Di tengah perhatian nasional terhadap rendahnya peringkat literasi Indonesia dalam survei internasional seperti PISA, temuan ini mempertegas bahwa penguatan literasi baca tulis dan minat membaca di tingkat SMP memiliki dampak langsung terhadap prestasi belajar. Studi ini juga memberi gambaran kontekstual dari sekolah di wilayah non-metropolitan, yang selama ini relatif kurang mendapat sorotan dalam penelitian literasi.
Tantangan Literasi di Sekolah Menengah Pertama
Selama beberapa tahun terakhir, isu rendahnya minat baca dan kemampuan literasi siswa menjadi perhatian serius dunia pendidikan Indonesia. Berbagai laporan menunjukkan bahwa banyak siswa mampu membaca secara teknis, tetapi kesulitan memahami isi teks, mengekspresikan gagasan secara tertulis, dan mengaitkan bacaan dengan konteks pembelajaran.
Di sekolah, kegiatan literasi sering kali masih bersifat tambahan dan belum terintegrasi secara konsisten dalam proses belajar mengajar. Akibatnya, membaca belum menjadi budaya, melainkan sekadar kewajiban akademik. Kondisi ini berdampak langsung pada pembelajaran Bahasa Indonesia, yang sangat bergantung pada kemampuan memahami teks dan menulis secara runtut.
Berangkat dari konteks tersebut, Ernawati Br. Barus mengkaji secara khusus bagaimana literasi baca tulis dan minat membaca memengaruhi hasil belajar Bahasa Indonesia siswa SMP.
Mengukur Literasi, Minat, dan Hasil Belajar Siswa
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kabanjahe, sebuah sekolah negeri yang merepresentasikan karakteristik wilayah non-metropolitan dengan latar sosial dan budaya yang beragam.
Data dikumpulkan melalui tiga instrumen utama. Kemampuan literasi baca tulis diukur menggunakan tes pemahaman membaca dan kemampuan menulis sederhana. Minat membaca diukur melalui angket yang menilai kebiasaan, motivasi, dan sikap siswa terhadap kegiatan membaca. Sementara itu, hasil belajar Bahasa Indonesia diambil dari nilai akademik siswa yang telah distandarkan oleh sekolah.
Seluruh data dianalisis secara statistik untuk melihat pengaruh masing-masing variabel, baik secara terpisah maupun secara simultan.
Dua Faktor Kunci Penentu Prestasi Bahasa Indonesia
Hasil analisis menunjukkan hubungan yang jelas antara literasi baca tulis, minat membaca, dan hasil belajar Bahasa Indonesia.
Pertama,
literasi baca tulis berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar.
Siswa dengan kemampuan memahami teks dan menulis yang lebih baik cenderung
memperoleh nilai Bahasa Indonesia lebih tinggi. Literasi baca tulis membantu
siswa menangkap ide pokok bacaan, memahami struktur teks, serta mengekspresikan
gagasan secara tertulis dengan lebih jelas.
Kedua,
minat membaca juga berkontribusi nyata terhadap prestasi.
Siswa yang memiliki minat membaca tinggi lebih sering berinteraksi dengan teks,
baik buku pelajaran maupun bacaan lain. Kebiasaan ini memperkaya kosakata,
memperdalam pemahaman bahasa, dan meningkatkan kepercayaan diri dalam
pembelajaran Bahasa Indonesia.
Ketiga, literasi baca tulis dan minat membaca secara bersama-sama memberikan pengaruh yang lebih kuat. Ketika kemampuan literasi didukung oleh minat membaca yang tinggi, dampaknya terhadap hasil belajar menjadi lebih optimal. Siswa tidak hanya mampu membaca dan menulis, tetapi juga terdorong untuk terus belajar melalui teks.
Menurut Ernawati Br. Barus, temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan prestasi Bahasa Indonesia memerlukan pendekatan ganda: penguatan keterampilan literasi sekaligus penumbuhan minat membaca.
Implikasi bagi Sekolah, Guru, dan Kebijakan Pendidikan
Temuan penelitian ini membawa implikasi praktis yang luas. Bagi sekolah, hasil riset menegaskan pentingnya menjadikan literasi sebagai bagian integral dari budaya sekolah, bukan sekadar program tambahan. Sudut baca, jurnal membaca, dan kegiatan literasi lintas mata pelajaran dapat menjadi strategi efektif untuk menumbuhkan minat membaca siswa.
Bagi guru Bahasa Indonesia, penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan kemampuan membaca dan menulis perlu dilakukan secara berimbang. Pembelajaran tidak cukup berfokus pada aspek teknis, tetapi juga harus mendorong pemahaman makna, diskusi teks, dan ekspresi gagasan siswa.
Dalam konteks kebijakan pendidikan, hasil studi ini mendukung penguatan Gerakan Literasi Sekolah dengan pendekatan yang lebih kontekstual. Sekolah di wilayah non-metropolitan memerlukan dukungan sumber bacaan yang relevan dan strategi literasi yang sesuai dengan karakter siswa.
Fondasi Prestasi Bahasa Dimulai dari Literasi
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa literasi baca tulis dan minat membaca merupakan fondasi utama keberhasilan pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMP. Prestasi belajar tidak muncul secara instan, tetapi dibangun melalui kebiasaan membaca dan kemampuan mengolah teks secara berkelanjutan.
Dengan memperkuat kedua aspek tersebut sejak dini, sekolah dapat menyiapkan siswa yang tidak hanya mampu lulus ujian, tetapi juga memiliki kecakapan literasi yang dibutuhkan dalam pendidikan lanjutan dan kehidupan sehari-hari.
Profil Penulis
Ernawati Br. Barus, M.Pd. – Dosen dan peneliti bidang pendidikan bahasa dan literasi, berfokus pada pembelajaran Bahasa Indonesia dan pengembangan budaya membaca di sekolah menengah.
Sumber Penelitian
Barus, E. Br. (2026). Pengaruh Literasi Baca Tulis dan Minat Membaca terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa SMP. Asian Journal of Applied Education,
Vol. 5 No. 1.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajae.v5i1.16141
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajae
0 Komentar