Jaringan Sosial Pedagang Sayur (Studi di Desa Panyula, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan)


Ilustrasi by AI 

Jaringan Sosial Jadi Kunci Keberlanjutan Pedagang Sayur di Pasar Tradisional Sulawesi Selatan

Pedagang sayur di Pasar Panyula, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, bertahan bukan hanya karena harga dan pasokan, tetapi karena kekuatan jaringan sosial. Temuan ini disampaikan oleh Sulsalman Moita, Megawati Asrul Tawulo, dan Andi Farhan Shanoubar dari Universitas Halu Oleo Kendari dalam artikel ilmiah yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Integrative Sciences. Penelitian ini menunjukkan bahwa relasi berbasis kepercayaan, kerja sama, dan solidaritas memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan usaha pedagang sayur di pasar tradisional.

Latar Belakang: Pasar Tradisional di Tengah Tekanan Modernisasi

Pasar tradisional masih menjadi tulang punggung ekonomi lokal di banyak daerah Indonesia. Selain berfungsi sebagai tempat jual beli, pasar tradisional juga menjadi ruang interaksi sosial yang membentuk kepercayaan dan solidaritas antar pelaku ekonomi. Namun, keberadaan pasar tradisional semakin tertekan oleh ekspansi pasar modern, fluktuasi harga bahan pangan, serta perubahan pola konsumsi masyarakat.

Pedagang sayur termasuk kelompok yang paling rentan karena berhadapan dengan komoditas mudah rusak, keterbatasan modal, dan ketergantungan pada pasokan harian. Dalam kondisi ini, jaringan sosial menjadi sumber daya penting yang sering kali menentukan apakah usaha kecil dapat bertahan atau tidak.

Metodologi Penelitian dengan Pendekatan Lapangan

Penelitian yang dilakukan oleh Sulsalman Moita dan tim Universitas Halu Oleo menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Studi lapangan dilakukan di Pasar Panyula, Desa Panyula, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone.

Sebanyak 11 informan dipilih secara purposif, terdiri dari:

a. 8 pedagang sayur

b. 2 pemasok sayur

c. 1 pembeli

Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan tahapan penyederhanaan data, penyajian temuan, dan penarikan kesimpulan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggambarkan secara utuh pola relasi sosial yang terjadi di pasar tradisional.

Temuan Utama: Jaringan Sosial Menopang Usaha Pedagang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan sosial berperan besar dalam keberlanjutan usaha pedagang sayur. Peran tersebut terlihat dalam beberapa aspek utama berikut.

1. Akses Informasi Pasar
Pedagang saling bertukar informasi mengenai harga sayur, ketersediaan stok, dan tren permintaan konsumen. Informasi ini membantu pedagang menyesuaikan harga dan volume dagangan agar tetap kompetitif dan menghindari kerugian.

2. Dukungan Finansial Informal
Hubungan berbasis kepercayaan memungkinkan pedagang memperoleh barang dari pemasok dengan sistem pembayaran tempo. Selain itu, bantuan keuangan atau peminjaman barang antar pedagang juga sering terjadi saat salah satu pihak mengalami kesulitan modal.

3. Kerja Sama dan Solidaritas
Meski berada dalam situasi persaingan, pedagang tetap menunjukkan solidaritas, seperti saling menjaga lapak, meminjamkan alat dagang, atau membantu saat ada pedagang yang berhalangan hadir. Solidaritas ini menciptakan rasa aman dan kebersamaan di lingkungan pasar.

Menurut Sulsalman Moita dari Universitas Halu Oleo, kekuatan jaringan sosial ini membuat pasar tradisional tetap hidup di tengah tekanan ekonomi. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan usaha pedagang tidak hanya ditentukan oleh modal finansial, tetapi juga oleh kualitas hubungan sosial yang mereka bangun.

Strategi Pedagang dalam Mempertahankan Jaringan Sosial

Penelitian ini juga mengungkap berbagai strategi yang digunakan pedagang sayur untuk menjaga jaringan sosial agar tetap berfungsi.

Menjaga Timbal Balik (Resiprositas)
Setiap bantuan, baik berupa informasi, uang, maupun barang, dipahami sebagai hubungan timbal balik jangka panjang. Praktik ini memperkuat kepercayaan dan mengurangi konflik antar pedagang.

Membangun Reputasi dan Kepercayaan
Pedagang yang dikenal jujur, ramah, dan konsisten dalam kualitas dagangan lebih mudah mendapatkan pelanggan setia dan kepercayaan pemasok. Reputasi menjadi aset sosial yang bernilai tinggi.

Memberikan Promo dan Diskon
Diskon kecil atau bonus pembelian tidak hanya berfungsi sebagai strategi penjualan, tetapi juga sebagai cara membangun kedekatan emosional dengan pelanggan.

Sikap Saling Membantu
Budaya saling membantu tetap kuat, baik dalam bentuk dukungan ekonomi maupun moral. Praktik ini memperkuat kohesi sosial di antara pelaku pasar tradisional.

Implikasi: Jaringan Sosial sebagai Modal Pembangunan Ekonomi Lokal

Temuan penelitian ini memiliki implikasi luas bagi pengembangan ekonomi rakyat. Bagi pembuat kebijakan, hasil studi ini menunjukkan pentingnya melindungi pasar tradisional sebagai ekosistem sosial-ekonomi, bukan sekadar ruang transaksi. Program pemberdayaan UMKM sebaiknya memperkuat jejaring sosial pedagang, bukan hanya memberikan bantuan modal.

Bagi dunia pendidikan dan riset, penelitian ini memperkaya kajian sosiologi ekonomi dan modal sosial di sektor informal. Sementara itu, bagi pelaku usaha kecil, temuan ini menegaskan bahwa kepercayaan dan solidaritas adalah strategi bertahan yang sama pentingnya dengan manajemen keuangan.

Profil Penulis

Sulsalman Moita, S.Sos., Universitas Halu Oleo 

Megawati Asrul Tawulo, S.Sos., M.Si.  Universitas Halu Oleo

Andi Farhan Shanoubar, S.Sos.  Universitas Halu Oleo 

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Vegetable Trader Social Network (Study in Panyula Village, East Tanete Riattang District, Bone Regency, South Sulawesi Province)
Jurnal: International Journal of Integrative Sciences
Tahun: 2026
Volume & Nomor: Vol. 5, No. 1, hlm. 159–168
DOI:  https://doi.org/10.55927/ijis.v5i1.811.

Posting Komentar

0 Komentar