Mahasiswa SMA Bangun Pemahaman Statistik Lewat Jalur Kognitif Bertahap di Pembelajaran Digital

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Bandung - Pemahaman siswa SMA terhadap konsep variasi statistik berkembang melalui jalur kognitif bertahap saat mereka belajar menggunakan lingkungan digital. Temuan ini diungkapkan oleh Nida’ul Hidayah dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam riset yang dipublikasikan pada 2026 di Asian Journal of Applied Education. Studi ini penting karena menunjukkan bagaimana teknologi pendidikan tidak hanya menyajikan data, tetapi juga membentuk cara berpikir siswa dalam memahami sebaran dan ketidakpastian data—kompetensi kunci di era literasi data.

Penelitian dilakukan pada siswa kelas XI di salah satu SMA negeri di Bandung, Jawa Barat, ketika sekolah semakin intensif memanfaatkan grafik interaktif dan simulasi digital dalam pembelajaran statistika. Hasilnya memberi gambaran konkret tentang bagaimana siswa benar-benar “berpikir” saat berhadapan dengan data dinamis di layar.

Tantangan Memahami Variasi Statistik di Era Digital

Variasi statistik—perbedaan dan penyebaran nilai dalam kumpulan data—sering menjadi konsep sulit bagi siswa. Banyak siswa terbiasa fokus pada nilai rata-rata, tetapi kurang memahami seberapa beragam data sebenarnya. Padahal, dalam kehidupan nyata, variasi menentukan cara kita membaca nilai ujian, hasil survei, hingga data ekonomi.

Lingkungan belajar digital menawarkan solusi melalui visualisasi dan simulasi interaktif. Namun, belum banyak riset yang menjelaskan bagaimana siswa memproses informasi tersebut secara kognitif. Sebagian besar studi sebelumnya hanya menilai peningkatan hasil belajar, bukan alur berpikir yang dilalui siswa.

“Teknologi sering diperlakukan sebagai alat, bukan sebagai ruang berpikir,” tulis Hidayah. Penelitian ini mencoba menutup celah itu dengan menelusuri jalur kognitif siswa secara mendalam.

Mengamati Cara Siswa Berpikir, Bukan Sekadar Nilai

Alih-alih menggunakan tes tertulis, Hidayah menerapkan pendekatan kualitatif eksploratif. Sebanyak 12 siswa dipilih secara purposif dan diminta mengerjakan tugas statistika berbasis digital sambil mengungkapkan isi pikirannya secara lisan (think-aloud protocol). Seluruh aktivitas layar direkam, lalu dianalisis menggunakan Cognitive Task Analysis.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat langkah demi langkah bagaimana siswa mempersepsi grafik, bereksperimen dengan data, hingga menarik makna dari perubahan visual yang muncul.

Empat Tahap Jalur Kognitif Siswa

Dari analisis tersebut, muncul pola konsisten berupa empat tahap jalur kognitif dalam memahami variasi statistik di lingkungan digital.

  • Identifikasi elemen visual Tahap awal selalu dimulai dari pengamatan visual. Siswa memperhatikan bentuk grafik, warna, kepadatan titik, dan posisi data. Visualisasi berfungsi sebagai “jangkar” untuk memulai penalaran. Tanpa memahami tampilan awal, siswa cenderung bingung melangkah ke tahap berikutnya.
  • Eksplorasi perubahan data Setelah mengenali elemen visual, siswa mulai bereksperimen: menggeser parameter, mengubah nilai, dan mengamati bagaimana grafik berubah. Interaksi langsung ini membantu mereka melihat hubungan sebab-akibat antara angka dan bentuk sebaran data.
  • Pembentukan makna sebaran nilai Pada tahap ini, siswa mulai memberi arti pada apa yang mereka lihat. Titik yang menyebar dianggap menunjukkan perbedaan besar, sedangkan titik yang rapat dipahami sebagai data yang seragam. Beberapa siswa bahkan mulai mengaitkan pola tersebut dengan konteks nyata, seperti variasi nilai ujian antarsiswa.
  • Integrasi konsep statistic Tantangan terbesar muncul di tahap akhir. Ketika visualisasi menjadi terlalu dinamis atau kompleks, banyak siswa kesulitan menghubungkan perubahan visual dengan konsep statistik yang lebih abstrak. Beban kognitif meningkat, dan sebagian siswa harus kembali ke tahap awal untuk memastikan pemahamannya.

Proses Tidak Linear, Tapi Berulang

Salah satu temuan penting adalah bahwa jalur kognitif ini tidak selalu linear. Siswa sering bergerak maju-mundur antar tahap. Ketika bingung, mereka kembali mengamati grafik awal sebelum melanjutkan eksplorasi. Pola ini menunjukkan bahwa pemahaman statistik bersifat reflektif dan iteratif, bukan sekali jadi.

Menurut Hidayah, pola berulang ini wajar dan justru menandakan proses berpikir yang aktif. Namun, tanpa desain pembelajaran yang tepat, visualisasi yang terlalu kompleks justru bisa menghambat pemahaman.

Dampak bagi Guru, Sekolah, dan Kebijakan Pendidikan

Temuan ini membawa implikasi praktis yang kuat. Bagi guru, desain pembelajaran statistik berbasis digital perlu disusun bertahap, dengan visualisasi yang jelas dan tingkat kompleksitas yang terkontrol. Bagi sekolah, kesiapan teknologi—mulai dari perangkat hingga stabilitas tampilan—berpengaruh langsung pada proses kognitif siswa.

Dalam konteks kebijakan, riset ini mendukung penguatan literasi numerasi dalam kurikulum nasional. Pemanfaatan teknologi sebaiknya tidak hanya berorientasi pada penggunaan aplikasi, tetapi juga pada pemahaman bagaimana siswa membangun makna dari data.

“Teknologi akan efektif jika selaras dengan cara siswa berpikir,” simpul Hidayah. Ia juga merekomendasikan riset lanjutan dengan teknologi seperti eye-tracking atau analisis log digital untuk memetakan proses berpikir secara lebih rinci.

Profil Penulis

Nida’ul Hidayah, M.Pd. Dosen dan peneliti di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Bidang keahlian: pendidikan matematika, literasi statistik, dan pembelajaran digital berbasis kognitif.

Sumber Penelitian

Hidayah, N. (2026). Exploring Students’ Cognitive Pathways in Understanding Statistical Variability in Digital Learning Environments. Asian Journal of Applied Education,
Vol. 5 No. 1, hlm. 163–178.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajae.v5i1.15851
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajae

Posting Komentar

0 Komentar