Integrasi Prinsip Kesehatan, Keselamatan, dan Lingkungan (HSE) dalam Arsitektur Kantor Kecil: Pembelajaran dari Ruang Kerja Wirausaha, Kecelakaan, dan Adaptasi Ruang

Ilustrasi by AI 
 
FORMOSA NEWS -  Jakarta - Integrasi Prinsip Kesehatan, Keselamatan, dan Lingkungan (HSE) dalam Arsitektur Kantor Kecil: Pembelajaran dari Ruang Kerja Wirausaha, Kecelakaan, dan Adaptasi Ruang. Penelitian ini dilakukan oleh Martinus Bambang Susetyarto dari Universitas Trisakti bersama Ashleika Adelea dari Technische Universität Darmstadt, Jerman, dan dipublikasikan dalam Formosa Journal of Science and Technology (FJST) Vol. 5 No. 1 Tahun 2025.

Penelitian yang dilakukan oleh Martinus Bambang Susetyarto dan Ashleika Adelea mengulas bagaimana penerapan prinsip Health, Safety, and Environment (HSE) dalam ruang kantor kecil memiliki peran krusial dalam melindungi keselamatan pekerja sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis, khususnya pada perusahaan rintisan dan usaha berskala kecil.

Romantisme Kantor Kecil dan Risiko yang Terabaikan

Budaya kewirausahaan global kerap memuja kisah perusahaan besar seperti Apple, Hewlett-Packard, Microsoft, hingga Amazon yang lahir dari ruang kerja sederhana. Narasi ini membentuk anggapan bahwa keterbatasan ruang dan fasilitas adalah bagian wajar dari perjuangan membangun bisnis.

Namun, dari sudut pandang arsitektur dan keselamatan kerja, ruang-ruang tersebut menyimpan risiko laten. Garasi, rumah tinggal, atau gudang tidak dirancang untuk aktivitas kantor jangka panjang, beban listrik tinggi, penyimpanan bahan berbahaya, maupun kepadatan pekerja. Ventilasi buruk, jalur evakuasi tidak jelas, dan sistem proteksi kebakaran sering kali diabaikan.

Belajar dari Tragedi Kebakaran Kantor

Salah satu studi kasus utama dalam penelitian ini adalah kebakaran kantor PT Terra Drone Indonesia di Kemayoran, Jakarta, yang menewaskan 22 karyawan. Investigasi menunjukkan tidak adanya jalur evakuasi darurat, detektor asap, maupun sistem proteksi kebakaran. Kebakaran dipicu ledakan baterai lithium yang disimpan tidak sesuai standar di dalam ruang kerja.

Dari sudut pandang arsitektur, tragedi ini memperlihatkan kegagalan mendasar: ruang kerja digunakan sekaligus sebagai tempat penyimpanan bahan berbahaya, sistem listrik mengalami kelebihan beban, dan tidak ada pembagian ruang tahan api. “Penampilan kantor yang modern tidak menjamin keselamatan. HSE harus diverifikasi melalui kinerja arsitektural, bukan estetika,” tulis Susetyarto dan Adelea.

Metode Penelitian: Menggabungkan Arsitektur dan Bisnis

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan tiga metode utama: telaah dokumen dan literatur, analisis studi kasus keberhasilan dan kegagalan ruang kerja, serta interpretasi arsitektural terhadap tata ruang, material, dan sistem bangunan.

Kasus yang dianalisis mencakup kantor startup di garasi, asrama mahasiswa, gudang logistik, rumah tinggal yang dialihfungsikan, hingga ruang kerja bersama (co-working space). Pendekatan ini memungkinkan penulis menarik pelajaran lintas konteks, baik dari sisi desain ruang maupun strategi bisnis.

Temuan Utama: Pola Risiko yang Berulang

Hasil penelitian menunjukkan pola yang konsisten. Pada tahap awal, banyak bisnis menerima risiko ruang kerja yang tinggi demi efisiensi biaya. Ketika bisnis tumbuh atau kecelakaan terjadi, barulah dilakukan penyesuaian arsitektural dan penerapan HSE. Pendekatan reaktif ini terbukti mahal, baik secara finansial maupun reputasi.

Beberapa temuan penting lainnya meliputi:

  • Kepadatan ruang tinggi tanpa perencanaan jalur sirkulasi meningkatkan risiko kecelakaan.
  • Alih fungsi bangunan tanpa audit keselamatan memperbesar potensi bencana.
  • Ketiadaan prosedur darurat membuat pekerja tidak siap menghadapi kebakaran atau gempa.
  • Ketimpangan kenyamanan ruang, seperti akses cahaya dan ventilasi, berdampak pada stres dan produktivitas karyawan.

Dampak bagi Dunia Usaha dan Kebijakan Publik

Penelitian ini menegaskan bahwa HSE bukan penghambat inovasi. Justru, keselamatan dan kenyamanan kerja menjadi prasyarat inovasi yang berkelanjutan. Dari perspektif bisnis, kecelakaan kerja berujung pada gangguan operasional, tuntutan hukum, dan kerusakan reputasi merek.

Bagi pembuat kebijakan, studi ini menunjukkan perlunya pedoman HSE yang lebih sederhana dan aplikatif bagi usaha kecil dan menengah. Saat ini, standar ruang kerja di Indonesia masih terbatas dan tersebar di regulasi sektoral. Audit arsitektural berkala untuk kantor kecil dinilai penting guna mencegah tragedi serupa di masa depan.

HSE sebagai Investasi Jangka Panjang

Susetyarto dan Adelea menekankan bahwa investasi pada HSE tidak harus mahal atau berlebihan. Kuncinya terletak pada pemahaman proses kerja, budaya organisasi, dan perencanaan ruang yang tepat guna. “HSE adalah fondasi arsitektural bagi inovasi yang berkelanjutan,” tulis mereka.

Dengan mengintegrasikan aspek fisik, psikologis, dan fungsional dalam desain kantor kecil, pengusaha dapat melindungi aset terpentingnya manusia sekaligus menjaga kelangsungan bisnis.

Profil Penulis

Martinus Bambang Susetyarto adalah peneliti di Centre for Nusantara Architectural Studies, Universitas Trisakti, dengan keahlian arsitektur, keselamatan bangunan, dan desain ruang kerja.
Ashleika Adelea. merupakan peneliti di Centre for Educational Development, Technische Universität Darmstadt, Jerman, dengan fokus pada manajemen fasilitas dan analisis proses kerja.

Sumber Penelitian

Susetyarto, M. B., & Adelea, A. (2025). Integrating Health, Safety, and Environment (HSE) Principles in Small Office Architecture.

Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5 No. 1, 371–382.
DOI:
https://doi.org/10.55927/fjst.v5i1.390
URL Resmi:
https://traformosapublisher.org/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar