Roy Seleky menyoroti bahwa meskipun ada kemajuan dalam beberapa indikator, perusahaan masih menghadapi tantangan besar untuk mencapai profitabilitas dan solvabilitas jangka panjang yang stabil. Hasil ini menjadi perhatian bagi manajemen, investor, dan pemerintah dalam menilai masa depan maskapai pelat merah tersebut.
Tekanan Berat Pasca Pandemi
Pandemi COVID-19 menjadi titik terendah bagi Garuda Indonesia. Pada 2020, perusahaan mencatat kerugian bersih sebesar USD 2,47 miliar, yang kemudian meningkat menjadi USD 4,17 miliar pada 2021. Kerugian besar ini mencerminkan penurunan tajam aktivitas penerbangan global serta tingginya beban operasional.
Kondisi aset perusahaan juga mengalami penurunan signifikan. Total aset turun dari USD 10,78 miliar pada 2020 menjadi USD 6,61 miliar pada 2024. Selain itu, ekuitas perusahaan tetap negatif selama lima tahun berturut-turut, meskipun jumlah defisit berangsur membaik pada akhir periode penelitian.
Pendapatan perusahaan sebenarnya mulai pulih setelah pandemi. Pada 2022, Garuda Indonesia berhasil membukukan laba bersih sebesar USD 3,74 miliar, berbalik dari kerugian besar sebelumnya. Namun, kondisi ini tidak bertahan lama. Pada 2024, perusahaan kembali mencatat kerugian meskipun pendapatan meningkat menjadi USD 3,41 miliar.
Analisis Berdasarkan Laporan Keuangan Resmi
Roy Seleky melakukan analisis menggunakan data laporan keuangan Garuda Indonesia yang dipublikasikan secara resmi. Ia mengevaluasi empat indikator utama kesehatan keuangan perusahaan:
- Arus kas
- Likuiditas
- Profitabilitas
- Solvabilitas
Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif, yaitu mengolah data angka dari laporan keuangan untuk melihat tren dan kondisi keuangan perusahaan selama lima tahun.
Pendekatan ini umum digunakan oleh investor dan analis untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas, membayar utang, dan memperoleh keuntungan.
Arus Kas Operasional Menunjukkan Pemulihan
Salah satu perkembangan paling positif terlihat pada arus kas operasional. Rasio arus kas operasi meningkat tajam dari 0,026 pada 2020 menjadi 0,499 pada 2024.
Artinya, kemampuan perusahaan menghasilkan kas dari kegiatan utama semakin baik.
Selain itu:
- Kas operasional meningkat lebih dari lima kali lipat selama periode penelitian
- Kemampuan membayar kewajiban jangka pendek dengan kas semakin kuat
- Efisiensi operasional menunjukkan perbaikan bertahap
Roy Seleky menjelaskan bahwa tren ini menunjukkan Garuda Indonesia mulai pulih dari tekanan pandemi dan mampu memperkuat likuiditas operasionalnya.
Namun, ia juga menekankan bahwa kemampuan kas perusahaan masih belum cukup untuk menutup seluruh kewajiban jangka panjang.
Likuiditas Sangat Tinggi, Tapi Tidak Efisien
Penelitian ini menemukan bahwa likuiditas Garuda Indonesia tergolong sangat tinggi.
Beberapa indikator utama:
Current ratio mencapai 56,11 pada 2023
Quick ratio mencapai 46,13 pada tahun yang sama
Secara umum, rasio likuiditas sehat berada di kisaran 1 hingga 2. Rasio yang terlalu tinggi justru menunjukkan bahwa banyak aset lancar tidak digunakan secara produktif.
Ini berarti Garuda Indonesia memiliki cukup dana untuk membayar utang jangka pendek, tetapi pengelolaan aset tersebut belum optimal untuk menghasilkan keuntungan.
Roy Seleky menilai kondisi ini memerlukan evaluasi manajemen agar dana yang tersedia dapat digunakan secara lebih produktif.
Profitabilitas Tidak Stabil
Masalah utama Garuda Indonesia terletak pada profitabilitas yang tidak konsisten.
Beberapa indikator menunjukkan fluktuasi ekstrem:
- Return on Assets: dari minus 58 persen pada 2021 menjadi positif 60 persen pada 2022, lalu kembali negatif pada 2024
- Net Profit Margin: dari minus 312 persen pada 2021 menjadi positif 178 persen pada 2022, lalu kembali negatif
Fluktuasi ini menunjukkan bahwa perusahaan belum mampu mempertahankan keuntungan secara konsisten.
Menurut Roy Seleky, kondisi ini menandakan bahwa perusahaan masih membutuhkan strategi jangka panjang untuk mencapai stabilitas keuntungan.
Utang Masih Menjadi Beban Utama
Masalah paling serius ditemukan pada solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan membayar utang jangka panjang.
Rasio utang Garuda Indonesia selalu berada di atas angka 1 selama periode penelitian.
Artinya:
- Total utang lebih besar daripada total aset
- Perusahaan berada dalam kondisi insolven
- Risiko keuangan masih tinggi
Rasio tertinggi terjadi pada 2021 sebesar 1,85, dan meskipun turun menjadi 1,20 pada 2024, kondisi ini masih belum sehat.
Roy Seleky menyatakan bahwa perusahaan masih membutuhkan restrukturisasi keuangan untuk memperbaiki struktur modalnya.
Dampak bagi Investor dan Masa Depan Garuda
Temuan penelitian ini memberikan beberapa pesan penting:
Pertama, Garuda Indonesia menunjukkan tanda pemulihan operasional, terutama dalam menghasilkan kas.
Kedua, perusahaan masih menghadapi risiko besar karena struktur utang yang tinggi.
Ketiga, stabilitas keuntungan belum tercapai, sehingga masa depan perusahaan masih bergantung pada strategi manajemen.
Roy Seleky dari Universitas Pattimura menegaskan bahwa perusahaan perlu:
- meningkatkan efisiensi operasional
- mengelola aset secara produktif
- memperbaiki struktur modal
- mengurangi ketergantungan pada utang
Langkah-langkah ini penting untuk memastikan keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang.
Penting bagi Ekonomi Nasional
Sebagai maskapai nasional, kesehatan keuangan Garuda Indonesia tidak hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga pada sektor transportasi, pariwisata, dan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.
Perbaikan kondisi keuangan perusahaan dapat memperkuat konektivitas nasional dan meningkatkan kepercayaan investor.
Sebaliknya, kegagalan memperbaiki struktur keuangan dapat memperlambat pemulihan industri penerbangan.
Profil Penulis
Roy Seleky adalah akademisi dan peneliti di Universitas Pattimura, Indonesia. Ia memiliki keahlian di bidang manajemen keuangan, analisis laporan keuangan, dan kinerja perusahaan. Fokus penelitiannya mencakup evaluasi kesehatan keuangan perusahaan menggunakan rasio keuangan dan analisis arus kas.
Sumber Penelitian
DOI: https://doi.org/10.59890/ijmbi.v4i1.315
0 Komentar