Intervensi Gizi Berbasis Komunitas Tingkatkan Kualitas Pola Makan Warga Pinggiran Kota Medan

 
Ilustrasti by AI 
 
FORMOSA NEWS - Medan - Program intervensi gizi berbasis komunitas terbukti meningkatkan kualitas pola makan dan status gizi masyarakat di kawasan pinggiran Kota Medan. Temuan ini disampaikan Berlin Sitanggang dari Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Medan dalam riset yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Science and Technology (FJST) Volume 5 Nomor 1 tahun 2026. Penelitian selama 10 minggu ini penting karena menunjukkan bahwa edukasi gizi yang dikombinasikan dengan pemanfaatan pangan lokal dan pendampingan kader mampu menghasilkan perubahan nyata pada perilaku makan dan kesehatan masyarakat.

Penelitian dilakukan pada dua komunitas peri-urban di sekitar Kota Medan, Sumatera Utara, dengan melibatkan 80 ibu rumah tangga. Kelompok ini dipilih karena berperan langsung dalam menentukan pola konsumsi keluarga. Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas bukan hanya meningkatkan pengetahuan gizi, tetapi juga mendorong perubahan kebiasaan makan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Kualitas Pola Makan Masih Jadi Tantangan Kesehatan Publik

Kualitas pola makan masih menjadi persoalan besar kesehatan masyarakat, baik di negara maju maupun berkembang. Konsumsi gula, garam, dan lemak yang tinggi, disertai rendahnya asupan buah dan sayur, meningkatkan risiko obesitas dan penyakit tidak menular. Di Indonesia, masalah ini diperparah oleh keterbatasan literasi gizi dan akses pangan sehat, terutama di wilayah pinggiran kota yang berada di antara dinamika urbanisasi dan keterbatasan sumber daya lokal.

Selama ini, banyak program gizi lebih menekankan rekomendasi umum tanpa mempertimbangkan konteks sosial dan budaya masyarakat. Akibatnya, pesan gizi sering sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian Berlin Sitanggang menegaskan bahwa intervensi gizi yang menempatkan komunitas sebagai pelaku utama jauh lebih relevan dan efektif.

Pendekatan Edukasi, Pangan Lokal, dan Pendampingan

Penelitian ini menggunakan pendekatan gabungan kuantitatif dan kualitatif. Sebanyak 80 responden dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Kelompok intervensi mengikuti program gizi berbasis komunitas selama 10 minggu, sementara kelompok kontrol hanya menerima layanan kesehatan rutin.

Program intervensi mencakup tiga komponen utama. Pertama, edukasi gizi yang membahas prinsip pola makan seimbang dengan bahasa sederhana. Kedua, demonstrasi memasak berbasis pangan lokal untuk menunjukkan cara mengolah bahan makanan yang mudah diperoleh menjadi menu sehat. Ketiga, pendampingan kader kesehatan yang berfungsi sebagai pengingat, motivator, dan penghubung antarwarga.

Perubahan diukur melalui skor kualitas diet, keragaman pangan, serta indikator status gizi seperti indeks massa tubuh dan lingkar lengan atas. Selain itu, wawancara mendalam dilakukan untuk menggali pengalaman dan persepsi peserta selama program berlangsung.

Pola Makan Lebih Beragam dan Seimbang

Hasil penelitian menunjukkan perbedaan mencolok antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Pada kelompok intervensi, skor kualitas diet meningkat rata-rata 16,35 poin, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol yang hanya naik sekitar 2,20 poin. Keragaman pangan juga meningkat signifikan, dari rata-rata 4,1 menjadi 6,8 jenis pangan per hari.

Peningkatan ini mencerminkan perubahan nyata dalam kebiasaan makan. Peserta mulai membiasakan konsumsi sayur, buah, dan sumber protein yang lebih beragam. Salah satu peserta mengungkapkan bahwa kini ia tidak lagi sekadar mengejar rasa kenyang, tetapi mulai memperhatikan variasi dan nilai gizi makanan keluarga.

Perubahan pola makan tersebut beriringan dengan perbaikan status gizi. Indeks massa tubuh peserta di kelompok intervensi menurun secara signifikan, menandakan keseimbangan asupan energi yang lebih baik. Pada saat yang sama, lingkar lengan atas meningkat, menunjukkan perbaikan kondisi gizi secara umum.

Pangan Lokal Jadi Kunci Keberlanjutan

Salah satu kekuatan utama program ini terletak pada pemanfaatan pangan lokal. Bahan makanan yang sebelumnya dianggap biasa atau kurang bernilai kini dipahami sebagai sumber gizi penting. Dengan pendekatan ini, peserta tidak bergantung pada bahan pangan mahal atau sulit dijangkau.

Berlin Sitanggang menjelaskan bahwa ketika masyarakat menyadari nilai gizi pangan lokal, mereka lebih percaya diri dan konsisten menerapkan pola makan sehat. Pemanfaatan pangan lokal juga memperkuat ketahanan pangan keluarga dan mengurangi ketergantungan pada produk olahan tinggi gula, garam, dan lemak.

Pendampingan kader turut berperan menjaga motivasi peserta. Meski tantangan seperti keterbatasan waktu dan kebiasaan lama keluarga masih muncul, dukungan sosial dalam komunitas membantu peserta bertahan dan saling mengingatkan.

Dampak bagi Program Kesehatan Masyarakat

Temuan ini memberikan implikasi penting bagi dunia kesehatan masyarakat dan kebijakan publik. Pertama, intervensi gizi berbasis komunitas terbukti efektif sebagai strategi promotif dan preventif untuk menekan risiko penyakit tidak menular. Kedua, integrasi edukasi gizi dengan praktik langsung dan pendampingan sosial meningkatkan peluang perubahan perilaku jangka panjang.

Bagi pemerintah daerah dan pelaksana program kesehatan, model ini dapat dijadikan rujukan dalam merancang program gizi yang lebih kontekstual dan berkelanjutan. Pendekatan ini juga relevan untuk diterapkan di wilayah lain dengan karakteristik sosial ekonomi serupa.

Secara akademik, penelitian ini memperkaya kajian intervensi gizi dengan menekankan pentingnya kombinasi evaluasi kuantitatif dan pemahaman pengalaman peserta. Pendekatan ini membantu menjelaskan bukan hanya “apa yang berubah”, tetapi juga “mengapa dan bagaimana perubahan itu terjadi”.

Profil Penulis

Berlin Sitanggang. adalah dosen dan peneliti di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Medan. Bidang keahliannya meliputi gizi masyarakat, promosi kesehatan, dan intervensi gizi berbasis komunitas. Ia aktif meneliti strategi peningkatan kualitas pola makan dan pencegahan penyakit tidak menular di tingkat komunitas.

Sumber Penelitian

Sitanggang, B. (2026). Community-Based Nutrition Intervention Strategies for Improving Dietary Quality and Public Health Outcomes. Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5 No. 1, hlm. 257–270.

DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i1.396

Posting Komentar

0 Komentar