Mengentaskan Kemiskinan Nelayan Desa Tongke-Tongke: Menelaah Model Bank Gramenn di Bangladesh

Ilustrasi by AI

Model Bank Mikro ala Grameen Dinilai Bisa Tekan Kemiskinan Nelayan Tongke-Tongke

Kemiskinan masih membayangi masyarakat nelayan di Desa Tongke-Tongke, meski Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan sumber daya laut melimpah. Dalam artikel ilmiah terbaru, Ilyas dari Universitas Halu Oleo menyoroti bahwa akses permodalan menjadi kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan tersebut. Penelitian yang diterima pada Januari 2026 dan diterbitkan dalam International Journal of Global Sustainable Research ini menegaskan bahwa pendekatan microcredit seperti model Grameen Bank di Bangladesh berpotensi menjadi solusi nyata bagi nelayan pesisir.

Studi ini penting karena menunjukkan paradoks pembangunan maritim Indonesia: kekayaan laut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan. Ketergantungan pada musim, cuaca, dan keterbatasan alat tangkap membuat pendapatan nelayan tidak stabil. Ketika tidak melaut, banyak keluarga kehilangan sumber penghasilan.

Potensi Besar, Kesejahteraan Masih Rendah

Desa Tongke-Tongke memiliki kekayaan sumber daya pesisir yang signifikan. Berbagai komoditas seperti ikan, kepiting, udang, kerang, hingga rumput laut menjadi potensi ekonomi yang dapat dikembangkan. Tambak bandeng dan udang windu bahkan telah lama menjadi penopang ekonomi masyarakat.

Mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan dengan hasil tangkapan seperti kerapu, tuna, teripang, dan tenggiri yang sebagian telah menembus pasar ekspor Asia, termasuk Jepang. Pemerintah daerah juga telah membangun Tempat Pelelangan Ikan (TPI) untuk mendukung aktivitas ekonomi. Namun fasilitas tersebut belum beroperasi optimal.

Menurut Ilyas, masalah utama bukan pada ketiadaan sumber daya, melainkan pada pengelolaan dan akses terhadap faktor produksi. Banyak nelayan masih menggunakan alat tangkap sederhana seperti pancing, sehingga hasil tangkapan belum maksimal. Selain itu, badai dan musim barat sering memaksa nelayan menepi, memperbesar risiko kemiskinan.

Akar Masalah: Sulitnya Akses Modal

Penelitian ini menegaskan bahwa keterbatasan modal adalah hambatan terbesar ketika nelayan ingin membuka usaha sampingan. Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang relatif mudah memperoleh kredit, nelayan desa sering dianggap “tidak bankable” karena tidak memiliki jaminan atau informasi keuangan yang memadai.

Akibatnya, sebagian masyarakat terjebak pada pinjaman informal dengan bunga tinggi. Kondisi ini memperkuat lingkaran kemiskinan karena keuntungan usaha habis untuk membayar utang.

Mengacu pada pemikiran ekonom Amartya Sen, kemiskinan tidak hanya soal pendapatan rendah, tetapi juga keterbatasan akses terhadap sumber daya strategis. Ilyas menilai akses ke lembaga keuangan termasuk salah satu faktor strategis tersebut.

Meniru Keberhasilan Grameen Bank

Sebagai solusi, penelitian ini mengusulkan adaptasi model Grameen Bank yang dipopulerkan Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian 2006. Bank mikro tersebut terbukti mampu memberikan pinjaman kecil kepada masyarakat miskin tanpa agunan dan mendorong kemandirian ekonomi.

Yunus pernah menyatakan bahwa kemiskinan bukan disebabkan oleh ketidakmampuan orang miskin, melainkan oleh sistem dan institusi yang gagal memberi mereka kesempatan. Pendekatan inilah yang dinilai relevan bagi komunitas nelayan.

Beberapa prinsip utama yang dapat diterapkan antara lain:

  • Skema kredit fleksibel, disesuaikan dengan musim tangkap atau panen.
  • Penyaluran melalui kelompok nelayan, sehingga ada kontrol sosial dan tanggung jawab bersama.
  • Dukungan pemerintah, termasuk kemungkinan kredit tanpa bunga menggunakan dana publik.

“Mempermudah akses modal bagi nelayan akan membuka peluang usaha mandiri dan mengurangi ketergantungan pada rentenir,” tulis Ilyas dalam artikelnya.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Pengalaman Grameen Bank menunjukkan bahwa pinjaman kecil dapat menghasilkan perubahan besar. Penerima kredit mampu membangun rumah, memperoleh akses pendidikan dan layanan kesehatan, serta meningkatkan kualitas hidup keluarga.

Model ini juga sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan karena memberi kesempatan yang setara bagi kelompok marginal. Pemberdayaan ekonomi berbasis kepercayaan dinilai mampu menciptakan kemandirian komunitas.

Namun Ilyas mengingatkan bahwa adopsi kebijakan tidak bisa dilakukan secara mentah. Perbedaan sosial dan budaya antara Bangladesh dan Indonesia menuntut adanya modifikasi model agar sesuai dengan karakter masyarakat lokal.

Jika diterapkan dengan tepat, skema pembiayaan mikro berpotensi membantu nelayan memiliki pekerjaan alternatif saat tidak melaut, memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga, dan pada akhirnya menekan angka kemiskinan pesisir.

Keterbatasan Studi

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan data sekunder dari Badan Pusat Statistik, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta berbagai publikasi ilmiah. Analisis dilakukan melalui pengumpulan, reduksi, dan interpretasi data secara deskriptif.

Meski menawarkan rekomendasi strategis, studi ini hanya berfokus pada satu desa sehingga belum dapat digeneralisasi untuk seluruh wilayah Indonesia. Namun modelnya dinilai dapat direplikasi di daerah pesisir lain dengan karakteristik serupa.

Profil Penulis

Ilyas adalah akademisi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Halu Oleo. Bidang keahliannya mencakup ekonomi pembangunan, pemberdayaan masyarakat, dan kebijakan pengentasan kemiskinan, khususnya di wilayah pesisir.

Sumber Penelitian

Ilyas. “Alleviating the Poverty of Tongke-Tongke Village Fishermen: Glancing at the Gramenn Bank Model in Bangladesh.” International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR), Vol. 4 No. 1, 2026. DOI: https://doi.org/10.59890/ijgsr.v4i1.152

Posting Komentar

0 Komentar