Penelitian dilakukan pada 60 siswa kelas VIII di sebuah SMP Negeri di DKI Jakarta selama tahun ajaran 2025/2026. Hasilnya menegaskan bahwa asesmen bukan sekadar alat mengukur nilai akhir, tetapi dapat menjadi penggerak utama kualitas proses berpikir siswa dalam pembelajaran sains.
Masalah Asesmen Sains di Sekolah
Selama bertahun-tahun, penilaian pembelajaran IPA di sekolah masih didominasi oleh soal-soal yang menguji hafalan dan pemahaman dasar. Model penilaian semacam ini dinilai kurang mampu melatih siswa untuk berpikir kritis, menganalisis data, dan menyusun argumen berbasis bukti ilmiah.
Padahal, kemampuan Higher-Order Thinking Skills (HOTS)—yang mencakup analisis, evaluasi, dan kreasi—menjadi indikator penting kualitas pendidikan sains di tingkat global. Ketika asesmen tidak selaras dengan tuntutan tersebut, pembelajaran cenderung berhenti pada penguasaan konsep, bukan pemahaman mendalam.
Kondisi inilah yang mendorong Ahmad Sofyan merancang sebuah kerangka asesmen inovatif yang tidak hanya mengubah bentuk soal, tetapi juga menyusun sistem penilaian berbasis proses berpikir ilmiah siswa.
Pendekatan Penelitian di Kelas Nyata
Penelitian ini menggunakan pendekatan research and development (R&D) yang dikombinasikan dengan desain kuasi-eksperimen. Proses pengembangan asesmen dimulai dari analisis kebutuhan, perancangan indikator HOTS, validasi oleh pakar, hingga uji efektivitas di kelas.
Dua kelompok siswa dilibatkan dalam penelitian ini. Kelas eksperimen menggunakan asesmen inovatif berbasis HOTS, sementara kelas kontrol tetap menggunakan penilaian konvensional yang umum dipakai guru. Kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa diukur melalui tes HOTS, kuesioner respons siswa, dan penilaian ahli terhadap kualitas instrumen asesmen.
Asesmen Dinyatakan Sangat Valid dan Praktis
Hasil validasi oleh pakar pendidikan sains menunjukkan bahwa asesmen inovatif ini memiliki tingkat validitas yang sangat tinggi. Aspek isi, konstruksi, dan kejelasan bahasa seluruhnya memperoleh skor di atas 3,7 dari skala 4, menandakan bahwa indikator penilaian benar-benar mencerminkan proses berpikir tingkat tinggi siswa.
Selain valid, asesmen ini juga dinilai sangat praktis oleh siswa. Mayoritas siswa menyatakan bahwa instruksi mudah dipahami, soal relevan dengan materi pelajaran, dan penilaian mendorong mereka berpikir lebih mendalam. Asesmen tidak lagi dipersepsikan sebagai beban, melainkan bagian dari proses belajar.
Nilai HOTS Siswa Naik Lebih dari 10 Poin
Dampak paling nyata terlihat pada hasil belajar siswa. Rata-rata skor HOTS siswa di kelas eksperimen mencapai 78,40, jauh lebih tinggi dibanding kelas kontrol yang hanya 68,15. Selisih lebih dari 10 poin ini menunjukkan peningkatan yang konsisten pada seluruh indikator berpikir tingkat tinggi.
Uji statistik memperkuat temuan tersebut. Hasil independent sample t-test menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan antara kedua kelompok, dengan nilai signifikansi 0,000. Artinya, peningkatan kemampuan berpikir siswa bukan terjadi secara kebetulan, melainkan akibat langsung dari penerapan asesmen inovatif.
Asesmen Mengarahkan Cara Siswa Berpikir
Penelitian ini menegaskan bahwa desain asesmen sangat memengaruhi cara siswa belajar dan berpikir. Ketika penilaian menuntut siswa menganalisis fenomena, mengevaluasi data, dan menyusun solusi berbasis sains, siswa terdorong untuk membangun pemahaman yang lebih dalam.
Menurut Ahmad Sofyan, asesmen yang dirancang dengan indikator proses berpikir memungkinkan guru memperoleh gambaran yang lebih autentik tentang kemampuan siswa. Berbeda dengan penilaian konvensional yang hanya menilai jawaban akhir, asesmen inovatif mampu menilai cara berpikir ilmiah siswa secara utuh.
Implikasi bagi Pendidikan dan Kebijakan
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi dunia pendidikan. Bagi guru, penelitian ini menyediakan model asesmen yang dapat langsung diterapkan untuk mendukung pembelajaran berbasis HOTS. Bagi sekolah dan pembuat kebijakan, hasil penelitian ini menjadi dasar untuk menyusun pedoman penilaian yang lebih selaras dengan tuntutan kurikulum berbasis kompetensi.
Penelitian ini juga membuka peluang pengembangan asesmen berbasis digital dan kecerdasan buatan di masa depan, agar penilaian HOTS dapat dilakukan secara lebih luas dan berkelanjutan.
Profil Penulis
Ahmad Sofyan
Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Bidang keahlian: Evaluasi Pendidikan, Asesmen Pembelajaran, dan Pendidikan Sains
Sumber Penelitian
Sofyan, A. (2026). Innovative Assessment Frameworks for Measuring Higher-Order Thinking Skills in Science Education.
Asian Journal of Applied Education, Vol. 5 No. 1, hlm. 135–148.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajae.v5i1.16063
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajae
0 Komentar