Penelitian tersebut menganalisis tren kolera di Nepal selama sepuluh tahun, dari 2013 hingga 2022. Fokus utamanya adalah hubungan antara angka kejadian dan kematian kolera dengan faktor lingkungan seperti akses air minum, praktik buang air besar sembarangan, serta ketersediaan fasilitas cuci tangan. Hasilnya menunjukkan bahwa kolera tetap bertahan sebagai masalah kesehatan masyarakat, terutama ketika layanan dasar belum merata.
Kolera merupakan penyakit diare akut yang ditularkan melalui makanan dan air yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholerae. Penyakit ini sebenarnya dapat dicegah dan diobati dengan mudah jika akses terhadap air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan tersedia. Namun di negara berkembang seperti Nepal, keterbatasan infrastruktur dan kesenjangan layanan membuat kolera terus muncul dalam bentuk wabah, terutama di kelompok masyarakat rentan.
Perubahan iklim turut memperburuk situasi. Kekeringan, banjir, dan perubahan pola curah hujan berdampak langsung pada kualitas dan ketersediaan air bersih. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengidentifikasi kolera sebagai salah satu penyakit yang sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim, terutama di wilayah dengan sistem sanitasi yang lemah seperti Nepal.
Untuk memetakan kondisi tersebut, Neupane dan Subedi menggunakan pendekatan studi kuantitatif berbasis data sekunder. Data diperoleh dari laporan resmi pemerintah Nepal, termasuk laporan Epidemiology and Disease Control Division (EDCD), laporan tahunan Department of Health Services (DOHS), laporan WHO, serta basis data global Joint Monitoring Programme (JMP) terkait air minum, sanitasi, dan higiene. Selain itu, penulis juga melakukan telaah pustaka terhadap berbagai penelitian sebelumnya.
Hasil analisis menunjukkan bahwa selama periode 2013 hingga 2019, angka kejadian kolera di Nepal relatif rendah dan stabil, dengan fluktuasi kecil. Namun pada 2021 terjadi lonjakan besar, dengan jumlah kasus mencapai sekitar 1.600 kasus. Pada tahun yang sama, tercatat 7 kematian akibat kolera, setelah beberapa tahun sebelumnya tidak ada kematian yang dilaporkan. Pada 2022, jumlah kasus dan kematian kembali menurun drastis.
Lonjakan ini bertepatan dengan kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya membaik. Data penelitian menunjukkan bahwa praktik buang air besar sembarangan memang menurun signifikan dalam satu dekade terakhir. Di wilayah pedesaan, persentasenya turun dari sekitar 35 persen pada 2013 menjadi sekitar 5 persen pada 2022. Di wilayah perkotaan, angka tersebut menurun dari sekitar 10 persen menjadi sedikit di atas 2 persen. Secara nasional, rata-rata praktik buang air besar sembarangan turun hingga di bawah 5 persen.
Namun, penurunan tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh perbaikan akses air minum. Penelitian ini mencatat bahwa persentase penduduk dengan layanan air minum terbatas justru meningkat, dari sekitar 3 persen pada 2013 menjadi 4,5 persen pada 2022. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih menghadapi kesulitan dalam memperoleh air bersih yang aman secara konsisten.
Masalah lain yang juga disorot adalah akses terhadap fasilitas cuci tangan. Persentase penduduk yang tidak memiliki fasilitas dasar untuk mencuci tangan meningkat dari 0,9 persen menjadi 1,5 persen selama periode penelitian. Meski terlihat kecil, angka ini memiliki dampak besar karena kolera menyebar melalui jalur fekal-oral, yang sangat dipengaruhi oleh kebersihan tangan.
Dalam pembahasannya, Neupane dan Subedi menekankan bahwa kolera tidak hanya berkaitan dengan faktor medis, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat. Mereka mencatat bahwa kekurangan air bersih, sanitasi yang tidak memadai, serta praktik higiene yang lemah masih menjadi pemicu utama munculnya wabah kolera di Nepal.
Pemerintah Nepal sebenarnya telah menjalankan berbagai program pencegahan, termasuk Community Led Water Safety Planning bekerja sama dengan UNICEF. Program ini mencakup sertifikasi komunitas aman air, penerapan Water Safety Plan, edukasi pengolahan air rumah tangga, serta pemantauan kualitas air secara rutin. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tantangan di lapangan masih besar, terutama di daerah terpencil dan komunitas berpenghasilan rendah.
Dari sisi kebijakan publik, temuan ini memperkuat pentingnya investasi berkelanjutan di sektor air bersih dan sanitasi. Kolera yang terus berulang menjadi indikator bahwa pembangunan infrastruktur dasar belum sepenuhnya menjangkau semua lapisan masyarakat. Bagi masyarakat umum, penelitian ini juga menegaskan kembali pentingnya perilaku hidup bersih, terutama kebiasaan mencuci tangan dan penggunaan fasilitas sanitasi yang layak.
“Kolera tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Nepal, meskipun penyakit ini dapat dicegah dan diobati,” tulis Neupane dan Subedi. Mereka menegaskan bahwa pengendalian kolera membutuhkan pendekatan terpadu yang melibatkan sektor kesehatan, lingkungan, dan pembangunan masyarakat.
Profil Penulis
Sumber Penelitian
-
Neupane, Pradip & Subedi, Mandawi (2026)
-
Cholera in Nepal: Examining the Role of Environmental Factors in Disease Incidence and Mortality
-
International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR)
-
Volume 4, Nomor 1, halaman 31–38
-
DOI: 10.59890/ijaamr.v4i1.161
0 Komentar