Gaya Hidup Sedentari Mahasiswa Tingkatkan Risiko Penyakit Tidak Menular Sejak Dini

 
Ilustrasi by AI 
 
FORMOSA NEWS - Malang - Gaya hidup sedentari di kalangan pelajar dan mahasiswa terbukti berkaitan langsung dengan meningkatnya risiko penyakit tidak menular sejak usia muda. Temuan ini disampaikan oleh Moch. Yunus, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang, bersama dua koleganya, Tisnalia Merdya Andyastanti dan Erianto Fanani, dalam artikel ilmiah yang terbit pada 2026 di Formosa Journal of Science and Technology. Kajian ini penting karena menunjukkan bahwa kebiasaan duduk terlalu lama dan minim aktivitas fisik bukan sekadar isu gaya hidup, melainkan ancaman kesehatan jangka panjang yang perlu ditangani sejak bangku sekolah.

Penelitian tersebut menyoroti fenomena meningkatnya durasi duduk, penggunaan gawai berlebihan, serta rendahnya aktivitas fisik di kalangan siswa dan mahasiswa. Kondisi ini kian menguat seiring perubahan pola hidup modern dan digitalisasi pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa perilaku sedentari berkontribusi pada penurunan kebugaran jasmani dan menjadi pintu masuk munculnya risiko awal penyakit tidak menular, seperti obesitas, gangguan metabolik, hingga penyakit kardiovaskular.

Masalah global yang makin dekat

Selama ini, penyakit tidak menular—seperti diabetes dan penyakit jantung—kerap dipersepsikan sebagai masalah orang dewasa. Namun, bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa faktor risikonya sudah terbentuk sejak masa kanak-kanak dan remaja. Studi yang dirangkum oleh tim Universitas Negeri Malang memperlihatkan bahwa rendahnya aktivitas fisik dan tingginya waktu duduk menjadi pola umum di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Penurunan kebugaran jasmani pada usia sekolah bukan hanya berdampak pada performa fisik, tetapi juga berkaitan dengan peningkatan indeks massa tubuh, penumpukan lemak, dan gangguan metabolik. Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit tidak menular saat dewasa.

Cara penelitian dilakukan

Untuk mendapatkan gambaran yang utuh, para peneliti menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengikuti pedoman internasional PRISMA. Mereka menelaah artikel ilmiah lima tahun terakhir (2020–2025) dari berbagai basis data bereputasi, seperti PubMed, Scopus, Web of Science, ScienceDirect, dan Google Scholar.

Dari ratusan publikasi awal, hanya 10 studi yang memenuhi kriteria ketat dan dianalisis secara mendalam. Studi-studi tersebut mencakup penelitian observasional dan eksperimental yang meneliti hubungan antara perilaku sedentari, tingkat kebugaran jasmani, dan risiko penyakit tidak menular pada anak, remaja, dan mahasiswa.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti menyusun gambaran menyeluruh tentang pola hubungan ketiga aspek tersebut tanpa melakukan survei lapangan baru, namun tetap berbasis bukti ilmiah yang kuat.

Temuan utama penelitian

Hasil sintesis literatur menunjukkan pola yang konsisten:

·    Perilaku sedentari berkaitan negatif dengan kebugaran jasmani. Semakin lama waktu duduk dan paparan layar, semakin rendah kebugaran kardiorespirasi dan kekuatan otot siswa.

·   Risiko penyakit tidak menular meningkat sejak usia sekolah. Perilaku sedentari berhubungan dengan obesitas, dislipidemia, dan gangguan metabolik lain yang menjadi cikal bakal penyakit jantung dan diabetes.

·   Kebugaran jasmani berperan sebagai faktor pelindung. Siswa dan mahasiswa dengan tingkat kebugaran yang baik cenderung memiliki risiko kesehatan lebih rendah, meskipun terpapar perilaku sedentari dalam durasi tertentu.

·  Lingkungan sekolah berpengaruh besar. Kebijakan sekolah, beban akademik, serta ketersediaan fasilitas aktivitas fisik turut menentukan tingkat aktivitas dan kebugaran peserta didik.

Menurut Moch. Yunus, temuan ini menegaskan bahwa aktivitas fisik bukan sekadar pelengkap, melainkan komponen kunci pencegahan penyakit. Kebugaran jasmani berfungsi sebagai “tameng” yang menahan dampak buruk gaya hidup sedentari.

Dampak bagi pendidikan dan kesehatan masyarakat

Implikasi penelitian ini luas. Bagi dunia pendidikan, hasil kajian memperkuat argumen bahwa sekolah dan kampus perlu berperan aktif mendorong gaya hidup aktif. Program olahraga terstruktur, jeda aktivitas fisik di sela pembelajaran, serta pembatasan waktu layar menjadi strategi yang relevan.

Dari sisi kesehatan masyarakat, penelitian ini memberikan dasar ilmiah bahwa pencegahan penyakit tidak menular sebaiknya dimulai sejak dini. Upaya promotif dan preventif di lingkungan sekolah dinilai lebih efektif dan berkelanjutan dibandingkan intervensi saat penyakit sudah muncul.

Para peneliti juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor—pendidikan, kesehatan, dan kebijakan publik—untuk mengurangi dampak gaya hidup sedentari. Tanpa intervensi nyata, pola tidak aktif yang terbentuk sejak remaja berpotensi terbawa hingga dewasa.

Arah riset selanjutnya

Meski temuan cukup konsisten, penulis mencatat adanya variasi metode pengukuran kebugaran dan perilaku sedentari di berbagai studi. Ke depan, penelitian dengan alat ukur yang lebih objektif dan berbasis teknologi dinilai penting. Studi longitudinal dan intervensi juga diperlukan untuk memastikan hubungan sebab-akibat secara lebih kuat.

Profil Penulis

Moch. Yunus. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang.
Bidang keahlian: kesehatan preventif, kebugaran jasmani, dan kesehatan masyarakat.

Tisnalia Merdya Andyastanti. Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang. Bidang keahlian: kesehatan remaja dan promosi kesehatan.

Erianto Fanani.Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang.
Bidang keahlian: epidemiologi dan kesehatan komunitas.

Sumber Penelitian

Yunus, M., Andyastanti, T.M., & Fanani, E. (2026). From Sedentary Behavior to Early Non-Communicable Disease Risk: The Protective Role of Physical Fitness among Students. Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5 No. 1, 145–158.

DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i1.379

URL: https://traformosapublisher.org/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar