Studi ini penting karena penggunaan AI dalam pemasaran digital kini semakin masif. Perusahaan memanfaatkan AI untuk membuat iklan otomatis, rekomendasi produk personal, hingga konten promosi berbasis generative AI. Di tengah efisiensi dan kecepatan yang ditawarkan teknologi, muncul pertanyaan besar: apakah konsumen masih memercayai merek ketika pesan pemasaran tidak sepenuhnya dibuat oleh manusia?
AI, Efisiensi, dan Tantangan Keaslian Merek
Dalam dunia pemasaran modern, AI telah menjadi “aktor strategis” baru. Teknologi ini mampu memproses data konsumen dalam jumlah besar, menyesuaikan pesan dengan preferensi individu, dan mendistribusikan konten secara real-time. Namun, di balik keunggulan tersebut, terdapat kekhawatiran bahwa konten berbasis AI bisa terasa dingin, manipulatif, atau kehilangan sentuhan manusia.
Keaslian merek selama ini dipahami sebagai persepsi konsumen bahwa sebuah merek jujur, konsisten dengan nilai-nilainya, dan memiliki identitas yang dapat dipercaya. Banyak riset sebelumnya menunjukkan bahwa keaslian merek berkaitan erat dengan kepercayaan, kedekatan emosional, dan loyalitas konsumen. Karena itu, perubahan cara produksi konten—dari manusia ke mesin—berpotensi mengganggu fondasi hubungan antara merek dan konsumen.
“Pertanyaannya bukan sekadar apakah AI efektif, tetapi bagaimana konsumen menafsirkan pesan merek ketika mereka tahu atau menduga konten tersebut dihasilkan oleh AI,” tulis Yeni dalam artikelnya.
Survei Konsumen dan Analisis Data
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Yeni melakukan survei kuantitatif terhadap konsumen dewasa yang aktif menggunakan media digital dan pernah terpapar konten pemasaran berbasis AI, seperti iklan media sosial otomatis atau rekomendasi produk berbasis algoritma. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan pendekatan statistik multivariat.
Penelitian ini menilai empat aspek utama: persepsi keaslian merek, transparansi penggunaan AI, tingkat kepercayaan konsumen, dan sikap konsumen terhadap merek. Dengan metode analisis hubungan antarvariabel, studi ini memetakan bagaimana faktor-faktor tersebut saling memengaruhi dalam konteks pemasaran berbasis AI.
Hasil analisis menunjukkan bahwa semua indikator pengukuran valid dan konsisten. Model penelitian juga mampu menjelaskan sebagian besar variasi kepercayaan dan sikap konsumen, sehingga temuan yang dihasilkan dinilai kuat secara empiris.
Keaslian Tetap Menjadi Kunci
Temuan utama penelitian ini cukup jelas: keaslian merek tetap menjadi pendorong utama kepercayaan konsumen, bahkan ketika konten pemasaran dibuat oleh AI. Konsumen tidak otomatis kehilangan kepercayaan hanya karena pesan diproduksi oleh mesin. Selama konten tersebut konsisten dengan nilai dan identitas merek, kepercayaan tetap terjaga.
Penelitian ini juga menemukan bahwa kepercayaan konsumen berperan penting dalam membentuk sikap positif terhadap merek. Konsumen yang percaya pada sebuah merek cenderung memiliki penilaian yang lebih baik, meskipun interaksi mereka dimediasi oleh teknologi AI. Menariknya, keaslian merek tidak hanya bekerja melalui kepercayaan, tetapi juga memiliki pengaruh langsung terhadap sikap konsumen.
Dengan kata lain, konsumen menilai pesan pemasaran bukan semata-mata dari siapa atau apa yang membuatnya, melainkan dari seberapa tulus dan konsisten pesan tersebut mencerminkan jati diri merek.
Transparansi AI Memperkuat Kepercayaan
Salah satu temuan penting lainnya adalah peran transparansi. Ketika merek secara terbuka mengomunikasikan penggunaan AI dalam pembuatan konten, hubungan antara keaslian merek dan kepercayaan konsumen menjadi lebih kuat. Transparansi berfungsi sebagai sinyal kejujuran dan tanggung jawab etis.
Namun, transparansi tidak selalu berdampak positif jika dilakukan tanpa strategi. Penelitian ini menekankan bahwa keterbukaan tentang AI harus selaras dengan narasi dan nilai merek. Jika tidak, transparansi justru dapat memicu skeptisisme atau kesan bahwa teknologi digunakan semata-mata untuk kepentingan komersial.
“Transparansi bukan sekadar soal membuka informasi, tetapi bagaimana informasi itu disampaikan secara konsisten dengan identitas merek,” tulis Yeni.
Implikasi bagi Dunia Usaha dan Kebijakan
Temuan ini membawa implikasi luas bagi dunia usaha, terutama perusahaan yang mengandalkan AI dalam pemasaran digital. Pertama, investasi pada teknologi harus diimbangi dengan upaya menjaga keaslian merek. AI sebaiknya diposisikan sebagai perpanjangan dari identitas merek, bukan pengganti nilai-nilai dasarnya.
Kedua, strategi komunikasi perlu menempatkan kepercayaan sebagai tujuan utama. Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap penggunaan data dan algoritma, kepercayaan menjadi aset yang semakin berharga. Ketiga, transparansi penggunaan AI perlu dirancang secara strategis agar memperkuat, bukan melemahkan, hubungan dengan konsumen.
Bagi pembuat kebijakan dan dunia pendidikan, riset ini juga relevan sebagai dasar diskusi tentang etika AI, literasi digital, dan perlindungan konsumen di era pemasaran berbasis teknologi.
Profil Penulis
Yeni. adalah dosen dan peneliti di Universitas Muhammadiyah Pontianak, Indonesia. Bidang keahliannya meliputi pemasaran digital, perilaku konsumen, dan manajemen pemasaran berbasis teknologi. Ia aktif meneliti dampak transformasi digital dan kecerdasan buatan terhadap hubungan antara merek dan konsumen.
Sumber Penelitian
Yeni. Consumer Interpretation of Brand Authenticity in Artificial Intelligence–Generated Marketing Content. Formosa Journal of Science and Technology,
Vol. 5, No. 1, 2026, hlm. 335–346.
DOI: 10.55927/fjst.v5i1.391
URL resmi: https://traformosapublisher.org/index.php/fjst
0 Komentar