Filsafat Gerakan Tari Panen Jorong Jopang, Kecamatan Mungka, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat

Ilustrasi by AI

Padang Tari Panen Jorong Jopang Ungkap Filosofi Syukur dan Identitas Budaya Minangkabau. Pengabdian Masyarakat yang dilakukan oleh Halomoan, Insan Cendikia Persito, Adillah Wazna, Aulia Raudoatul Ais, Rama Dhani, dan Gilang Putra Utama dari Universitas Negeri Padang yang dipublikasikan pada januari 2026 di Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB).

Pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Halomoan, Insan Cendikia Persito, Adillah Wazna, Aulia Raudoatul Ais, Rama Dhani, dan Gilang Putra Utama menyoroti makna filosofis setiap gerakan tari sekaligus memperkuat pelestarian budaya melalui pendidikan seni bagi generasi muda. Hasilnya menunjukkan meningkatnya pemahaman peserta terhadap filosofi gerak Tari Panen serta tumbuhnya minat kaum muda untuk menjaga tradisi tersebut—sebuah langkah penting bagi keberlanjutan identitas budaya lokal.

Hasil Utama

Program menunjukkan beberapa capaian penting:

  • Peningkatan pemahaman filosofi gerak di kalangan peserta. Mereka mampu menjelaskan makna simbolik tiap gerakan.
  • Meningkatnya minat generasi muda untuk mempelajari dan menampilkan Tari Panen.
  • Terbangunnya dialog antar-generasi, mempertemukan pemuda dengan tetua adat.
  • Penguatan identitas budaya lokal, terlihat dari keterlibatan aktif masyarakat dalam latihan dan diskusi.

Secara visual, peserta mampu menampilkan gerakan lebih selaras dan memahami hubungan antara gerak, musik, serta makna spiritual yang dikandungnya.

Makna Filosofis Gerakan

Setiap gerakan Tari Panen mencerminkan kehidupan agraris. Gerak memanen melambangkan rasa syukur, sementara pola langkah terukur menunjukkan kehati-hatian dan keseimbangan hidup. Gerakan berkelompok menggambarkan gotong royong, nilai penting dalam masyarakat Minangkabau.

Beberapa ragam gerak meniru aktivitas menyemai, memetik, hingga membawa padi. Ini menjadi simbol keteraturan, kesabaran, dan tanggung jawab sosial. Unsur spiritual hadir dalam ekspresi tubuh yang selaras dengan irama, mencerminkan doa kolektif kepada Tuhan atas hasil panen.

Implikasi Pendidikan dan Sosial

Kegiatan ini menunjukkan bahwa seni tari efektif menjadi media pendidikan budaya. Integrasi Tari Panen dalam pembelajaran seni, termasuk melalui Kurikulum Merdeka, memberi ruang belajar kontekstual bagi siswa. Mereka tidak hanya meniru gerak, tetapi memahami sejarah, nilai adat, dan makna spiritual.

Dari sisi sosial, pelibatan tokoh adat dan pemuda memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya warisan budaya. Tari Panen kini dipandang bukan sekadar ritual lama, melainkan sumber nilai etis dan estetis yang relevan di era modern.

Profil Penulis

  • ·         Halomoan, S.Pd., M.Sn. : Universitas Negeri Padang
  • ·         Insan Cendikia Persito, M.Pd. : Universitas Negeri Padang
  • ·         Adillah Wazna, M.Sn. : Universitas Negeri Padang
  • ·         Aulia Raudoatul Ais, S.Pd., M.Pd. :Universitas  Negeri Padang
  • ·         Rama Dhani, S.Pd : Universitas  Negeri Padang
  • ·         Gilang Putra Utama, S.Pd.  : Universitas  Negeri Padang

Sumber

Halomoan, Insan Cendikia Persito, Adillah Wazna, Aulia Raudoatul Ais, Rama Dhani, dan Gilang Putra Utama. “Filosofi Gerakan Tari Panen Khas Jorong Jopang, Kecamatan Mungka, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat.”

Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5 No. 1, 2026, hlm. 89–102.

DOI : https://doi.org/10.55927/jpmb.v5i1.597

 URL:  https://nblformosapublisher.org/index.php/jpmb

 


Posting Komentar

0 Komentar