Ekologis Bukan Sekadar Slogan: Warga Lokal Kunci Tanggung Jawab Lingkungan Berkelanjutan

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Jawa Barat - Kerusakan lingkungan di tingkat lokal tidak selalu terjadi karena kurangnya teknologi, tetapi sering kali karena lemahnya rasa tanggung jawab warga terhadap lingkungan sekitarnya. Temuan ini ditegaskan oleh Sri Rahayu Pudjiastuti, dosen STKIP Arrahmaniyah Depok, dalam riset yang dipublikasikan pada 2026 di Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA). Penelitian ini menyoroti peran kewargaan ekologis (ecological citizenship) sebagai fondasi penting dalam membangun tanggung jawab lingkungan yang berkelanjutan di masyarakat lokal.

Melalui studi lapangan di sebuah komunitas pedesaan di Jawa Barat, Pudjiastuti menunjukkan bahwa warga yang memandang kepedulian lingkungan sebagai bagian dari identitas kewargaan mereka cenderung lebih konsisten dalam perilaku ramah lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah rumah tangga hingga partisipasi aktif dalam kegiatan kolektif.

Dari Masalah Teknis ke Tanggung Jawab Warga

Selama ini, banyak kebijakan lingkungan menitikberatkan pada solusi teknis—seperti infrastruktur pengelolaan sampah atau aturan kebersihan. Namun pendekatan tersebut sering tidak bertahan lama. Program berjalan saat diawasi, lalu melemah ketika perhatian berkurang.

Penelitian ini menempatkan masalah lingkungan dalam perspektif yang berbeda: sebagai isu kewargaan. Dalam kerangka kewargaan ekologis, kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan bagian dari hak dan kewajiban warga dalam kehidupan sehari-hari.

“Warga tidak lagi menunggu instruksi. Mereka merasa menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab sebagai warga,” ungkap salah satu tokoh masyarakat yang diwawancarai dalam penelitian ini.

Cara Penelitian Dilakukan

Untuk menangkap hubungan antara nilai kewargaan dan perilaku lingkungan, Pudjiastuti menggunakan pendekatan campuran (mixed methods).

  • Survei kuantitatif dilakukan terhadap 80 warga dewasa, menggunakan kuesioner terstruktur untuk mengukur tingkat kewargaan ekologis dan tanggung jawab lingkungan.
  • Wawancara mendalam dilakukan dengan delapan informan kunci, termasuk perangkat desa, tokoh masyarakat, aktivis lingkungan, dan warga biasa dengan tingkat partisipasi berbeda.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti tidak hanya melihat angka, tetapi juga memahami makna sosial di balik perilaku warga.

Temuan Utama Penelitian

Hasil analisis statistik menunjukkan hubungan yang kuat dan signifikan antara kewargaan ekologis dan tanggung jawab lingkungan.

Beberapa temuan kunci antara lain:

  • Kewargaan ekologis menjadi prediktor kuat perilaku ramah lingkungan warga, dengan kontribusi pengaruh yang tinggi.
  • Setiap peningkatan kesadaran kewargaan ekologis diikuti peningkatan nyata dalam perilaku menjaga lingkungan.
  • Warga dengan tingkat kewargaan ekologis tinggi lebih konsisten dalam:

  1. memilah sampah rumah tangga,
  2. mengurangi penggunaan plastik,
  3. berpartisipasi dalam bank sampah dan kerja bakti,
  4. mematuhi norma kebersihan lokal.

Secara sederhana, nilai kewargaan mengubah kepedulian menjadi kebiasaan.

Sampah Rumah Tangga Jadi Cermin Kesadaran

Pengelolaan sampah rumah tangga menjadi indikator paling nyata dari tanggung jawab lingkungan warga. Penelitian ini menemukan bahwa praktik seperti pemilahan sampah dan pengurangan plastik telah menjadi rutinitas, bukan sekadar program sesaat.

Menariknya, perubahan ini tidak digerakkan oleh sanksi keras. Justru norma sosial yang berkembang secara alami memainkan peran besar. Warga saling mengingatkan, bukan karena aturan tertulis, tetapi karena rasa malu sosial dan tanggung jawab bersama.

“Kalau sekarang tidak pilah sampah, rasanya tidak enak sendiri,” ujar salah satu warga dalam wawancara.

Peran Partisipasi Kolektif dan Pemimpin Lokal

Selain perilaku individu, penelitian ini menyoroti pentingnya partisipasi kolektif. Kegiatan seperti kerja bakti, program lingkungan rutin, dan musyawarah warga berfungsi sebagai ruang belajar sosial tentang tanggung jawab lingkungan.

Dalam konteks ini, kepemimpinan lokal menjadi faktor kunci. Keteladanan tokoh masyarakat terbukti lebih efektif dibandingkan ancaman sanksi. Aturan yang dirumuskan secara partisipatif juga lebih dipatuhi karena dianggap sah dan milik bersama.

“Kalau pemimpinnya peduli, warganya ikut peduli,” kata seorang informan.

Dampak bagi Kebijakan dan Masyarakat

Temuan ini membawa implikasi penting bagi kebijakan publik dan pembangunan berkelanjutan:

  • Program lingkungan akan lebih efektif jika memperkuat nilai kewargaan, bukan hanya infrastruktur.
  • Pendidikan lingkungan perlu diarahkan pada pembentukan identitas warga yang bertanggung jawab secara ekologis.
  • Pemerintah daerah dapat menjadikan komunitas lokal sebagai aktor utama, bukan sekadar objek kebijakan.

Bagi dunia pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, penelitian ini menegaskan bahwa perubahan perilaku lingkungan bersifat sosial dan kultural, bukan hanya teknis.

Profil Penulis

Sri Rahayu Pudjiastuti, M.Pd.
Dosen STKIP Arrahmaniyah Depok, Indonesia
Bidang keahlian: Pendidikan kewarganegaraan, kewargaan ekologis, dan tata kelola lingkungan berbasis komunitas.
Ia aktif meneliti hubungan antara pendidikan, nilai kewargaan, dan keberlanjutan lingkungan di konteks lokal Indonesia.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Strengthening Environmental Responsibility through Ecological Citizenship at the Local Community Level
Jurnal: Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA)
Volume & Tahun: Vol. 5 No. 1, 2026

Posting Komentar

0 Komentar