Bahasa Mengungkap Trauma Sekolah: Studi STBA Prayoga Soroti Peran Kekuasaan dalam Narasi Alumni

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Padang - Penelitian terbaru oleh Melania Priska Mendrofa dari Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Prayoga yang dipublikasikan pada 2026 mengungkap bagaimana pengalaman traumatis di sekolah tetap hidup dalam ingatan alumni melalui cara mereka bercerita di media daring. Studi ini penting karena menunjukkan bahwa bahasa tidak sekadar alat komunikasi, tetapi juga cermin relasi kekuasaan dan dampak psikologis jangka panjang dalam lingkungan pendidikan. 

Penelitian tersebut menganalisis narasi pribadi alumni yang membagikan pengalaman bullying di platform Quora. Fokus utamanya adalah bagaimana pengalaman traumatis direpresentasikan melalui bahasa, serta bagaimana struktur cerita mengungkap posisi seseorang sebagai korban, pelaku, atau pihak yang tidak berdaya dalam relasi sosial di sekolah. 

Bullying Sekolah dan Dampaknya yang Bertahan Lama

Berbagai laporan menunjukkan bahwa kekerasan di sekolah tidak hanya terjadi antar siswa, tetapi juga melibatkan guru. Dalam beberapa kasus, guru memilih diam saat bullying terjadi, bahkan ada yang menggunakan otoritasnya untuk mempermalukan siswa. Pengalaman seperti ini sering tidak berhenti setelah siswa lulus, melainkan terus membekas sebagai luka psikologis jangka panjang. 

Sejumlah penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa bullying berdampak pada kesehatan mental, perkembangan emosi, dan perilaku siswa. Namun studi Mendrofa memperluas pemahaman dengan menunjukkan bahwa trauma juga dapat dilacak melalui bahasa yang digunakan korban ketika menceritakan pengalaman mereka bertahun-tahun kemudian. 

Metode: Membaca Trauma Melalui Cerita Online

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis analisis naratif. Data diambil dari dua cerita di Quora: satu tentang pengalaman traumatis dengan guru, dan satu lagi tentang bullying oleh teman atau senior.

Analisis dilakukan melalui:

  • Pendekatan linguistik fungsional sistemik, untuk melihat bagaimana pengalaman digambarkan dalam kalimat
  • Analisis wacana kritis, untuk menelusuri relasi kekuasaan dalam cerita
  • Analisis tematik, guna menemukan pola makna dan pengalaman sosial

Metode ini memungkinkan peneliti melihat bukan hanya apa yang terjadi, tetapi bagaimana korban memahami dan menafsirkan pengalaman tersebut melalui bahasa. 

Temuan Utama: Bahasa Menyimpan Luka Psikologis

Penelitian menemukan bahwa trauma muncul dalam narasi melalui beberapa bentuk bahasa utama:

1. Tindakan fisik (material process)
Cerita menunjukkan adanya ejekan, pemaksaan, atau tindakan mempermalukan yang menggambarkan interaksi sosial nyata di sekolah.
2. Proses mental
Korban sering mengekspresikan ingatan yang tidak hilang, rasa takut, atau keputusan menyimpan pengalaman sendiri. Hal ini menunjukkan trauma yang bertahan lama.
3. Reaksi perilaku
Narasi memuat tangisan, tertawa mengejek, atau perilaku sosial lain yang menandai tekanan emosional.
4. Ujaran verbal
Kata-kata kasar dari guru atau teman menjadi bagian paling kuat dalam ingatan korban, bahkan bertahun-tahun kemudian.

Temuan ini menunjukkan bahwa trauma tidak hanya terkait kejadian, tetapi juga cara pengalaman itu diingat, disusun, dan diceritakan kembali. 

Relasi Kekuasaan: Guru, Senior, dan Posisi Korban

Studi ini menegaskan bahwa relasi kekuasaan di sekolah tampak jelas dalam narasi bahasa.

  • Guru dapat menggunakan otoritas simbolik untuk mempermalukan siswa di depan kelas
  • Senior atau kelompok dominan memanfaatkan posisi sosial untuk mengontrol atau menekan siswa lain
  • Perbedaan cara bicara atau identitas sosial bisa menjadi alasan seseorang menjadi target bullying

Dalam narasi yang dianalisis, pelaku selalu digambarkan aktif, sementara korban berada dalam posisi pasif dan menerima dampak psikologis jangka panjang. 

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ketimpangan kekuasaan sering dianggap normal dalam lingkungan sekolah, sehingga kekerasan verbal atau simbolik tidak selalu disadari sebagai bentuk kekerasan.

Dampak dan Implikasi bagi Dunia Pendidikan

Hasil penelitian ini membawa beberapa implikasi penting:

Bagi sekolah
Penggunaan bahasa oleh guru dan siswa harus lebih sensitif, karena kata-kata dapat membentuk pengalaman traumatis yang bertahan lama.

Bagi kebijakan pendidikan
Perlu adanya pelatihan komunikasi empatik bagi tenaga pendidik serta sistem pelaporan bullying yang lebih responsif.

Bagi masyarakat
Media sosial dapat menjadi ruang penting untuk memahami pengalaman korban dan mengungkap pola kekerasan yang sebelumnya tersembunyi.

Mendrofa menekankan bahwa bahasa tidak hanya menggambarkan realitas sosial, tetapi juga berperan membentuknya. Oleh karena itu, perubahan budaya komunikasi di sekolah menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih adil dan aman.

Profil Penulis

Melania Priska Mendrofa
Dosen di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Prayoga.
Bidang keahlian: linguistik, analisis wacana, dan kajian bahasa dalam konteks sosial dan pendidikan.

Sumber Penelitian

Mendrofa, Melania Priska. Language, Trauma, and Power Relations in Narratives of Bullying in Online Media. Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 2, 2026.

Posting Komentar

0 Komentar