilakukan pada tambang batubara terbuka di Kalimantan Timur, wilayah yang menjadi tulang punggung pasokan energi nasional. Dengan memanfaatkan data produksi aktual, riset ini menunjukkan bahwa pendekatan optimasi matematis—khususnya linear programming—mampu memperbaiki ketidakseimbangan antara kapasitas alat, waktu kerja efektif, dan target produksi yang selama ini menjadi sumber inefisiensi operasional.

Tantangan Efisiensi di Tambang Terbuka

Industri pertambangan global menghadapi tekanan berlapis: fluktuasi harga komoditas, tuntutan efisiensi biaya, serta standar keberlanjutan yang semakin ketat. Dalam konteks tambang terbuka, perencanaan produksi menjadi faktor strategis karena menentukan sinkronisasi antara alat gali-muat, alat angkut, waktu kerja, dan biaya operasional.

Di banyak tambang, praktik perencanaan masih bersifat konvensional dan deterministik. Akibatnya, alat berat sering tidak bekerja optimal, waktu tunggu meningkat, konsumsi bahan bakar membengkak, dan biaya perawatan melonjak. Kondisi inilah yang mendorong Malik untuk menguji apakah optimasi berbasis riset operasi dapat menjadi jawaban yang lebih rasional dan terukur.

Pendekatan Penelitian Berbasis Data Nyata

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif terapan dengan desain studi kasus. Data sekunder diambil dari dokumen operasional perusahaan tambang, mencakup kapasitas alat, waktu kerja efektif, biaya bahan bakar, biaya perawatan, biaya tenaga kerja, serta target produksi bulanan.

Malik kemudian membangun model optimasi linear programming dengan dua tujuan utama: meminimalkan biaya produksi dan memaksimalkan pemanfaatan alat berat, tanpa melanggar batasan operasional yang ada. Model ini diselesaikan menggunakan perangkat lunak optimasi yang lazim dipakai dalam riset operasi pertambangan.

Produksi Tepat Sasaran Tanpa Tambah Sumber Daya

Hasil analisis menunjukkan perbedaan mencolok antara kondisi eksisting dan hasil optimasi. Pada kondisi awal, produksi aktual hanya mencapai 94,5 persen dari target bulanan. Setelah optimasi diterapkan, target produksi 100 persen tercapai, tanpa penambahan alat maupun jam kerja.

Temuan ini menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada keterbatasan sumber daya, melainkan pada alokasi dan penjadwalan yang tidak optimal. Dengan perencanaan yang lebih presisi, kapasitas yang sama mampu menghasilkan kinerja yang jauh lebih baik.

Utilisasi Alat Berat Meningkat Signifikan

Efisiensi paling nyata terlihat pada pemanfaatan alat berat. Tingkat utilisasi excavator meningkat dari 72 persen menjadi 85 persen, sementara dump truck naik dari 68,5 persen menjadi 82,5 persen. Rata-rata utilisasi armada secara keseluruhan melonjak lebih dari 13 persen.

Peningkatan ini terjadi karena model optimasi mampu menyeimbangkan kerja alat gali-muat dan alat angkut, sehingga mengurangi waktu tunggu dan bottleneck produksi. Sistem produksi menjadi lebih sinkron, aliran material lebih lancar, dan downtime dapat ditekan.

Biaya Operasional Turun Hampir 9 Persen

Dampak ekonomi dari optimasi juga sangat signifikan. Total biaya operasional bulanan turun dari USD 2,63 juta menjadi USD 2,39 juta, atau berkurang sekitar 8,94 persen. Penghematan terbesar berasal dari:

  • Biaya bahan bakar yang turun lebih dari 10 persen
  • Biaya perawatan alat yang menurun hampir 10 persen
  • Biaya tenaga kerja yang lebih efisien karena jam kerja produktif meningkat

Penurunan biaya ini berkaitan langsung dengan berkurangnya waktu tidak produktif dan meningkatnya efisiensi penggunaan alat.

Waktu Kerja Lebih Efektif, Bukan Lebih Lama

Menariknya, peningkatan kinerja tidak dicapai dengan menambah jam kerja. Total jam kerja bulanan tetap sama, namun waktu kerja efektif meningkat dari 71,25 persen menjadi 83,75 persen. Sebaliknya, waktu idle berhasil ditekan secara signifikan.

Hal ini menunjukkan bahwa manajemen waktu dan penjadwalan yang tepat memiliki peran strategis dalam meningkatkan produktivitas tambang terbuka.

Implikasi bagi Industri Pertambangan

Penelitian ini memberikan pesan kuat bagi manajemen tambang: efisiensi dapat dicapai melalui perencanaan berbasis data, bukan semata melalui investasi alat baru. Model optimasi seperti yang dikembangkan dalam riset ini dapat menjadi dasar sistem pendukung keputusan bagi perencanaan produksi harian maupun bulanan.

Secara teoretis, studi ini memperkuat peran operations research dalam manajemen pertambangan. Secara praktis, hasilnya relevan bagi tambang di Indonesia dan negara berkembang lain yang menghadapi tantangan serupa: biaya tinggi, keterbatasan sumber daya, dan tuntutan produktivitas.

Malik juga mencatat bahwa model ini masih bersifat deterministik. Faktor ketidakpastian seperti cuaca ekstrem, gangguan alat, dan variasi kualitas material belum sepenuhnya terakomodasi, sehingga riset lanjutan berbasis optimasi stokastik dan simulasi dinilai penting.

Profil Penulis

Malik.

Dosen Fakultas Teknik Pertambangan dan Kebumian

Universitas Bosowa, Indonesia

Bidang keahlian: Perencanaan Tambang, Optimasi Produksi, dan Manajemen Operasi Pertambangan

Sumber Penelitian

Malik. (2026). Optimization of Mine Production Planning to Support Operational Efficiency in Open-Pit Mining Operations.

Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5 No. 1, hlm. 321–334.

DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i1.383

URL: https://traformosapublisher.org/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar