Penelitian ini penting karena Kalimantan Timur kini memegang posisi strategis sebagai daerah penyangga IKN. Perubahan demografi, mobilitas penduduk, hingga tuntutan sumber daya manusia unggul membuat sistem pendidikan harus lebih adaptif, merata, dan relevan dengan kebutuhan masa depan.
Pendidikan di Tengah Tekanan Perubahan
Secara geografis, Kalimantan Timur memiliki karakter wilayah yang luas dan beragam: perkotaan, pedalaman, hingga pesisir. Kondisi ini menciptakan kesenjangan layanan pendidikan. Sekolah di kota relatif memiliki fasilitas lebih baik dibandingkan sekolah di wilayah terpencil dan pesisir.
Di sisi lain, pembangunan IKN meningkatkan kebutuhan tenaga kerja yang kompeten, kritis, kreatif, dan melek digital. Namun, kualitas dan pemerataan pendidikan di daerah ini belum sepenuhnya siap menjawab tantangan tersebut.
Alya Shofiyyah dan tim menelaah berbagai isu pendidikan kritis berdasarkan materi pelatihan Penguatan Kapasitas Guru yang diselenggarakan oleh Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Kalimantan Timur. Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui kajian dokumen dan pemetaan masalah utama pendidikan daerah.
Lima Isu Pendidikan Kritis di Kalimantan Timur
Hasil penelitian mengidentifikasi lima persoalan utama yang saling terkait dan berdampak jangka panjang:
- Kesenjangan akses dan pemerataan pendidikan: Wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) masih menghadapi keterbatasan infrastruktur, jarak tempuh yang jauh, dan transportasi minim. Dampaknya terlihat pada angka partisipasi sekolah dan capaian belajar yang berbeda antara kota dan daerah terpencil.
- Kualitas dan distribusi guru yang belum merata: Sekolah di daerah terpencil kekurangan guru, bahkan banyak guru mengajar di luar bidang keahliannya. Perencanaan kebutuhan guru dinilai belum optimal, ditambah minimnya insentif dan fasilitas pendukung.
- Rendahnya literasi dan numerasi siswa: Kemampuan membaca dan berhitung siswa masih di bawah target. Pembelajaran cenderung berorientasi hafalan dan belum sepenuhnya melatih berpikir kritis serta pemecahan masalah.
- Tantangan implementasi Kurikulum Merdeka: Pemahaman guru terhadap konsep pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen formatif masih beragam. Pendampingan belum merata, sehingga kualitas pelaksanaan kurikulum berbeda antar sekolah.
- Keterbatasan transformasi digital pendidikan: Akses internet belum merata, dan literasi digital guru serta siswa masih terbatas. Teknologi lebih sering digunakan untuk administrasi, belum maksimal sebagai alat pembelajaran inovatif.
Menurut Alya Shofiyyah dari Universitas Mulawarman, persoalan tersebut tidak berdiri sendiri. “Isu pendidikan di Kalimantan Timur bersifat sistemik dan saling berkaitan. Tanpa analisis yang tepat di tingkat sekolah, solusi yang diambil berisiko tidak menyentuh akar masalah,” tulisnya dalam artikel tersebut.
Guru sebagai Aktor Kunci Perubahan
Penelitian ini menekankan bahwa guru berada di posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan siswa dan realitas pembelajaran sehari-hari. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator, inovator, dan agen perubahan.
Namun, tidak semua guru memiliki kemampuan analitis untuk mengidentifikasi masalah secara sistematis. Keterbatasan dalam membaca data asesmen, memahami kebijakan pendidikan, dan merancang solusi kontekstual menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, penguatan kapasitas guru dinilai sebagai langkah strategis. Guru yang mampu menganalisis isu pendidikan akan lebih siap:
- Mendesain pembelajaran berbasis kebutuhan siswa
- Menggunakan data asesmen untuk perbaikan berkelanjutan
- Mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi
- Memberikan masukan berbasis data bagi kebijakan sekolah dan daerah
Penelitian ini juga menekankan bahwa fleksibilitas dalam Kurikulum Merdeka hanya akan efektif jika guru memiliki pemahaman konteks pendidikan dan kemampuan reflektif yang kuat.
Dampak bagi Kesiapan SDM Penyangga IKN
Jika kesenjangan pendidikan tidak segera diatasi, Kalimantan Timur berisiko menghadapi ketimpangan kualitas sumber daya manusia di tengah pembangunan IKN. Siswa dari daerah terpencil berpotensi tertinggal dalam kompetisi pendidikan dan dunia kerja.
Sebaliknya, bila kapasitas guru diperkuat secara berkelanjutan melalui pelatihan dan pendampingan, pendidikan dapat menjadi fondasi utama pembangunan daerah.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, dan dunia industri juga dinilai penting untuk memastikan kurikulum selaras dengan kebutuhan masa depan, terutama dalam penguatan keterampilan digital dan vokasional.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan di Kalimantan Timur tidak cukup hanya meningkatkan angka partisipasi sekolah. Yang lebih mendesak adalah memastikan kualitas dan pemerataan layanan pendidikan agar setiap siswa, baik di kota maupun di pesisir dan pedalaman, memiliki peluang yang sama untuk berkembang.
0 Komentar