Penelitian tersebut menganalisis narasi pribadi alumni yang membagikan pengalaman bullying di platform Quora. Fokus utamanya adalah bagaimana pengalaman traumatis direpresentasikan melalui bahasa, serta bagaimana struktur cerita mengungkap posisi seseorang sebagai korban, pelaku, atau pihak yang tidak berdaya dalam relasi sosial di sekolah.
Bullying Sekolah dan Dampaknya yang Bertahan Lama
Berbagai laporan menunjukkan bahwa kekerasan di sekolah tidak hanya terjadi antar siswa, tetapi juga melibatkan guru. Dalam beberapa kasus, guru memilih diam saat bullying terjadi, bahkan ada yang menggunakan otoritasnya untuk mempermalukan siswa. Pengalaman seperti ini sering tidak berhenti setelah siswa lulus, melainkan terus membekas sebagai luka psikologis jangka panjang.
Sejumlah penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa bullying berdampak pada kesehatan mental, perkembangan emosi, dan perilaku siswa. Namun studi Mendrofa memperluas pemahaman dengan menunjukkan bahwa trauma juga dapat dilacak melalui bahasa yang digunakan korban ketika menceritakan pengalaman mereka bertahun-tahun kemudian.
Metode: Membaca Trauma Melalui Cerita Online
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis analisis naratif. Data diambil dari dua cerita di Quora: satu tentang pengalaman traumatis dengan guru, dan satu lagi tentang bullying oleh teman atau senior.
Analisis dilakukan melalui:
- Pendekatan linguistik fungsional sistemik, untuk melihat bagaimana pengalaman digambarkan dalam kalimat
- Analisis wacana kritis, untuk menelusuri relasi kekuasaan dalam cerita
- Analisis tematik, guna menemukan pola makna dan pengalaman sosial
Metode ini memungkinkan peneliti melihat bukan hanya apa yang terjadi, tetapi bagaimana korban memahami dan menafsirkan pengalaman tersebut melalui bahasa.
Temuan Utama: Bahasa Menyimpan Luka Psikologis
Penelitian menemukan bahwa trauma muncul dalam narasi melalui beberapa bentuk bahasa utama:
Temuan ini menunjukkan bahwa trauma tidak hanya terkait kejadian, tetapi juga cara pengalaman itu diingat, disusun, dan diceritakan kembali.
Relasi Kekuasaan: Guru, Senior, dan Posisi Korban
Studi ini menegaskan bahwa relasi kekuasaan di sekolah tampak jelas dalam narasi bahasa.
- Guru dapat menggunakan otoritas simbolik untuk mempermalukan siswa di depan kelas
- Senior atau kelompok dominan memanfaatkan posisi sosial untuk mengontrol atau menekan siswa lain
- Perbedaan cara bicara atau identitas sosial bisa menjadi alasan seseorang menjadi target bullying
Dalam narasi yang dianalisis, pelaku selalu digambarkan aktif, sementara korban berada dalam posisi pasif dan menerima dampak psikologis jangka panjang.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ketimpangan kekuasaan sering dianggap normal dalam lingkungan sekolah, sehingga kekerasan verbal atau simbolik tidak selalu disadari sebagai bentuk kekerasan.
Dampak dan Implikasi bagi Dunia Pendidikan
Hasil penelitian ini membawa beberapa implikasi penting:
Mendrofa menekankan bahwa bahasa tidak hanya menggambarkan realitas sosial, tetapi juga berperan membentuknya. Oleh karena itu, perubahan budaya komunikasi di sekolah menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih adil dan aman.

0 Komentar