Literasi Keuangan Syariah, Akses Modal, dan Digitalisasi Jadi Kunci UMKM Bertahan di Kalimantan Timur

 
Ilustrasi by AI 
 
FORMOSA NEWS - Samarinda - Transformasi ekonomi di Kalimantan Timur sebagai calon ibu kota baru Indonesia membawa peluang sekaligus tantangan besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya yang berbasis syariah. Sebuah riset terbaru menunjukkan bahwa keberlanjutan UMKM syariah di wilayah ini sangat ditentukan oleh tiga faktor utama: literasi keuangan syariah, akses pembiayaan syariah, dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital.

Temuan ini diungkap dalam artikel ilmiah karya Lukman Priyandono dari Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda, yang dipublikasikan pada 2026 di Formosa Journal of Science and Technology (FJST). Penelitian tersebut menyoroti bagaimana ketiga faktor itu saling memperkuat dan berperan penting dalam menjaga daya tahan UMKM syariah di tengah perubahan ekonomi yang cepat.

UMKM Syariah di Tengah Perubahan Besar

Kalimantan Timur sedang mengalami percepatan pembangunan seiring penetapannya sebagai lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Kondisi ini mendorong pertumbuhan ekonomi baru, namun juga meningkatkan persaingan dan tuntutan adaptasi bagi pelaku usaha lokal.

Di sisi lain, ekonomi syariah Indonesia secara nasional terus berkembang. Aset perbankan syariah meningkat pesat, tetapi manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan oleh UMKM di daerah berkembang seperti Kalimantan Timur. Banyak pelaku UMKM masih menghadapi keterbatasan pemahaman keuangan syariah, sulit mengakses pembiayaan formal, dan tertinggal dalam pemanfaatan teknologi digital.

Menurut Lukman Priyandono, tantangan-tantangan tersebut tidak bisa diselesaikan secara parsial. “UMKM syariah membutuhkan pendekatan terpadu. Literasi tanpa akses modal dan teknologi tidak cukup, begitu juga sebaliknya,” tulisnya dalam artikel tersebut.

Cara Penelitian Dilakukan

Penelitian ini melibatkan 300 pelaku UMKM syariah di Kalimantan Timur yang bergerak di sektor perdagangan, jasa, dan industri kreatif. Data dikumpulkan melalui survei dan dianalisis menggunakan pendekatan statistik modern, kemudian diperdalam dengan wawancara kepada pelaku usaha, praktisi perbankan syariah, dan regulator daerah.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat tidak hanya hubungan angka, tetapi juga memahami kondisi nyata di lapangan—mulai dari kebiasaan bisnis, kendala administratif, hingga kesiapan digital para pelaku UMKM.

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan gambaran yang cukup jelas:

·     Akses pembiayaan syariah menjadi faktor paling kuat dalam menentukan keberlanjutan UMKM. Pelaku usaha yang lebih mudah memperoleh modal cenderung lebih stabil dan mampu berkembang.

·    Adaptasi digital berperan besar, baik secara langsung maupun sebagai penghubung antara literasi keuangan dan keberlanjutan usaha. UMKM yang memanfaatkan media sosial, pembayaran digital, dan platform daring lebih mampu bertahan.

·    Literasi keuangan syariah tetap penting sebagai fondasi. Pemahaman tentang prinsip keuangan Islam membantu pelaku usaha mengambil keputusan yang lebih etis dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, ketiga faktor tersebut mampu menjelaskan sekitar 68 persen tingkat keberlanjutan UMKM syariah di Kalimantan Timur. Angka ini menunjukkan bahwa keberhasilan UMKM sangat dipengaruhi oleh kombinasi pengetahuan, modal, dan teknologi.

Mengapa Digitalisasi Jadi Penghubung Penting

Salah satu temuan menarik dari riset ini adalah peran digitalisasi sebagai “jembatan”. Literasi keuangan syariah terbukti mendorong UMKM untuk lebih siap beradaptasi secara digital. Sebaliknya, tanpa kemampuan digital, pengetahuan keuangan sering kali tidak dapat diterapkan secara optimal.

Banyak layanan keuangan syariah kini berbasis digital, mulai dari pembiayaan mikro hingga sistem pembayaran. UMKM yang tidak siap secara teknologi berisiko tertinggal dan semakin sulit mengakses layanan tersebut.

Dampak bagi Kebijakan dan Masyarakat

Hasil penelitian ini memberi pesan penting bagi pembuat kebijakan dan lembaga keuangan. Program pemberdayaan UMKM sebaiknya tidak hanya fokus pada pelatihan atau pembiayaan secara terpisah, tetapi dirancang secara terpadu.

Pemerintah daerah, perbankan syariah, dan lembaga pendamping UMKM dapat bekerja sama untuk:

·         meningkatkan literasi keuangan syariah yang praktis,

·         memperluas akses pembiayaan yang ramah UMKM,

·         serta mempercepat transformasi digital usaha kecil.

Pendekatan ini dinilai penting agar UMKM lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu mengambil bagian dalam pertumbuhan ekonomi di sekitar IKN.

Profil Penulis

Lukman Priyandono, S.E., M.M.

Dosen Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda Bidang keahlian: manajemen, UMKM, ekonomi dan keuangan syariah, serta pemasaran digital.

Sumber Penelitian

Artikel ilmiah: Sharia MSME Strategy Through the Synergy of Literacy, Capital Access, and Technology

Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 1, 2026

DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i1.389

URL: https://traformosapublisher.org/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar