Memperkuat Keterampilan Menulis Reflektif, Kreatif, dan Kritis Melalui Program Literasi Sekolah Berbasis Komunitas dan Lintas Tingkat

Gambar Ilustrasi AI


Program Literasi Berbasis Komunitas di Sumatra Utara Tingkatkan Kemampuan Menulis Reflektif hingga Kritis

Kemampuan menulis reflektif, kreatif, dan kritis dapat berkembang secara bertahap melalui program literasi yang menghubungkan komunitas dan sekolah lintas jenjang pendidikan. Temuan ini disampaikan oleh Eva Riyanty Lubis dan Icol Dianto dari Syekh Ali Hasan Ahmad Addary State Islamic University dalam penelitian lapangan yang dilaksanakan pada Oktober 2025 di Sumatra Utara. Hasil studi ini penting karena menawarkan model penguatan literasi yang lebih kontekstual bagi negara berkembang, sekaligus menunjukkan bahwa keterampilan berpikir tingkat tinggi tidak selalu harus dibangun melalui pendidikan formal saja. 

Penelitian tersebut mengamati praktik literasi di tiga ruang belajar berbeda: komunitas The Beginners Book Club Padangsidimpuan, SMP Negeri 1 Marancar, dan MAN 2 Padangsidimpuan. Selama ini, banyak riset menempatkan literasi menulis dalam kerangka sekolah formal dan satu tingkat pendidikan saja. Studi ini justru menutup celah tersebut dengan melihat bagaimana keterampilan menulis berkembang melalui interaksi sosial, pengalaman hidup, dan pendampingan berkelanjutan. 

Krisis Literasi Menulis di Era Digital

Secara global, kemampuan menulis kini dianggap sebagai kompetensi abad ke-21 yang menentukan partisipasi individu dalam masyarakat berbasis pengetahuan. Namun praktik pembelajaran menulis masih sering terjebak pada orientasi teknis dan hasil terukur, bukan pada proses berpikir dan refleksi. Di Indonesia, literasi menulis juga kerap dipahami sebatas keterampilan akademik formal yang terpisah dari pengalaman sosial siswa.

Budaya digital yang serba instan turut memperkuat kecenderungan ini dengan mendorong ekspresi singkat dan reaktif. Padahal, menulis tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bahasa, tetapi juga berfungsi membangun kesadaran diri, empati sosial, dan penalaran kritis—tiga aspek penting bagi partisipasi demokratis. 

Metodologi: Observasi Lapangan di Tiga Lingkungan Belajar

Lubis dan Dianto menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi lapangan untuk memahami proses penguatan literasi secara mendalam. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, analisis dokumen tulisan peserta, serta refleksi tertulis selama delapan sesi kegiatan literasi. 

Peserta penelitian mencakup anggota komunitas dewasa dari berbagai profesi, siswa kelas VIII SMP, serta siswa kelas XI dan XII MAN. Pendekatan ini memungkinkan perbandingan lintas usia, pengalaman literasi, dan latar sosial. 

Temuan Utama: Literasi Berkembang Secara Bertahap

Penelitian menemukan pola perkembangan bertingkat dalam kemampuan menulis peserta:

  1. Menulis reflektif menjadi titik awal karena membantu peserta mengekspresikan pengalaman pribadi
  2. Menulis kreatif berfungsi sebagai jembatan untuk mengartikulasikan nilai dan empati melalui narasi.
  3. Menulis kritis muncul sebagai tahap lanjut yang ditandai kejelasan argumentasi dan meningkatnya kepercayaan intelektual. 

Partisipasi peserta juga berbeda-beda. Anggota komunitas buku menunjukkan keterlibatan aktif sejak awal dan mampu menulis pengalaman hidup dengan lancar. Sebaliknya, siswa SMP cenderung pasif pada tahap awal dan membutuhkan bimbingan intensif sebelum akhirnya berani menulis. Sementara itu, siswa MAN memperlihatkan partisipasi tinggi dan stabil sepanjang program.

Perubahan signifikan terlihat ketika topik menulis dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari peserta. Pendekatan personal dan bahasa sederhana membantu siswa mulai menulis, bahkan jika struktur tulisan masih terbatas. 

Dari Cerita Sederhana ke Argumentasi

Dalam latihan menulis kreatif, siswa SMP banyak mengangkat tema keluarga, persahabatan, dan lingkungan sekitar dengan alur linear dan konflik sederhana. Meski demikian, tulisan tersebut menunjukkan keberanian awal dalam membangun karakter dan latar cerita. 

Anggota komunitas dan siswa MAN menghasilkan cerita dengan struktur lebih koheren dan pesan moral seperti empati, tanggung jawab, serta kepedulian sosial. Hal ini menegaskan bahwa kualitas tulisan dipengaruhi oleh pengalaman membaca, kemampuan bahasa, dan latar sosial. 

Pada tahap esai, siswa MAN sudah mampu menyusun argumen mengenai isu pendidikan, lingkungan, dan media sosial. Sementara itu, anggota komunitas menunjukkan kemampuan argumentasi lebih matang dengan menghubungkan isu lokal ke pengalaman profesional dan sosial mereka.

Meski siswa SMP belum sepenuhnya kritis, mereka mulai berani menyampaikan pendapat dan menulis lebih panjang. Peneliti menilai keberanian intelektual ini tumbuh melalui praktik berulang tanpa tekanan evaluasi formal. 

Dampak bagi Pendidikan dan Kebijakan

Studi ini menegaskan bahwa penguatan literasi tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan ekosistem yang mendukung—mulai dari komunitas, sekolah, hingga fasilitator—agar peserta memiliki ruang aman untuk berekspresi. 

Lubis dan Dianto menekankan pentingnya kebijakan literasi yang tidak hanya mengejar capaian akademik terukur, tetapi juga menumbuhkan keberanian berpendapat, empati sosial, dan tanggung jawab etis dalam komunikasi. Kemampuan menulis kritis bahkan dinilai krusial untuk membantu generasi muda menyaring informasi dan menghindari praktik komunikasi manipulatif di ruang digital. 

Model literasi berbasis komunitas yang terintegrasi dengan sekolah juga dinilai relevan bagi wilayah Global South, termasuk Indonesia, yang masih menghadapi kesenjangan akses pendidikan. Pendekatan ini membuktikan bahwa relasi sosial dan praktik kontekstual dapat menjadi penggerak utama peningkatan literasi. 

Profil Penulis

Eva Riyanty Lubis adalah akademisi di Syekh Ali Hasan Ahmad Addary State Islamic University yang berfokus pada studi literasi, pendidikan bahasa, dan pengembangan keterampilan berpikir dalam konteks sosial.

Icol Dianto merupakan peneliti di universitas yang sama dengan minat pada praktik pendidikan kontekstual dan penguatan literasi di masyarakat berkembang. 

Sumber Penelitian

Lubis, Eva Riyanty & Dianto, Icol. “Strengthening Reflective, Creative, and Critical Writing Skills Through Community-Based and Cross-Level School Literacy Programs.” International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR), Vol. 4, No. 1, 2026. DOI: https://doi.org/10.59890/ijgsr.v4i1.140

Posting Komentar

0 Komentar