Pengabdian yang dilakukan oleh M. Maria Sudarwani, Sri Pare Eni, Ktut Silvanita Mangani, Setiyadi, Kefin Grardiyan S.D. Siga, dan Friska Grezlie Kase dari Universitas Kristen Indonesia menyoroti bahwa Keterbatasan fasilitas pertemuan di kawasan tersebut menjadi latar belakang utama pengembangan desain gedung serbaguna.
Kawasan
Bersejarah yang Terus Berkembang
Lasem
dikenal sebagai kota pesisir dengan sejarah panjang interaksi budaya Tionghoa
dan Jawa. Klenteng Tjoe An Kiong berdiri di Desa Soditan, kawasan strategis
yang dilalui jalur Pantura dan memiliki aktivitas perdagangan serta jasa yang
cukup tinggi. Menurut pengelola klenteng, kawasan ini telah mengalami renovasi
sejak abad ke-19 akibat banjir, namun bangunan utama tetap dipertahankan hingga
kini.
Tradisi budaya seperti perayaan ulang tahun klenteng yang diisi pertunjukan wayang, barongsai, dan gamelan masih berlangsung hingga sekarang. Kondisi ini menegaskan pentingnya fasilitas pendukung yang mampu menampung kegiatan masyarakat tanpa merusak nilai sejarah kawasan.
Pendekatan
Pengabdian Masyarakat Berbasis Arsitektur
Program
ini merupakan kegiatan pengabdian masyarakat oleh tim Arsitektur Universitas
Kristen Indonesia. Kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan:
- Persiapan dan koordinasi
dengan pengelola klenteng dan masyarakat
- Observasi lapangan
melalui survei lokasi, wawancara, dan dokumentasi
- Perancangan desain
serta presentasi kepada pemangku kepentingan untuk mendapatkan masukan
Pendekatan
partisipatif ini memastikan desain sesuai kebutuhan masyarakat sekaligus
menjaga nilai historis kawasan.
Hasil
Utama: Desain Gedung Serbaguna Fleksibel dan Kontekstual
Kegiatan
menghasilkan desain arsitektur gedung serbaguna yang dirancang menyatu dengan
lingkungan heritage. Output program tidak hanya berupa gambar desain, tetapi
juga model 3D dan rencana anggaran biaya untuk mendukung realisasi pembangunan.
Beberapa
prinsip utama desain meliputi:
- Fleksibilitas ruang untuk berbagai kegiatan.
- Kenyamanan pengguna dan efisiensi ruang.
- Material yang tahan lama dan estetis.
- Pencahayaan dan ventilasi alami.
- Aksesibilitas bagi semua pengguna.
Manfaat bagi Masyarakat dan Pelestarian Budaya
Desain gedung serbaguna ini membawa dampak luas:
Bagi masyarakat Lasem
- Tersedia ruang untuk pernikahan,
rapat, pameran, dan kegiatan sosial
- Meningkatkan interaksi sosial dan
ekonomi lokal
Bagi
pelestarian budaya
- Aktivitas tambahan tidak lagi
dilakukan di area klenteng utama
- Nilai sejarah bangunan tetap terjaga
Bagi
dunia pendidikan
Menjadi contoh kolaborasi kampus dan
masyarakat dalam pembangunan berkelanjutan
Tim pengabdian menegaskan bahwa kolaborasi universitas dan masyarakat dapat menghasilkan solusi arsitektur yang kontekstual, berkelanjutan, dan berdampak nyata.
Profil
Singkat Penulis
M.
Maria Sudarwani Dosen Arsitektur, Universitas Kristen
Indonesia,
bidang keahlian: perancangan arsitektur dan pelestarian kawasan.
Sri Pare Eni Akademisi Arsitektur, Universitas Kristen Indonesia.
Ktut Silvanita Mangani Akademisi Arsitektur, Universitas Kristen Indonesia.
Setiyadi Akademisi Arsitektur, Universitas Kristen Indonesia.
Kefin Grardiyan S.D. Siga Akademisi Arsitektur, Universitas Kristen Indonesia.
Friska Grezlie Kase Akademisi Arsitektur, Universitas Kristen
Indonesia.
Sumber
Penelitian
M.
Maria Sudarwani, Sri Pare Eni, Ktut Silvanita Mangani, Setiyadi, Kefin
Grardiyan S.D. Siga, Friska Grezlie Kase. Design of A Multipurpose Building
in Tjoe Ann Kiong Temple of Lasem City, Rembang Regency, Central Java. Asian
Journal of Community Services, Vol. 5 No. 2, hlm
103-112. 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajcs.v5i2.5
URL: https://journalajcs.my.id/index.php/ajcs

0 Komentar