Desain Pertanyaan BAP Berisiko Distorsi, Studi UNG Perkenalkan Indeks IRD

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Gorontalo - Sebuah riset terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo mengungkap bahwa desain pertanyaan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) berpotensi memengaruhi kualitas dan akurasi keterangan hukum. Studi ini ditulis oleh Jefriyanto Saud pada 2026 dan dipublikasikan di Formosa Journal of Sustainable Research. Temuan ini penting karena BAP merupakan dokumen kunci yang menjembatani tahap penyidikan dengan proses pembuktian di pengadilan.

Dalam artikel berjudul “Question Design and Risk of Distortion of Information in the Examination Report (BAP): A Forensic Linguistic–Psycholinguistic Analysis Based on the Distortion Risk Index”, Saud menunjukkan bahwa BAP bukan sekadar catatan netral atas pernyataan saksi atau tersangka. Format tanya jawab, orientasi pembuktian, dan struktur administratif di dalamnya dapat membentuk ulang representasi keterangan yang diberikan.

BAP dan Risiko Distorsi Informasi

BAP memiliki posisi strategis karena menjadi rujukan utama bagi jaksa, hakim, dan penasihat hukum yang tidak hadir saat pemeriksaan berlangsung. Ketika dokumen ini dibaca ulang, teksnya sering diperlakukan sebagai gambaran utuh tentang “apa yang terjadi” dan “apa yang diakui”.

Menurut Saud, kualitas representasi informasi dalam BAP sangat dipengaruhi oleh desain pertanyaan penyidik. Pertanyaan tidak hanya meminta informasi, tetapi juga mengarahkan bentuk jawaban, membatasi ruang narasi bebas, bahkan menyisipkan asumsi tertentu.

Dalam praktiknya, pertanyaan pembuka sering mengaitkan pemeriksaan dengan laporan polisi dan meminta kesediaan memberikan keterangan yang benar. Di bagian penutup, terdapat formula administratif yang menegaskan bahwa seluruh keterangan adalah benar dan siap ditandatangani. Secara pragmatik, struktur ini dapat mempersempit ruang koreksi setelah proses tanya jawab selesai.

Menggabungkan Linguistik Forensik dan Psikolinguistik

Penelitian ini menggunakan pendekatan linguistik forensik dan psikolinguistik kognitif. Saud menerapkan metode Directed Qualitative Content Analysis (DQCA) untuk mengodekan:

  • Jenis pertanyaan (terbuka, tertutup, sugestif, mengarahkan, konfrontatif, multi-bagian).
  • Indikator beban kognitif (misalnya permintaan detail kronologi, kuantifikasi angka, perpindahan topik).
  • Mekanisme risiko distorsi yang dirangkum dalam Distortion Risk Index (IRD).

Unit analisisnya adalah pasangan pertanyaan–jawaban (Q–A) dalam lima segmen BAP: Identitas (ID), Orientasi Peristiwa (EV), Kronologi (KR), Pembuktian (PB), dan Penutup (PN).

IRD dikembangkan sebagai alat semi-kuantitatif dengan skor 0–2 untuk sembilan mekanisme distorsi, seperti prasangka (presupposition), pelabelan dini sebagai “barang bukti”, penjangkaran waktu/angka, tekanan konfirmasi, hingga penguncian komitmen di akhir pemeriksaan.

Temuan Utama: Di Mana Risiko Tertinggi?

Dari 117 pertanyaan pada subset awal yang dianalisis, ditemukan pola sebagai berikut:

  • Segmen Kronologi (KR) didominasi pertanyaan terbuka, tetapi sering memuat banyak komponen sekaligus (waktu, tempat, pelaku, tindakan, objek).
  • Segmen Pembuktian (PB) banyak memuat kuantifikasi dan pelabelan “barang bukti”.
  • Segmen Penutup (PN) hampir seluruhnya berisi pertanyaan konfirmasi administratif.

Secara statistik awal, segmen Penutup (PN) memiliki rata-rata IRD tertinggi, disusul segmen Pembuktian (PB) dan Kronologi (KR). Artinya, risiko distorsi paling terkonsentrasi pada fase verifikasi dan penguncian dokumen.

Saud mengidentifikasi empat pola risiko dominan:

  • Narasi pihak lain disajikan terlebih dahulu, lalu diminta konfirmasi.
  • Pelabelan awal sebagai “barang bukti” sebelum verifikasi netral.
  • Penjangkaran tanggal, waktu, atau angka tertentu.
  • Penutup yang menegaskan seluruh keterangan benar dan siap ditandatangani.

Dalam perspektif psikologi memori, variasi redaksi pertanyaan dapat memengaruhi cara seseorang mengingat dan merekonstruksi peristiwa. Ketika pertanyaan memuat detail spesifik yang belum disebutkan responden, detail tersebut bisa menjadi “jangkar kognitif” yang mengarahkan jawaban.

Beban Kognitif dan Kualitas Jawaban

Penelitian ini juga menyoroti keterbatasan memori kerja manusia. Pertanyaan yang panjang, berlapis, atau memuat banyak elemen sekaligus meningkatkan beban kognitif. Akibatnya, jawaban berisiko menjadi parsial, tidak stabil, atau mengikuti struktur yang ditawarkan penanya.

Di segmen Kronologi, responden sering diminta mengintegrasikan waktu, lokasi, pelaku, dan tindakan dalam satu jawaban. Di segmen Pembuktian, mereka harus mengingat angka, jumlah, atau detail administratif. Kedua kondisi ini meningkatkan beban pemrosesan mental.

Saud menegaskan bahwa IRD bukan alat untuk menilai benar atau salahnya keterangan, melainkan indikator risiko linguistik-kognitif dalam desain pertanyaan.

Implikasi bagi Praktik Penyidikan

Temuan ini memiliki implikasi langsung bagi aparat penegak hukum, pembuat kebijakan, dan lembaga pendidikan hukum.

Beberapa rekomendasi praktis yang diajukan antara lain:

  • Mengutamakan pertanyaan terbuka pada tahap awal kronologi.
  • Menerapkan prinsip “satu pertanyaan–satu tugas kognitif”.
  • Memisahkan fase eksplorasi narasi dari fase verifikasi.
  • Menghindari pelabelan dini sebagai “barang bukti” sebelum klarifikasi netral.
  • Memberikan ruang eksplisit untuk koreksi sebelum penandatanganan.

Pendekatan ini sejalan dengan standar wawancara investigatif berbasis sains yang menekankan elicitation (penggalian narasi) sebelum konfirmasi.

Profil Penulis

Jefriyanto Saud adalah akademisi di Universitas Negeri Gorontalo dengan fokus keilmuan pada linguistik forensik, analisis wacana institusional, dan psikolinguistik kognitif. Ia meneliti hubungan antara bahasa, kekuasaan institusional, dan kualitas representasi informasi dalam proses hukum.

Sumber Penelitian

Judul: Question Design and Risk of Distortion of Information in the Examination Report (BAP): A Forensic Linguistic–Psycholinguistic Analysis Based on the Distortion Risk Index
Penulis: Jefriyanto Saud
Jurnal: Formosa Journal of Sustainable Research
Tahun: 2026
Volume: 5(1), hlm. 15–34

Studi ini membuka diskusi penting tentang bagaimana bahasa dalam dokumen hukum tidak hanya mencatat fakta, tetapi juga berpotensi membentuknya.

Posting Komentar

0 Komentar